Seperti Mencintai Batu


Kurang 4 jam lebih sekian menit sebelum waktu Subuh ditandai dengan gema adzan. Itu artinya 8 jam kurang sekian menit sebelum Ujian Nasional hari terakhir dimulai. Mata ini masih urung terpejam. Kau tahu, bukan tentang rumus-rumus alam yang sedang mengulas balik dalam benakku, tapi kenangan tentangmu. Aku akan sangat merindukanmu. Meskipun jeda waktu kelulusan kita masih berbulan-bulan lagi. Meskipun kamu berjanji akan mengunjungiku setahun sekali selepas keberangkatanmu ke negeri seberang. Aku tetap akan sangat merindukanmu.

Narendra Langit. Bagaimana nama itu lebih penting dari rumus-rumus yang harusnya aku pahami untuk menghadapi soal-soal ujian nanti?

Aku ingat kali pertama kita berjumpa. Di suatu senja antara pekan kedua di semester paling awal. Kamu melintas dengan kendaraan yang seharusnya terlarang bagi siswa kelas sepuluh dan sebelas—mungkin karena kamu begitu yakin tak ada guru yang bakal curiga karena badanmu yang bongsor itu. Kamu menepi.

“Butuh tumpangan?”
Baca lebih lanjut

Iklan