Topeng

Karibku pernah bilang bahwa kau bisa ukur kepedihan seseorang dari dua pertanda pada wajahnya. Pertama; mata dengan sorot dan air yang mengalir dari celah-celahnya. Kedua; dari mulut dengan senyum dan diamnya.

Mata akan sangat enggan untuk berdusta. Oleh karena itu, ia akan mengelak dengan menutup matanya; tidur–atau pura² tidur. Dengan demikian, sorot matanya terlindung, pun air matanya terbendung. Bagian mulut lebih sulit. Kau pasti lumrah bahwa lidah tiada bertulang; mampu membelokkan kata² ke arah manapun sekehendaknya. Senyum juga bukan pertanda yang mudah ditafsir.

Maka, untuk mendapat tolak ukur yang pasti, kau bisa padukan dua pertanda itu. Mulanya, ajaklah ia berbincang. Ia masih akan diam, tetapi jaminan besar ia tak akan (pura-pura) tertidur. Saat itu tatap matanya, tangkaplah sorot matanya. Terus lanjutkan sampai mulutnya perlahan terbuka, lidahnya mengecap kata. Awalnya, kau akan mendengar dusta–hampir bisa dipastikan. Namun jika ia sedia untuk terus bicara, meski sedikit, perhatikanlah; lidahnya mulai petah dan senyumnya akan luruh. Lalu, jika kau temui titik air pada sudut matanya, ketahuilah bahwa ia telah menyerah.

Kau boleh percaya, boleh tidak. Toh itu cuma kata karibku saja. Tetap saja, berhasil atau tidak, tak ada salahnya juga kau coba. Terlebih kalau kau macam manusia yang suka menguak topeng manusia lain.

Oh, kau tahu kapan ia menjelaskan perihal ini padaku? Sekian waktu sejak ia menandai jatuhnya air mataku. Sialnya, sejak itu ia tak juga pergi dari sini. Dari hatiku, dari kenangku.

Sial. Sial. Sial.
Topeng. Mana topengku?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s