Seperti Mencintai Batu


Kurang 4 jam lebih sekian menit sebelum waktu Subuh ditandai dengan gema adzan. Itu artinya 8 jam kurang sekian menit sebelum Ujian Nasional hari terakhir dimulai. Mata ini masih urung terpejam. Kau tahu, bukan tentang rumus-rumus alam yang sedang mengulas balik dalam benakku, tapi kenangan tentangmu. Aku akan sangat merindukanmu. Meskipun jeda waktu kelulusan kita masih berbulan-bulan lagi. Meskipun kamu berjanji akan mengunjungiku setahun sekali selepas keberangkatanmu ke negeri seberang. Aku tetap akan sangat merindukanmu.

Narendra Langit. Bagaimana nama itu lebih penting dari rumus-rumus yang harusnya aku pahami untuk menghadapi soal-soal ujian nanti?

Aku ingat kali pertama kita berjumpa. Di suatu senja antara pekan kedua di semester paling awal. Kamu melintas dengan kendaraan yang seharusnya terlarang bagi siswa kelas sepuluh dan sebelas—mungkin karena kamu begitu yakin tak ada guru yang bakal curiga karena badanmu yang bongsor itu. Kamu menepi.

“Butuh tumpangan?”

Aku menghala pandang. Tak ada manusia lain selain aku di tepi jalan samping sekolah ini. Ha, aku masih ingat betapa lugunya aku waktu itu; mengacung telunjuk ke wajah sendiri.

“Aku?”

“Bukan. Nenek Gayung.” Ada jeda yang ramah. “Siapa lagi?”

Aku terkekeh. Bukan karena gurauanmu, tapi karena pesona yang menyelinap lewat celah kaca helm yang telah kamu singkap. Aku bergegas menghampirimu, sebelum kamu pergi begitu saja karena mengira aku seorang pandir yang gemar bengong. Lalu hal serupa terjadi di hari berikutnya. Setiap hari, sejak hari itu hingga kemarin. Setiap hari, sampai aku mengenalmu begitu dekat. Setiap hari, dan semoga itu termasuk besok dan seterusnya.

Gerangan asa itu mungkin? Sementara esok ujian yang terakhir.

Ujian. Aku benar-benar bertekad menyudahi ulasan kenangan bertahun lalu dan menggapai catatan yang sama sekali belum ku sentuh sedari magrib.

Seperti biasa, menjemukan. Tak ada yang menarik dalam catatan ini. Hanya sederet rumus fisika yang telah ku hapal mati—walau aku belum sedia untuk mati. Tak ada penjabaran tentangmu di dalamnya. Sedikitpun tidak. Jadi ku buka kembali lembaran kenanganku.

Aku ingat pertama kali aku duduk di boncengan tunggangan kebanggaanmu itu. Kita begitu dekat. Jarak wajahku dan batang lehermu kurang dari sejengkal. Entah apakah itu pantas menurut norma. Aku menemukan punggungmu yang kokoh, berikut bau keringat bercampur aroma sebuah eau de cologne kenamaan yang mencucuk penghidu. Aroma yang cukup untuk membuatku pening, tapi aroma itulah yang bercerita tentang jati dirimu.

Kamu setahun lebih tua dariku dan menduduki kelas setingkat di atasku. Pantas saja aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Kamu sangat menggemari olahraga bernama basket—cukup menjelaskan bau keringat campur-adukmu itu. Kamu seorang atlet andalan di sekolah kita. Tim inti tentu saja. Bukan yang tergagah, tapi kelihaianmu tak mungkin dipungkiri. Meski begitu, kamu pernah bercerita bahwa posisi kapten terlalu berat untuk kamu. Kamu orang yang bebas.

