Lukisan (13): Epilog

—Sebuah Epilog—

Tajuk utama media dipenuhi berita seputar penemuan kerangka manusia di sebuah villa. Berita mnjadi heboh, karena selain kerangka itu, ditemukan pula beberapa ratus gram perhiasan emas dan uang dalam jumlah yang banyak. Penemuan tersebut menjadi poin penting karena memiliki sangkut paut dengan kasus perampokan di villa itu 10 tahun yang lalu.

Kasus kembali dibuka. Kerangka itu diduga kuat adalah Kristian Karel yang tak lain adalah pembantu di keluarga itu. Pakaian yang dikenakan dan keterangan-keterangan dari sebuah jurnal usang milik korban mendukung dugaan tersebut. Sementara itu, seorang mahasiswi yang menolak untuk disebut namanya, tidak diketahui keberadaannya. Padahal mahasiswi itu adalah saksi kunci; ia yang menemukan kerangka di villa itu. Saat ini media harus bergantung pada kepolisian dan seorang dosen—yang seperti mahasiswinya, sangat sukar untuk dimintai keterangan. Hanya tinggal menunggu waktu sampai pihak berwajib menyatakan bahwa kesaksian Bram Luis sepuluh tahun lalu adalah palsu. Lalu, pihak mana yang diuntungkan?

Tak ada pihak yang diuntungkan. Nama Karel Kristian telah bersih, tapi nama tinggal nama. Pemilik nama itu sudah tak punya napas untuk menyebut namanya sendiri. Meski begitu, seseorang tahu; penemuan itu memecahkan banyak misteri—tidak semua. Jiwa-jiwa yang terkukung dalam sangkar misteri itu telah bebas, namun ada satu misteri yang belum terpecahkan. Sekarang, orang itu sedang memecahkan satu misteri itu.

***

Matahari masih condong ke timur hari itu, sama sekali belum bisa memberikan kehangatan ke ruang itu. Secangkir coklat panas menggantikan kehangatan yang Lisa idamkan. Tuan rumah yang kunjungi ini jelas tahu bahwa kulit tamunya tak biasa dibelai hawa dingin.

Ini Almere, tapi  tak ada kosakata Belanda yang terucap dalam ruang itu. Mereka bercakap dengan bahasa Indonesia yang lugas dan tegas. Anne, sang tuan rumah, tak kehilangan kemampuannya berbahasa Indonesia setelah kejadian traumatis sepuluh tahun lalu. Penderita amnesia memang tidak kehilangan kemampuan mereka berbahasa. Ingatan memang sebuah semesta lain yang masih sedikit dijelajahi umat manusia.

“Saya merasa terhormat.” Tuan rumah melanjutkan percakapan yang sempat terjeda. “Bahkan sampai sejauh ini, anda tetap megantar benda-benda itu kemari.”

“Oh, tidak. Ini adalah sebuah hutang.” Lisa mendekatkan wajahnya. “Lebih tepatnya, sebuah pilihan.“

“Anda orang yang menarik, Nona Lisa.” Anne menjeda dengan senyumnya. “Temuan anda membuat saya semakin resah.”

Lisa menanggapi dengan berdiri dan menghampiri sebuah balutan kain putih setinggi kurang dari dua meter di belakang kursinya. Lisa menyibak kain itu.

“Sebuah lukisan. Klederdracht.” Kosakata Belanda pertama dalam percakapan mereka.

Anne turut berdiri. Mengamati. “Indah. Itu saya?”

“Anda tidak mengenalnya?”

Anne menggeleng. Tak ada perubahan ekspresi.

“Ini ibu anda. Nona Maria.”

“Oh, tentu…” Anne tergagap, sedikit malu. “Ya, ini lukisan dari villa itu. Seharusnya aku menyadari siapa orang dalam kanvas itu.”

Lisa menaikkan bahunya. Ia maklum. Di kediaman ini memang tak ada pencitraan visual Tuan Bram maupun Nona Maria sejauh yang ia amati. Baguslah. Menurut Lisa, lupa adalah obat ampuh untuk ketakutan—walau bukan yang terbaik. Apalagi sejak kejadian sepuluh tahun lalu.

“Kalau begitu, Nona Anne, bagaimana dengan sebuah nama dibalik lukisan ini—kau tahu, secara  kias?”

“Entahlah!” Anne menggeleng. “Oh, ayolah Nona Lisa, bisakah anda tidak berbasa-basi? Saya sudah kepala dua, saya berhak dan harus tahu!”

