Kuyup

Melihat aku yang kuyup oleh air hujan, kau bertanya dengan nada penuh kelakar, “Ke mana payung perak besar andalanmu itu?”

“Memang dulu aku musuhi hujan,” jawabku, “tapi sejak aku nyatakan bahwa aku mencintainya, bagaimana mungkin aku menedengi diriku dari tiap nulirnya?”

Kau tersenyum. Artinya entah. Terserah. Hanya ku harap kau tidak lupa, bahwa jauh sebelum penyair, aku adalah seorang pecinta. Maka ketika aku bilang ‘cinta’, itu benar adalah cinta. Tak peduli syair macam apa yang aku gubah.