Selamat Ulang Tahun!


“Selamat ulang tahun!”

Dengan nada melenting, kalimat itu meluncur. Cuaca sedang tdak bersahabat di luar kelas, dan kalimat itu disuarakan lebih nyaring dari gemertak genting yang ditembaki bulir hujan.

“Selamat ulang tahun!” Ulang gadis itu, menyodorkan sebuah bingkisan yang dibalut sampul kertas bermotif teru-teru bozu. Dari ukurannya orang-orang bisa menebak hadiah dibalik balutan itu mungkin sebuah aksesoris atau sebangsanya. Dari pemberi dan penerimanya, orang-orang mungkin akan menarik kesimpulan bahwa isi bingkisan itu memang cindera mata berbau asmara. Namun ternyata, si penerima tak lebih peduli dari orang-orang itu.

“Terima kasih, tapi ini bukan hari ulangtahunku.” Jawab pemuda itu. Bibirnya mengulum senyum, tapi siapapun yang melihatnya pasti tahu, ada yang ganjil dengan senyum itu. Perasaannya tidak ia sematkan lewat bibir merah itu, ia memang sedang hanyut memandangi hujan—dan selalu begitu. Konon, pemuda itu sedang memikirkan kekasihnya saat memandangi hujan dari tempatnya duduk.

“Bukan lagi?! Bukan bulan November?” Gadis itu setengah melotot. “Nova Okta Septian. Dari namamu yang seperti kalender itu, tak adakah yang merupakan  bulan yang jadi tanggal lahirmu?”

Okta—nama panggilan pemuda itu—hanya tersenyum. Dengan jemari menyimpul, ia kembali menopang dagunya. Kepala itu terlihat lebih condong ke jendela, seperti ada seseorang yang  ia tunggu di bawah derasnya hujan. Gadis tadi duduk kursi sebelahnya, ikut melongok ke luar melalui bingkai jendela.

“Siapa sih yang kau pikirkan?” Tersipu. Gadis itu akhirnya punya keberanian mengajukan pertanyaan itu.

“Nova.” Jawab Okta. “Bukan karena aku lahir bulan November. Itu nama tengah ibuku.”

“Agustin.” Sahut si gadis. “Namaku Agustin karena aku lahir bulan Agustus. It makes no sense, you see. That name of yours…

Bel sekolah berbunyi sebagai pertanda jam istirahat telah berakhir. Agustin—sapaan gadis itu—terpaksa harus menyudahi percakapannya, sebab batang hidung pemilik kursi yang sedang ia duduki sudah terlihat di muka pintu. Ini ketiga kalinya ia menarik bingkisannya; bulan lalu—bulan Oktober—dan satu bulan lagi sebelum Oktober. Lain bulan, tetapi jawaban yang ia terima selalu sama. Namun bulan ini, setidaknya ia bisa mendengar jawaban lain. Ya, perihal asal-usul nama Okta yang baginya makes no sense itu, dan Agustin merasa harus berbahagia karena itu…

…atau tidak. Karena mata pelajaran berikutnya adalah matematika, dan matematika selalu berpasangan dengan tugas harian—mereka layaknya suami-istri. Seharian ini Agustin benar-benar lupa memastikan buku tugasnya ada di dalam tas. Tiga hari yang lalu, Juli—teman sebangkunya—harus mengikuti pelajaran dari luar kelas karena tidak membawa buku tugas.

“Ya. Keluarkan tugas kalian. Kita akan koreksi bersama.” Tanpa salam, apalagi terlebih dahulu duduk. Pengajar matematika yang biasa dipanggil Pak Juni ini memang selalu begitu. Konon, pengajar paruh baya yang sampai sekarang belum mempunyai pasangan hidup ini memang punya hobi membuat orang lain tertekan.

“Kamu. Silahkan kerjakan soal nomor satu!” Lanjut Pak Juni sembari menghunus kapur tulisnya.

Agustin mengikuti arah kapur itu. Pandangannya ia telusurkan ke arah jam 5 dari tempat ia duduk. Pada arah itu, ia melihat Okta masih hanyut dalam dunianya—dunia lain di bawah guyuran hujan di luar sana.

