Dongeng Sebelum Tidur

“Wahai, Kakek, bagaimana bisa kau selalu tenang?” Si Belu-Belai, seperti biasa, bertanya paling pertama. “Tiadakah barang sebiji sawi dalam kepalamu sebuah ambisi?”

Lucu. Aku tertawa. “Banyak, Nak.”

“Gerangan, apakah itu?” Ganti si Tembam yang bertanya.

“Seperti kebanyakan orang tamak; harta, tahta dan kuasa.” Balasku.

“Bukankah sifat tamak itu buruk, wahai, Kakek?” Si Kalem tak mau kalah.

“Apakah kalian melihat aku laiknya orang yang buruk?”

Tiga pendengar setiaku bergeming. Mereka saling pandang satu sama lain, lalu bergeleng saat sadar bahwa jawaban tidak terdapat pada wajah temannya.

“Gerangan, harta apakah yang paling berharga, cincin Sulaiman ataukah anak gadis sang sultan?” Si Belu-Belai lagi-lagi bertanya.

“Gerangan, tahta manakah yang paling megah, tanah Baghdad ataukah negeri Andalusia?” Si Tembab menimpal.

“Gerangan, kuasa siapakah yang paling berdaya, seorang kalifah ataukah seorang hakim?” Si Kalem lagi-lagi tak mau kalah

Lucu. Aku tertawa. “Bagiku bukan semuanya!”

Mereka bergeming. Ketiganya saling pandang.

“Ketahuilah, Nak,” sambungku, “Harta terbaik adalah seorang sahabat yang sedia di pihakmu. Ia tak menundukkan bangsa jin untukmu sebagaimana cincin Sulaiman mampu melakukannya, tapi ia akan selalu sedia untuk menghadapi segala macam bangsa di sampingmu. Ia juga tak sesempurna  gadis idamanmu, tapi dengan kekurangan itulah kau belajar untuk bersabar dan memaafkan.”

“Ketahuilah, Nak,” lanjutku lagi, “Tahta paling megah adalah di hati sahabat yang senantiasa mendoakanmu. Seorang sahabat mungkin tak punya singgasana bertabur intan atau mutu manikam, tapi dalam hatinya akan penuh prasangka dan doa-doa yang baik untuk dirimu. Manakala ia berdoa, namamu pun turut melangit, sampai ke telinga para malaikat.”

“Ketahuilah, Nak, kuasa paling berdaya adalah menjadi seorang sahabat. Ah, masihkah perlu ku jelaskan setelah kalian mendengar tentang harta dan tahta?” Sekarang ganti aku yang terdiam. Sekedar ingin tahu, adakah pikiran mereka masih bersama ceritaku.

“Hanya itu?” Si Kalem penasaran. Wajahnya lucu.

“Baiklah,” sambungku. “Menjadi seorang sahabat tidak lantas memberikanmu hak untuk bertitah. Tidak pula untuk mendakwa. Namun, tahukah kalian siapa yang diberi kuasa oleh Allah untuk menjemput seseorang dengan iman sebesar zarrah dari kedalaman neraka?”*

“Sahabat!” Ketiganya serempak.

“Nah,” kataku. Berdiri. Berniat menyudahi kisah malam ini. “Tidurlah, Nak. Nyenyaklah dalam semayam. Bilamana esok tiba, kaislah hidup barang sesuap makna.”

Aku mengecup dahi ketiganya. Memadamkan lampu dan perlahan meninggal mereka yang larut mendawam doa menjemput tidur.

Kalau boleh langsung ku kata, sebenarnya aku tak selalu tenang, aku hanya selalu berusaha tenang. Sebab, ada aku selalu mendapat nasihat. Tahukah kamu apa itu nasihat?

Nasihat tak sebatas deret huruf dan rangkaian kata. Nasihat adalah ketika engkau mengharapkan kebaikan untuk orang lain. Nah, sekarang tinggal aku yang menyudahi kisah malam ini untuk diriku sendiri. Demi Allah yang bersumpah atas waktu, sungguh, sahabat adalah nasihat terbaik bagiku.**

P.S

*Diriwayatkan, bahwa apabila penghuni surga telah masuk kedalam surga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu didunia. Mereka bertanya tentang sahabat-sahabat mereka kepada Allah

“Yaa Rabb, kami tidak melihat saudara-saudara kami yang sewaktu di dunia shalat bersama kami, puasa bersama kami,….”

Maka Allah berfirman: “Pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabat-sahabatmu yang di hatinya ada iman walaupun hanya sebesar zarrah” (Riwayat Ibnul Mubarak dalam kitab “az-Zuhd”)

**Hanya tentang aku–mungkin juga yang lai–memaknai Q.S Al-Ashr. Hai, kawan, tidakkah engkau sepakat bahwa surat ini menceritakan bagaimana cara mencinta karena Allah? Ya, itu; dengan nasihat-menasihati, betapapun sakitnya, betapapun sulitnya, yang diingankan seorang sahabat hanyalah kebaikan untuk kekasihnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s