Kamu orang yang bebas. Seringkali kamu hingar bingar di lapangan, bermain lempar-tangkap bola berbahan kulit sintetis kesayanganmu, sementara teman-temanmu yang lain sedang terkantuk-kantuk di kelas. Sayangnya, kebebasan itu ternayata juga dilabeli harga. Kebebasan itu harus kamu tebus dengan status ‘tinggal kelas’. Tak banyak kata yang meluncur lewat bibirmu sejak itu.

Aku selalu ingin mendukungmu. Bukan pendukung biasa, tetapi pendukung yang bisa mendapat pengakuanmu, terutama dalam sangkut-paut dengan kegemaranmu berlaga di lapangan basket. Namun aku tak bisa serta merta masuk dalam tim cheerleaders sekolah—tidak dengan cidera permanen di siku—jadi, sebagai pencetak nilai akademik tertinggi di kelas, aku akan mengajarimu.

Hampir setiap hari aku mengajarimu. Hampir setiap hari pula kamu mengeluh. Kamu banyak berceloteh. Kamu hanya tenang saat ketiduran atau ketika kamu benar-benar paham—yang merupakan kasus langka. Menyebalkan, tapi juga menggemaskan. Lalu entah sejak kapan rasa ini merimbun, penuh sesak di dada. Aku menyukaimu. Bukan. Aku mencintaimu. Ah, aku telah menyukai banyak orang, tapi untuk mencintai, kamu adalah yang pertama.

Ah, ternyata catatan ini juga punya siratan tentangmu. Kalau ku pikir-pikir, dengan catatan inilah aku mengajarimu. Ya, benar dan di meja bundar di pojok kamar inilah kita selalu berkutat dengan rumus-rumus dan soal latihan. Di tepi meja bundar itu juga aku pernah ditikam cemburu yang teramat sangat.

“Kamu kenal Rana?”

Sebuah tanya yang mendadak. Kamu cukup tenang saat aku menjelaskan teori-teori integral. Rupanya bukan karena  kamu paham, tapi karena sosok Rana, temanku sekelas. Aku termenung sejenak. Jenak yang sangat lama.

Ah, aku tahu ke mana arahmu. Sebagai insan yang terperosok ke lubang cinta, aku paham betul betapa menggebu keinginan seorang pecinta untuk mengetahui seluk beluk yang dicinta—walau memang tak semua gebu itu bisa ruah dari hati ke lidah; seperti aku. Ah, apalah aku ini jika dibandingkan dengan Rana; sosok anggun dengan kain yang melingkup rambutnya dan menjuntai hingga ke dada. Sosok misterius yang selalu hilang di jam awal jam istirahat. Tahu-tahu orang-orang akan menjumpainya di masjid sekolah. Konon, ia juga melakukan ritual awet muda; sehari puasa, sehari tidak dan seterusnya. Tak heran parasnya begitu teduh. Apalagi perilakunya ramah, tak mudah remeh apalagi marah. Aku cemburu, tapi aku tak mungkin bisa membenci Rana yang seperti itu. Jadi ku jawab pertanyaanku dengan sejujurnya. Walau rasanya seperti ada sembilu yang malang-melintang dalam dada.

Yah, kamu orang yang bebas. Aku tak bisa menahanmu begitu saja di meja bundar ini. Ada beberapa pekan yang terlewat tanpa kita berceloteh di atas meja bundar ini. Masa-masa yang menurut kicau burung adalah masa-masa kamu terjangkit virus merah jambu—sebab Rana tentu. Namun, pada akhirnya kamu harus menyerah. Tudung Rana yang lebar itu tak hanya melindung aurat, tapi juga hati dan prinsipnya. Aku turut bersedih untukmu, walau sebenarnya aku si brengsek paling pertama yang gembira atas itu. Terdengar munafik, tapi aku benar-benar merasakan sedihmu. Sungguh.

