Lukisan (12)


Lisa menyusuri koridor itu sendirian. Ia tidak butuh dipandu. Selain karena tubuhnya sudah lebih bugar, ia merasa sudah mengenal koridor itu. Ia bahkan merasa bisa menghidu aroma lantainya; anyir. Sekali lagi ada sekilas ingatan yang memercik di benaknya.

“Deja vu?” Lisa bergumam. Ia meneruskan langkahnya menuruni tangga. “Atau bahkan sebuah clairvoyance?”

Tangga itu terlalu curam. Lisa bergidik membayangkan dirinya jatuh dari tangga itu beberapa jam sebelumnya. Ia jatuh karena tergesa membawa sesuatu yang ia temukan di gudang bawah tanah. Sebuah papan Ouija. Kenapa ia tergesa-gesa? Pasti ada yang ingin ia sampaikan, atau setidaknya, ada sesuatu yang menarik dari papan yang ia temukan itu. Sekarang ia menuju ke ruang itu sekali lagi, berharap menemukan angin yang menyingkirkan kabut di ingatannya.

“Hei, Lisa!” Bu Lin tersentak menyadari kehadiran Lisa. “Apa yang ku katakan tentang istirahat, hah?”

“Ayolah, Bu. Saya baik-baik saja. Lagipula masih banyak pekerjaan, bukan?”

Bu Lin menggaruk kepalanya dengan pangkal telapak tangan. Telapaknya kotor, berdebu, karena dipakai untuk memindahkan barang-barang antik yang terlalu lama berdiam di gudang itu.

“Tidak. Tinggal sedikit. Hanya tinggal lukisan yang terakhir kali kau amati dan peti ‘harta karun’ yang kau temukan.”

“Ah—peti itu. Di mana ia, sekaligus isinya—Ouija itu?”

“Nah! Maka dari itu kau ku minta istirahat. Sudah ku duga kau kemari pasti menginginkan benda-benda itu!”

Lisa tersipu, tapi tak ada gengsi yang harus ia pertahankan. Tawanya pecah. “Yah, saya hanya penasaran, Bu.”

“Yah, tidak salah juga, sih. Semasa Ibu muda, Ibu juga suka penasaran. Selalu coba-coba…” Ada sedikit nada bersalah di suara Bu Lin. “Papan itu langsung dibeli oleh seorang pemuda yang mengaku bernama Soma.”

“He?” Lisa sedikit kaget dengan perubahan sikap Bu Lin yang mendadak. “Aneh. Apakah ia sejenis pengusir setan?”

“Entahlah. Tak ada yang mengenalnya dan ternyata setelah diselidiki, namanya tidak tertera di daftar tamu.” Bu Lin menyilangkan tangan, merinding. “Hebatnya ia membeli papan itu bukan dengan uang.”

“Bukan dengan uang? Jangan bilang cek kosong.” Rupanya Lisa tidak menanggapi Bu Lin dengan serius.

“Bukan. Sebuah godam.” Bu Lin menyibak sebuah bungkusan. Isinya benar-benar sebuah godam.

“Hah?”

“Coba perhatikan! Godam ini bukan sekedar perkakas biasa. Gagangnya terbuat dari kayu jati berkualitas dengan ukiran indah. Kepala godam itu juga dibuat dengan sangat baik. Sangat mulus. Aku heran, kenapa ia mau menukarkan perkakas indah itu dengan sebuah kotak dan papan angker.”

“Jangan-jangan godam itu lebih angker!” Lisa berusaha menahan tawanya. Wajah Bu Lin memang terlihat berbeda saat itu. Bu Lin seperti orang ketakutan.

“Kau tidak menganggapku serius, kan?” Bu Lin terlihat sangat kesal. “Kata pemuda itu aku—kita—akan membutuhkan godam ini nanti.”

“Ayolah, Bu Lin. Anda memercayai cenayang gadungan itu?”

“Oh ya? Ku rasa cenayang gadungan itu benar! Aku akan memerlukan  godam itu untuk menggempur jidatmu!” Bu Lin menghunus godam di tangannya.

“Oh tidak!” Lisa berlagak takut. “Ayolah, Bu. Saya sudah bertekad akan menghadiri pesta pernikahan Ibu. Saya tidak boleh mati di sini!”

Tawa mereka meledak, nyaring dan panjang. Bu Lin bahkan terbahak-bahak. Untungnya, tak akan ada orang yang mendengar tawa kurang santun Bu Lin dari gudang bawah tanah itu.

