Lupa Bianglala

Deru bayu mengarak mendung
Rintik-rintik menghujam lindung
Gemuruh turut senandung
Manusia menari linglung

Tempias mengetuk manja
Dari depan kaca jendela
Bulirnya gemarkan dusta
Akan hayati penuh durja

Aku termakan buai dusta
Dari belakang kaca jendela
Hidup nista tanpa makna
Asa pupus hilang ujungnya

Hampir sukma melayang
Raga kaku terbentang
Tercerabut tangan seorang
Asa pupus telah lekang

Untung surya lekas semburat
Menepis mega mendung keparat
Menerpa tempias makin sekarat
Merekah pelangi di langit barat

Aku malu pada aku
yang pasrah dalam ragu
Hendak serah tanpa tunggu
Pupuskan asa pada Rabb-ku

Aku lupa bahwa Dia
hanya lukiskan bianglala
di antara
kelebat badai dan terpa surya