Lagi-lagi kamu jadi pendiam saat itu. Meja bundar itu memang kembali terpakai, tapi tanpa suasana yang sama. Tak ada yang bisa ku lakukan selain mendukungmu—seperti selama ini. Aku jadi lebih memerhatikanmu sejak itu. Lebih dan lebih lagi sampai akhirnya kamu kembali—atau bahkan lebih baik. Lucunya, kamu masih tak menaruh curiga pada perhatian berlebihan itu. Aku ingin mengungkapkan perasaanku padamu, tapi aku takut. Aku takut jika hubungan kita tak akan sama lagi. Memalukan memang, aku mundur sebelum bertarung. Aku lebih memilih menjadi pengecut ketimbang pecundang. Sebab aku puas dengan kepastianmu untuk bertandang setahun sekali. Aku puas, walau sampai hari itu tiba, kau masih mengecap hambar perasaanku.

Yah, aku puas. Pada akhirnya, mencintaimu memang laksana mencintai batu. Bukan karena kamu bebal dan tak peka seperti batu. Bukan. Sederhana, seperti manusia yang mencintai batu; tak wajar. Tak wajar.

Tak wajar. Setidaknya itu kata orang.

Ya. Aku, Araldo Mannusa, lelaki yang mencintaimu, Narendra Langit.

Iklan

19 thoughts on “Seperti Mencintai Batu

      • bervariasi mah sah2 aja, tapi harus sinkron/konsisten atuh, heheh. Dari atas “temen”nya si aku ini suka sama si Rana (yang jelas2, di situ disebutin kalo si Rana adalah seorang gadis bertudung lebar) sehingga bisa diambil kesimpulan SI “temen”nya aku ini adalah seorang laki-laki dan sosok “aku” adalah seorang perempuan. eh pas di akhir,,ternyata si aku adalah laki2,,,

        haha, selamat !! anda bikin otak saya berpikir keras,,

        Suka

          • Narendra (sanskerta) = anak laki2
            Haha, kau perlu memasuki “dunia gelap” nak
            Itu nyata dan benar2 terjadi.
            Open your mind. Setelah menyelam cukup dalam dan jauh kau akan paham–atau setidaknya tahu–bahwa ssa (same sex attraction) itu layaknya kebutaan pada tuna netra, kepincangan pada tuna daksa, dsb. Entah tuna2 itu bawaan lahir atau karena kejadian semisal kecelakan.
            Bukan berarti saya mengakui LGBT. Saya menolak keras LGBT. LGBT itu tindakan nyata semisal liwath (homosexual/hubungan sex sesama jenis), mengubah kelamin tanpa kasus khusus tertentu, dll. LGBT itu ibarat tunanetra yang menghina Tuhan karena terlahir buta. Berbeda dengan penyandang SSA (yg sudah menemukan jati diri), mereka sadar ketertarikan mereka berbeda, tapi mereka sebisa mungkin menjaga perbuatannya (saya kenal banyak orang yang seperti ini, dan itu membuat saya kagum, menghayati bagaimana mereka bisa bertahan dan istiqomah) Maka bagi saya, tak masalah jika masih sebatas perasaan. Sebab, hati itu murni diserahkan pada individu dan milik Pencipta seluruhnya. Tidak bisa kita utak-atik dengan begitu jumawa dan mengutuk mereka yang punya kecenderungan seperti itu. Silahkan lawan mereka yg jelas2 melakukan zina, tapi mereka yang menjaga hati dan perbuatannya, meski dengan kecenderungan SSA yang menyiksa, seharusnya kita rangkul. Kita buat mereka percaya, mereka juga manusia yang boleh mencintai manusia lain, tapi selalu ada cinta yang lebih besar; cinta pada Tuhannya. Sehingga mereka bisa tetap bertahan. Wallahua’lam

            Suka

    • Terimakasih atas kunjungannya
      Sebenarny kalau dihayati g ngeri kok~
      Bagaimana pun, itu masalah hati
      Kita g bisa macem2, apalagi menghakimi
      Beda kasus dgn LGBT, itu tindakan fisik yang nyata dan seharusnya bisa dicegah dan dihentikan

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s