Kursi Kosong Di Sebelahku


Pria itu sudah berdiri di sana sejak 60 menit yang lalu, tapi tak sekalipun ia melirik kursi kosong di sebelahku. Pria berjaket kulit di sebelahnya lebih lama lagi, lebih 30 menit dari pria sebelumnya, dan ia juga terlihat enggan menempati kursi kosong di sebelahku. Tak hanya hari ini, kemarin juga. Saat itu aku sedang menumpang sebuah bus menuju kantorku di pusat kota. Seperti setiap pagi di kota ini, bus akan penuh sesak saat itu. Aneh, saat itu tak juga ada yang mau duduk di sebelahku. Padahal kursi itu nyata-nyata kosong. Tak cuma kemarin, hari-hari yang lalu juga. Tak hanya di sini, tetapi juga tempat-tempat publik lainnya. Aku mulai cemas. Apakah wajahku begitu buruknya bagi mereka?

Agaknya tidak demikian, buktinya, pria di kursi sebelah sisiku yang lain terlihat biasa saja. Lagipula aku mengenakan penutup wajah sekarang.

Ya, ada bekas jahitan panjang melintang di pipi kiriku akbiat kecelakaan lalu lintas yang ku alami 3 bulan lalu. Rasa sakitnya sudah tak seberapa, tetapi bekas luka itu masih tetap ada. Hari ini aku kembali mengisi antrean di rumah sakit langgananku untuk check-up kali terakhir.

“Tuan Arman,” suara resepsionis memecah lamunanku. Aku memenuhi panggilan itu.

***

“Check-up rutin ya, Tuan Arman?” Bukan Dokter Listian yang menyambutku di ruang praktek itu, melainkan dokter wanita berparas cantik.

“Ya. Terakhir,” jawabku.

“Dokter Listian sedang tak enak badan,” celetuk dokter berambut keriting itu, menyadari gelagatku yang belum terbiasa, “beliau juga sudah cerita tentang Anda. Termasuk check-up rutinan Anda hari ini. Oh, perkenalkan, saya Nova.”

Bibirnya melengkung, diapit oleh dua cekungan di sudut pipinya. Ah, ku rasa pandanganku tertawan pula di antara dua cekungan itu.

Lalu pemeriksaan berjalan dengan biasanya–kecuali keadaan jantungku yang berdegup lebih kencang. Sayangnya, ini check-up terakhir. Ku harap akan ada kesempatan lain untuk menemuinya. Oh, sebelum itu seharusnya aku berharap ia masih lajang. Ya, semoga.

“Baiklah,” katanya sambil berdiri. Aku juga turut berdiri, “Ini resep terakhir yang harus Anda minum. Jangan lupa dihabiskan ya!”

“Tentu, Dok.” Aku menyahut saja tanpa benar-benar berpikir. Pandanganku terpaku pada matanya, terjebak dalam bola mata bening yang semakin mendekat ke arahku. Semakin dekat dan dekat sampai jarak kami hanya tinggal dua jengkal.

“Seperti cerita Dokter Tian,” ia berbisik padaku, “Anda punya istri yang sangat cantik.”

Dokter jelita itu berlalu, ia meraih lemari es di belakangku untuk menegak sebotol air mineral dingin. Namun aku masih bergeming di tempatku, terpaku. Perasaanku campur aduk antara bingung, sedih dan takut.

“Istri?” Aku bertanya-tanya dalam hati.

Ya. Aku ingat. Ia Lastri. Gadis yatim piatu yang ku nikahi 6 bulan lalu. Aku ingat. Lastri juga ada di sana. Di hari kecelakaan itu terjadi. Ia duduk tepat di sebelahku, di samping kursi kemudi. Kami sedang berbincang seru sebelum sebuah truk menghantam kami dari arah depan. Aku ingat. Aku ingat darah mengucur deras dari kepalanya. Mata Lastri yang indah tak akan lagi pernah berkedip.

Pandanganku perlahan redup, persis seperti hari nahas itu. Pandanganku benar-benar gelap sesaat setelah ku lihat Dokter Nova menyuguhkan sebotol air mineral pada udara kosong. Ke kursi kosong di sebelahku!

Lalu semuanya gelap. Gelap.

“Aku berjanji, aku akan selalu setia di sisimu!” Janji itu terngiang-ngiang.

Iklan

3 thoughts on “Kursi Kosong Di Sebelahku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s