Lukisan (13): Epilog

—Sebuah Epilog—

Tajuk utama media dipenuhi berita seputar penemuan kerangka manusia di sebuah villa. Berita mnjadi heboh, karena selain kerangka itu, ditemukan pula beberapa ratus gram perhiasan emas dan uang dalam jumlah yang banyak. Penemuan tersebut menjadi poin penting karena memiliki sangkut paut dengan kasus perampokan di villa itu 10 tahun yang lalu.

Kasus kembali dibuka. Kerangka itu diduga kuat adalah Kristian Karel yang tak lain adalah pembantu di keluarga itu. Pakaian yang dikenakan dan keterangan-keterangan dari sebuah jurnal usang milik korban mendukung dugaan tersebut. Sementara itu, seorang mahasiswi yang menolak untuk disebut namanya, tidak diketahui keberadaannya. Padahal mahasiswi itu adalah saksi kunci; ia yang menemukan kerangka di villa itu. Saat ini media harus bergantung pada kepolisian dan seorang dosen—yang seperti mahasiswinya, sangat sukar untuk dimintai keterangan. Hanya tinggal menunggu waktu sampai pihak berwajib menyatakan bahwa kesaksian Bram Luis sepuluh tahun lalu adalah palsu. Lalu, pihak mana yang diuntungkan?

Tak ada pihak yang diuntungkan. Nama Karel Kristian telah bersih, tapi nama tinggal nama. Pemilik nama itu sudah tak punya napas untuk menyebut namanya sendiri. Meski begitu, seseorang tahu; penemuan itu memecahkan banyak misteri—tidak semua. Jiwa-jiwa yang terkukung dalam sangkar misteri itu telah bebas, namun ada satu misteri yang belum terpecahkan. Sekarang, orang itu sedang memecahkan satu misteri itu.

***

Baca lebih lanjut