Agustin terkekeh. Ia ingat di awal semester lalu, Pak Juni pernah memergoki Okta sedang melamun di tengah-tengah penjelasannya mengenai materi aljabar. Saat itu tiada kata ampun dari Pak Juni, titahnya jelas; Okta dipersilakan meninggalkan kelas. Namun yang membuat Agustin sangat mengingat peristiwa itu adalah sikap Okta. Pemuda itu tersenyum, berdiri tegap lalu melangkah ke depan. Bukan pintu keluar yang dituju Okta, tetapi papan tulis yang sudah penuh oleh coretan Pak Juni. Dengan cekatan Okta menghapus sederet rumus di papan tulis dan menulis ulang rumus itu dengan secuil kapur yang ia pungut dari lantai di sela langkahnya. Bukan sekedar menulis ulang, Okta membenarkannya. Ia lalu berjalan bungkuk menuju pintu, melewati Pak Juni yang terlihat panik sambil membolak-balik lembar buku ajarnya. Bingung.

Kali ini, mungkin Pak Juni ingin balas dendam, pikir Agustin. Sayangnya ia salah.

“Kenapa kamu senyum-senyum Agustin!? Ada yang lucu?” Seandainya itu gelegar guntur, Agustin tak akan tersentak. Itu suara Pak Juni. “Cepat maju dan kerjakan soal nomor satu!”

“Si-siap, Pak!” Agustin sontak berdiri. Ia bergegas maju ke depan dengan buku tugas di genggamannya. Buku tugas itu, yang tak ia sadari, adalah buku tugas Bahasa Indonesia.

***

Langit bersih tanpa gumpalan awan pada sorenya. Cuaca sepertinya mendukung keceriaan murid-murid kelas XI-A di akhir jam pelajaran mereka. Betapa tidak, sore itu adalah kali pertama mereka melihat Pak Juni tertawa lepas. Kebingungan Agustin di depan papan tulis rupanya sesuatu yang sangat lucu bagi Pak Juni. Sembilan puluh menit selanjutnya menjadi lebih ringan—mereka sangat berterimakasih pada Agustin untuk itu—walau menit-menit berikutnya tidak akan bertambah ringan. Tugas-tugas masih  menumpuk, dan memang seperti itulah yang sewajarnya dari sesuatu yang kau sebut sekolah.

“Terima kasih, Tin.” Mei mencubit pipi Agustin yang masih merah karena malu.

“Aku tidak melakukannya dengan cuma-cuma! Kalian harus membayar untuk itu!”

“Ah, alasan. Bilang saja karena kamu memang melamun!” Juli ikut berimbuh.

“Kamu melamunkan apa sih, Tin?” Sambung Novi yang sudah mencangking tas di kedua pundaknya. “Si Okta, ya?”

“Cieee!” Sahut dua orang yang lain, yakin kalau Okta sudah jauh meninggalkan kelas.

Oh, my God! Girls! Kalian sudah tahu ‘kan janjiku di waktu pemilihan pengurus kelas?” Agustin berlagak risih—walau pipinya semakin merah. Ia berusaha untuk tidak memungkiri perasaanya pada Okta lebih jauh lagi.

“Seandainya saya jadi ketua kelas, saya, Agustin Dewi, berjanji akan membuat sebuah kejutan di setiap hari istimewa teman-teman!” Mei, Juli dan Novi serempak. Mereka berdiri sejajar dan mengangkat tangan kanan serupa anggota dewan yang sedang disumpah.

“Ya, dan itu artinya bukan cuma Okta. Bukankah kalian juga sudah ku beri hadiah?” Agustin menyergah. “Oh, dan aku menjabat sekbend, bukan ketua kelas!”

“Hei, kalau kalian tidak piket, segeralah pulang!” Febrian, si ketua kelas, yang salah sangka sedang dijadikan bahan gunjingan, membentak.

“Siap, Ketua!” Tiga orang itu berulah. Serempak. Kata Novi sebelum melakukan gaya Kiss Bye andalannya, “Hadiahnya untukku saja. Ulang tahunku dua minggu lagi, loh!”