“Sudahlah, aku harus kembali bekerja!” Bu Lin ketus—walau sebenarnya ia masih berusaha menahan tawa. Ia kemudian berusaha menyingkap sebuah kain putih yang menutupi sebuah lukisan.

“Biar saya bantu, Bu. Ini lukisan yang menjadi jatah pekerjaan saya.” Lisa menawarkan diri. Bu Lin tidak menolak. Mereka menyingkap kain lebar itu.

Lukisan itu; lukisan seorang gadis berbusana klederdracht berdimensi kurang lebih dua kali satu meter persegi. Ada hal aneh—yang meski tak asing—bagi Lisa di lukisan itu. Tak ada latar bangunan dengan kincir angin. Tak ada latar ladang tulip. Tak ada latar padang rumput dengan sapi perahnya. Latar yang tertoreh di lukisan itu adalah kebun teh di pegunungan.

Lisa seperti kehilangan sebagian besar tenaganya. Ia menggapai tembok dan menyandarkan punggung. Perempuan di lukisan itu adalah sosok yang menghampirinya tepat sebelum ia kehilangan kesadaran. Kepingan ingatan yang tercecer tampaknya mulai tersusun kembali.

“Siapa dia?” Tanya Lisa

“Maria. Istri Bram, pemilik villa ini sebelum Tuan Eric.”

Lisa menghimpun tenaga dan mulai mendekati lukisan itu, mengamatinya dengan lebih cermat lagi—dan seperti biasa, ia menggeser posisi kacamatanya. Ia ingat pernah mengamati lukisan itu sebelumnya—sebelum ia menemukan peti ‘harta karun’ dan terjatuh di tangga—tapi sepertinya ada yang ia lewatkan dari lukisan itu.

“Ada yang salah?” Bu Lin ikut menjajarkan bahunya dengan Lisa, turut mengamati lukisan itu. “Aku menemukan beberapa kesamaan goresan dan teknik pencampuran warna yang sama di beberapa lukisan.”

“Pelukisnya sama?”

“Ya. Selain itu, ada sebuah sandi yang disematkan hampir di setiap lukisan itu. Sepertinya inisial pelukisnya…”

“K.K.” Sambung Lisa. Inisial itu adalah kepingan ingatannya yang lain.

“Oh, kau juga melihatnya ternyata.” Lanjut Bu Lin. “Kau tahu, Tuan Eric memiliki sebuah jurnal usang peninggalan pamannya—walau itu bukan milik pamannya. Ada nama asli si pemilik di sampulnya. Baik nama di jurnal itu dan isinya sangat cocok dengan lukisan-lukisan ini.”

“Oh ya? Lalu siapa namanya?”

“Karel Kristian.”

“Kristian… Kris… Tian?!” Lisa tersentak. Ada rima di nama itu yang kembali memantik ingatannya dan kali ini percikan itu berkobar. Ia mengingat nama itu seperti ia mengingat pernah menjabat tangannya—tangan Tian.

“Hei! Kau baik-baik saja, Lisa?” Tanya Bu Lin cemas. Ia memandang Lisa yang mematung.

“Ya! Tak salah lagi!” Lisa kembali ‘hidup’. “Tian, Tuan Bram, Anne dan Katemi. Mereka semua nyata!”

Lisa bergegas. Ia memungut godam yang tadinya menjadi bahan gunjingan dan berlari keluar.

“Lisa?!” Bu Lin mengejar Lisa. Ia bingung—sekaligus ngeri

Lisa tak acuh. Ia berlari semakin cepat ke sebuah ruangan di lantai satu. Denah villa itu sudah terpetakan dengan baik dalam benaknya. Setelah melewati ruangan penyimpanan anggur, ia akan memasuki ruangan dengan tangga ke lantai dua. Di sisi lain ruang itu ada dua pintu lagi yang mengarah ke luar dan menuju sebuah koridor panjang. Ia mengambil pintu kedua; memasuki koridor panjang itu. Di ujung koridor ini jalan akan terbagi lagi. Salah satu tikungannya akan membawa Lisa ke sebuah ruang pribadi; ruang Tuan Bram.

BRAK!!

Lisa mendobrak paksa pintu yang rupanya terkunci itu. Godam yang ia bawa benar-benar membantunya dalam hal itu. Sementara Bu Lin sudah menyusul di belakang dengan Tuan Eric yang mengekor di belakang.