Lisa tersenyum kecut. Usia mereka tak berbeda terlalu jauh, tapi ia tak pernah seyakin itu; merasa telah hidup cukup lama untuk merasakan kehidupan sehingga hanya tinggal sedikit hal-hal yang dapat membuatnya terkejut. Kecuali jika orang itu telah mengalami kejadian-kejadian sulit dalam kehidupan yang masih muda itu.

“Ya, Anne memang mengalami kehidupan yang sulit dulu—terlepas ingatannya utuh atau hanya tinggal serupa perca tentang hal itu.”

Tanggapannya berubah. Lisa kembali memaklumi Anne.

“Maaf, saya hanya ingin anda mengingatnya pelan-pelan dan utuh.”

“Jadi, siapa nama dibalik lukisan ini dan apa hubungannya dengan Mama dan Papa?”

Itu tatapan Anne yang sempat membuat Lisa bergidik di “mimpi”. Juga sekarang.

“Karel Kristian. Adakah nama itu terlintas di benak anda?”

Anne kembali menggeleng. Janggal, sebab air matanya meleleh.

“Aku tak paham. Aku tak mengenalnya, tapi kenapa ada rasa sesak di sini.” Anne kembali duduk, mengelus dadanya.

Lisa menggeleng lemah.  Anne merasa dirinya kuat, nyatanya tidak. Lisa mengetahui itu dan dengan bijak menyerahkan benda peninggalan yang kedua; jurnal pribadi milik Tian.

‘Tidak ada yang bisa membantu anda selain diri anda sendiri…” Lisa mendekati Anne. “…dan jurnal ini.”

Anne menatap mata Lisa lekat. Bulir air matanya tak lagi mengalir. Ia masih berusaha menolak ingatannya sendiri. Ingatan yang menyakitkan. Lisa paham akan hal itu. Tak ada yang mau disakiti, bahkan ketika orang itu bersumbar bahwa ia akan baik-baik saja. Seperti Anne.

“Baiklah. Saya rasa anda tak butuh cerita panjang lebar dari saya. Ingatan anda akan kembali dengan sendirinya. Jangan menolaknya. Terimalah ingatan itu. Perlahan.” Bisik Lisa penuh empati—tentu karena ia benar-benar turut mengalami malam itu.

Lisa beranjak menuju pintu. Ia tak berbalik walau isak Anne semakin keras dan tak tertahankan. Adapun rasa ingin berbaliknya lebih dikarenakan coklat panasnya yang tersisa beberapa teguk, tapi Lisa sudah mendapat momen yang ‘keren’ untuk pergi—seperti di film-film—ia tak bisa berbalik dan duduk menyeruput sisa coklat panasnya. Selebihnya, ia yakin seberat apapun beban ingatan itu, Anne akan baik-baik saja. Jurnal itu hanya menceritakan semua kenangan indah tentang Tuan Bram, Nona Maria, Katemi menurut Tian. Itu akan akan cukup mengobati rasa perih yang muncul di hati Anne karena tindakan tak terpuji ayahnya. Baiknya lagi, Anne memang tak boleh tahu sejarah kelam keluarganya yang telah lebih dulu terjadi.

Lisa menyusuri jalan beraspal yang masih beku. Sembari menahan dingin, ia melambaikan ingatannya tak jauh beberapa waktu yang lalu. Tentang kejadian di villa itu.

Papan Ouija yang ia temukan mengundang Nona Maria. Nona Maria lalu menghadirkan Lisa ke malam itu sebagai saksi hidup. Saksi untuk membebaskan Tian dari rasa bersalah sekaligus tuduhan bersalah. Tak hanya Tian mungkin, tapi juga Tuan Bram dan Katemi. Sebab Lisa tak hanya menjadi mata untuk Tian, tapi juga sebagai tempat pengakuan Tuan Bram atas kesalahan-kesalahannya dan secara tak langsung, telah menyampaikan perasaan Tuan Bram yang sebenarnya pada Katemi.

Mungkin. Hanya mungkin.

Yang lalu telah berlalu. Sekarang yang akan dilakukan Lisa adalah mencari pembeli papan Ouija yang misterius. Petunjuk pertama untuknya adalah sebuah simbol yang terukir di godam yang ditukarkan oleh pemuda bernama Soma itu; sebuah roda dengan sepuluh ruji dan bunga melati berkelopak lima di porosnya. Setelah melakukan pencarian yang lama, Lisa menemukan bahwa ukiran itu adalah lambang sebuah kelompok karawitan. Kelompok itu, yang anehnya sama sekali tak terkenal, akan menggelar pertunjukan di sebuah tempat di Belanda pada bulan yang sama dengan sekarang.

I am coming, Amsterdam!”

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s