Agustin menjulurkan lidah. Ketiga karibnya membalas dengan gaya yang sama. Dua tahun dalam kelas yang sama, empat sekawan itu selalu pulang bersama, kecuali pada hari-hari salah satu dari mereka menjalankan piket. Seperti hari ini, adalah hari piket untuk Agustin.

Keadaan kelas benar-benar sunyi dengan perginya ketiga orang tadi. Hanya Febrian, Agustin, Januar dan Desi yang masih berada di kelas itu dengan kesibukan tugas piket masing-masing.  Agustin menyapu bagian depan, Desi bagian belakang, sementara Januar bertugas mengurusi sampah. Febrian terpaku di meja guru. Biasanya, ia ikut membantu, tapi kali ini Febrian tampaknya memiliki pekerjaan tambahan. Pekerjaan seorang ketua kelas.

“Sedang mengerjakan apa, Pak Ketua?” Cetus Agustin, merasa kesunyian mulai membuatnya bosan.

“Berkas beasiswa.” Febrian tidak menoleh, matanya yang berlapis kaca itu sepertinya tak mau kehilangan bidikan hitungannya.

“Beasiswa? Kok, aku baru tahu?”

“Aku justru heran kalau kau tahu, Tin.” Seloroh Febrian

“Itu berkas milik Okta?” Agustin tak menanggapi sindiran Febrian. Bukan bermaksud membalas sikap tak acuh Febrian, tapi perhatiannya benar-benar jatuh pada tumpukan paling atas. Map hijau bertuliskan nama Okta.

“Betul, dan tak hanya Okta, lebih dari separuh anak kelas mengumpulkan berkas.” Febrian masih berusaha menyindir dan menyiratkan alasan kenapa ia tidak membantu piket hari itu. Ia belum sadar, Agustin benar-benar tidak peduli pada semua itu kecuali satu; ada berkas Okta di sana. Itu artinya, ada informasi yang mungkin belum dikethui Agustin di berkas itu. Tanggal lahir, misalnya.

“Lalu, apa yang kau lakukan dengan berkas itu?”

“Memeriksanya.  Mencocokkannya dengan daftar pengambil formulir. Sekarang sudah selesai dan harus ku antar ke ruang TU.”

“Ooo…” Agustin berlagak tak tertarik, walau akhirnya menawarkan diri. “Bagaimana jika aku saja yang mengantarnya?”

“Huh? Apa pedulimu?”

“Tak ada. Aku hanya cemas. Jangan-jangan, setelah mengantar berkas itu kau langsung pulang tanpa mengangkat sebutir pun debu dari kelas ini.” Pandangan Agustin meremehkan.

“Hei, hei. Bukan aku yang piket hari ini. Lagipula bukankah hampir setiap hari aku menemani kalian piket?” Febrian protes.

“Seandainya saya jadi ketua kelas, saya, Febrian Chandra, berjanji akan menjadi teladan yang baik bagi teman-teman!” Potong Agustin, berdiri tegap dan mengangkat tangan kanan serupa tiga karibnya sekian belas menit yang lalu.

“Konyol!” Meski berkata seperti itu, dipindahnya juga tumpukan berkas itu ke tangan Agustin. “Pastikan kau mengantarnya dengan baik, Sekretaris!”

***

Bulan Desember, hari ini, tepatnya tanggal 4. Inilah tanggal yang ditunggu-tunggu Agustin. Inilah tanggal Okta lahir. Tak mungkin salah, karena angka itu ia ulik dari salinan akta kelahiran Okta. Hari ini pula Okta tak masuk. Tahun lalu, pada tanggal yang sama, ia juga abstain. Rupanya Okta benar-benar takut hari kalau lahirnya diketahui orang, pikir Agustin, dan dia mendakwa dirinya sangat tak peka karena tak menyadari itu. Tanggal 4 Desember 1993; tanggal itu akan selalu ia ingat.

“Desember.” Juli memulai percakapan. “Lucu ya.”

