Yang Selalu Menunggumu


Telah engkau khianati Kesunyian
Berpaling pada ramai dan tenar
Sekarang maka rasakan
Pedihnya kanti-kanti semu
yang pandangi
tanpa perhati
yang dengar
tanpa simak
yang berkata
tanpa bercakap
Sampai payah ragamu
Sampai koyak jiwamu
Biar engkau kembali
dan menemukan
yang selalu menunggumu
adalah Kesunyian
yang sayangnya terlanjur
membusuk sudah menjadi
Kesepian
.
Iklan

Kuyup

Melihat aku yang kuyup oleh air hujan, kau bertanya dengan nada penuh kelakar, “Ke mana payung perak besar andalanmu itu?”

“Memang dulu aku musuhi hujan,” jawabku, “tapi sejak aku nyatakan bahwa aku mencintainya, bagaimana mungkin aku menedengi diriku dari tiap nulirnya?”

Kau tersenyum. Artinya entah. Terserah. Hanya ku harap kau tidak lupa, bahwa jauh sebelum penyair, aku adalah seorang pecinta. Maka ketika aku bilang ‘cinta’, itu benar adalah cinta. Tak peduli syair macam apa yang aku gubah.

Mandi Rinai Malam-Malam


Malam malang
Tanpa najam
Sabak rembang
Hujan hujam

Payung tinggal
Ponco tanggal
Cuma sendal
Kain tebal

Rinai merayu
Aku menyaru
Tiada ragu
Tiada malu

Basah kuyup
belum cukup
Bibir kuncup
belum tutup

Persetan mala!
Bukannya gila
Otak toh nyala
Akal pun nyata

Cuma ku hendak belajar
akan cinta tanpa makar

Tuk cintakan cinta
dan sebenar rasa
Tanpa tedeng aling
Tanpa pun berpaling

Lupa Bianglala

Deru bayu mengarak mendung
Rintik-rintik menghujam lindung
Gemuruh turut senandung
Manusia menari linglung

Tempias mengetuk manja
Dari depan kaca jendela
Bulirnya gemarkan dusta
Akan hayati penuh durja

Aku termakan buai dusta
Dari belakang kaca jendela
Hidup nista tanpa makna
Asa pupus hilang ujungnya

Hampir sukma melayang
Raga kaku terbentang
Tercerabut tangan seorang
Asa pupus telah lekang

Untung surya lekas semburat
Menepis mega mendung keparat
Menerpa tempias makin sekarat
Merekah pelangi di langit barat

Aku malu pada aku
yang pasrah dalam ragu
Hendak serah tanpa tunggu
Pupuskan asa pada Rabb-ku

Aku lupa bahwa Dia
hanya lukiskan bianglala
di antara
kelebat badai dan terpa surya