Lisa harus bergegas. Orang-orang pasti sedang menganggapnya tidak waras, tapi ia tak punya argumen kuat untuk meyakinkan mereka kalau akalnya masih sehat. Hanya bukti fisik yang bisa membenarkan perbuatannya sekarang. Bukti itu, Lisa yakin, ada di dalam ruang pribadi Tuan Bram. Sasaran godam itu bukan pintu, tapi sesuatu yang lebih kokoh dalam ruangan itu; sebuah perapian yang dibangun menggunakan bata merah.

BRAKK!!!

Ayunan pertama dari Lisa belum cukup menghancurkan perapian itu. Ia mengayunkannya lagi. Lagi dan lagi.

“Hei! Apa yang kau lakukan?!” Tuan Eric membentak. Ia berusaha melerai Lisa dengan perapian itu, tapi nyalinya ciut ketika melihat godam itu diayunkan Lisa untuk ke sekian kalinya. Sementara Bu Lin lebih takut lagi, ia bahkan hanya erani mengintip dari luar ruangan.

“Sedikit lagi!” Lisa mengayunkan godamnya sekali lagi. Tembok perapian itu runtuh, tapi masih ada tembok lain di baliknya. Tembok yang tersusun dari bata merah yang kini telah hitam karena jelaga.

“Cukup!” Tuan Eric memberanikan diri. Hanya satu langkah dan nyalinya kembali ciut. Lisa kembali mengayunkan godamnya. Lebih keras lagi.

BRAK!! BRAK! BRAKK!!!

Debu bercampur abu mengepul. Tembok itu runtuh….

“Aku menemukanmu…” Lisa menjatuhkan godamnya. “Tian!”

Tian—Karel Kristian. Pemuda itu berdiri di sana, di balik tembok itu. Wajahnya lesu dan kulitnya terlihat sangat pucat, persis seperti terakhir kali Lisa melihatnya di malam mengerikan itu. Meski begitu, senyum yang indah menyungging di bibirnya.

“Lisa…” Tatapan Tian menembus kepul debu, menatap langsung mata Lisa. Ia ambruk.

Lisa dengan sigap menangkap Tian yang ambruk. Tubuh pemuda itu begitu ringan dan tampakanya memang sama sekali tidak memiliki tenaga kecuali untuk menggerakkan bibir. Lisa mendekap Tian dan mereka berlutut untuk menyeimbangkan tubuh.

“Aku menemukanmu!”

“Bagaimana kau tahu?”

“Di dapur tak ada perapian. Begitu pula di ruang tengah. Sangat aneh dan mencurigakan. Sisanya kau tahu; intuisi.”

“Ha, ha… Bagus sekali Nona Penyidik…”

“Bukan hal besar. Apalagi setelah melalui malam itu. Sedikit curiga di villa ini bukan sesuatu yang aneh.”

“Lalu Anne…” Tian berbisik. “Bagaimana keadaannya?”

“Jangan cemas. Ia baik-baik saja di seberang sana.”

“Sukurlah…”

“Cukup. Sekarang beristirahatlah. Kau tampak lelah.”

“Ya. Aku lelah. Lelah sekali…” Tian terpejam, air mata mengalir di sela-sela kelopak matanya. “Terima kasih Lisa. Terima kasih untuk menjadi mataku malam itu. Terima kasih telah menunjukkan padaku, bahwa aku tidak melukainya—melukai Nona Maria.”

“Hei! Bukan hal besar.” Lisa terkekeh. “Aku hanya membantu. Sampaikan saja terimakasihmu pada Nona Maria. Ku rasa, ia yang menghadirkan aku ke malam itu.”

“Ya… Tentu. Tentu saja.” Tian tersenyum. Damai.

“Kau tahu yang dibisikkan Nona Maria sebelum kesadaranku hilang?” Lisa mendekap Tian lebih erat lagi. “Katanya ‘Tolonglah Tian. Bebaskan jiwanya dari penjara rasa bersalah.’”

Bibir Tian mengatup rapat. Seperti matanya, bibir yang menyimpul senyum itu tak akan lagi terbuka untuk selama-lamanya.

Sementara itu, Bu Lin dan Tuan Eric histeris. Mereka menyaksikan pemandangan yang membuat bulu kuduk menari-nari. Di hadapan mereka, Lisa sedang memeluk kerangka manusia berbusana lengkap dengan penuh bercak darah. Tempurung di tengkorak itu tak lagi utuh.

—Fin—

Iklan

2 thoughts on “Lukisan (12)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s