“September, Oktober, November. Namanya disadur dari bulan-bulan itu, tapi ia lahir bulan Desember. Aneh!” Novi menimpali. Tangannya tak berhenti mengibas kipas. Keadaan dalam angkutan kota memang sangat pengap saat itu—dan sepertinya memang selalu.

“Entahlah. Mungkin orang tuanya pengusaha kalender.” Mei dengan kipas besarnya ikut bersuara, diikuti dengan ledak tawa dua orang di sebelahnya.

“Mungkin itu sebabnya Okta tak punya akun Friendster. Orang-orang pasti akan mencecarnya.” Novi, yang paling cerewet, menambah bahan guyonan.

“Hei! Ayolah!” Bentak Agustin. “Kalian pikir Okta suka menghabiskan waktu di kursi warnet—seperti kalian?”

“Tetap saja, Tin. Ini abad ke-20. Manusia mana yang masih menjauhi internet?” Juli yang biasanya kalem sepertinya merasa tertantang dengan pernyataan Agustin.

“Aku tahu!” Celetuk Mei. “Manusia purba!”

Gelak tawa kembali pecah. Agustin kembali terdiam. Bagaimana pun, karibnya itu sudah mau menemaninya ke tempat tinggal Okta. Mereka bahkan turut menyiapkan kejutan khusus untuk Okta. Agustin hanya bisa menghela napas panjang. Perhatiannya ia tuangkan ke bingkisan di tangannya—bingkisan yang ia sudah tarik tiga kali. Agustin seringkali membayangkan Okta mengenakan benda dalam bingkisan itu.

Bingkisan itu harus diberikan di hari yang istimewa, agar Okta tahu, bahwa perasaan Agustin padanya juga istimewa. Ya, tidak bisa tidak.

Sebuah topi. Itu hadiah yang—menurut Agustin—paling  tepat untuk Okta. Setiap ke sekolah, Okta memang selalu mengendarai sepeda. Teriknya matahari pasti sedikit banyak mengganggunya. Lagipula, Agustin yakin, wajah Okta yang teduh itu pasti akan semakin adem di bawah bayang-bayang topi pemberiannya. Ya, kedua mata Okta yang cerah dan selalu membidik tajam, terkadang sendu tetapi pada saat yang sama; penuh harap. Hidungnya yang tak mancung tapi tak pesek pula—sangat proporsional—dengan ujung tumpul nan menggemaskan. Pipinya yang bersih dan kenyal, yang rekah dan menyeret bibirnya untuk melengkung. Ya, bibir tipisnya yang memesona, yang selalu menyimpul senyum, dan entah kenapa terasa semakin dekat, begitu dekat, dan…

“Tin!” Senggol Novi. “Sebentar lagi sampai. Jangan tidur!”

“Sebentar lagi?!” Agustin histeris. “AH! Kenapa kau bangunkan aku?! Masih ada waktu! Padahal sedikit lagi…”

Tiga karibnya melongo. Bingung. Sementara Agustin membenamkan wajahnya. Malu. Sebab semua pandangan penumpang tertuju padanya.

***

Agustin udah mengetuk pintu beberapa kali. Cukup lama, tapi tak tampak tanda-tanda keberadaan tuan rumah. Juli dan Mei asik bermain ayunan, sementara Novi tidur telentang di beranda, hanyut dalam suasana tenang kediaman itu. Tidak bisa dipungkiri, kediaman Okta memang membawa kesan damai. Pekarangannya luas dengan sebatang ketapang yang tumbuh rindang. Dua buah ayunan menjulur dari dahannya yang kokoh. Tak ada pagar, tetapi semak yang tumbuh mengelilingi kediaman itu dipangkas dengan sangat rapi—yang jauh lebih apik menurut Agustin.

“Kakak mencari siapa?”

Agustin kaget. Ia menoleh ke kiri dan kanan, tapi tak menemukan empunya suara.

“Kakak mencari Kak Okta?” Suara itu mengusik lagi, tapi lebih jelas arahnya. Dari semak-semak di dekat pintu.

“Hei, sedang apa kau di sana?” Agustin bersikap ramah, padahal ia merinding juga. Menakutkan. Ada saja anak kecil yang meringkuk dalam rimbunan semak-semak. “Kau tahu ke mana pemilik rumah ini?”

“Pak Harto masih di kantor. Kalau Kak Okta ada di suatu tempat.”

“Suatu tempat? Kau tahu tempat itu?”

Anak itu diam. Tatapannya seperti anak kucing yang ketakutan.

“Siapa namamu?” Agustin memotong jarak.

“Soma.” Balas anak itu. Jaraknya dengan Agustin yang tinggal beberapa jengkal semakin membuatnya takut. “Soma Legi.”

Agustin mengernyitkan dahi. Ia tak habis pikir, di abad ke-20 ini masih ada orang tua yang memberikan nama semacam itu pada anaknya—di sini bahkan bukan pulau Jawa. Namun itu bukan urusannya. Kepentingannya sekarang adalah mengetahui keberadaan Okta.

Agustin mengambil beberapa buah permen dari sakunya. “Baiklah Soma. Kakak akan memberimu semua permen ini, tapi kamu harus memberitahu kakak di mana Kak Okta sekarang.”

Soma menggeleng. Ia menunjuk ke arah rumah. “Di belakang rumah ada jalan kecil. Ikuti saja jalurnya. Di pertigaan kedua, belok kiri, kemudian lurus terus sampai tiba di sebuah kebun. Biasanya Kak Okta senang bermain di sana.”

“Terima kasih, anak baik.” Agustin mencubit gemas pipi anak itu, kemudian segera beranjak.

“Kakak…” Tegur Soma dingin. “Tidak semua hal perlu kau tahu. Sebab kebenaran bukan segalanya.”

Agustin bingung. Ia menatap anak dalam rimbunan itu. Tak ada lagi takut di mata itu, justru Agustin yang bergidik sekarang.

“Tin, berapa lama lagi kita harus menunggu?” Suara sumbang Mei sempat mengalihkan perhatian Agustin.

Agustin kembali menoleh ke arah soma, tapi anak itu sudah tidak ada di tempatnya. Anak itu muncul dan menghilang seperti tikus sawah. Biarlah, lagipula ia sudah mendapatkan informasi yang ia butuhkan.

“Kita ke belakang.” Kata Agustin tanpa basa-basi.

***

Soma tidak berbohong. Arah yang diberikan anak itu memang menuntun Agustin dan teman-temannya ke sebuah kebun, tapi adanya kebenaran arah itu belum bisa membuktikan keberadaan Okta di sana.

Tak sampai sepuluh langkah, rombongan itu berhenti. Agustin yang berjalan paling depan sengaja menghentikan pergerakan. Ada sesosok laki-laki di depannya. Cukup jauh, tapi ia bisa memastikan bahwa sosok itu adalah Okta.

“Aku masuk duluan.” Kata Agustin. “Begitu kami keluar, kalian lakukanlah sesuai rencana.”

“Siap!” Jawab Juli, Mei dan Novi serempak.

Agustin masuk lebih dalam. Perlahan. Sementara tiga karibnya berbalik arah menuju luar kebun.

Agustin mengendap-endap. Meski langkahnya diayun dengan sangat perlahan, jantungnya sedang berdegup sangat kencang. Ia tak sabar untuk mengejutkan Okta, di lain sisi ia takut akan reaksi Okta yang sangat mungkin membalasnya dengan dingin. Namun ada rasa lain yang mengganjal. Di kepala Agustin masih terngiang sepenggal kalimat terakhir dari Soma.

“Tidak semua hal perlu kau tahu…”

Berbagai macam bayangan melintas di benak Agustin. Segala macam juga rasa yang menyertainya. Senang, takut, dan cemas bercampur aduk. Apa yang sebenarnya yang dimaksud anak kecil bernama Soma Legi itu?

‘Apakah Okta menyimpan sebuah rahasia?’
‘Mungkin Okta bukan manusia?’
‘Jangan-jangan Okta sejenis makhluk halus yang berubah wujud setiap hari kelahirannya?’
‘Oh, apakah selama ini ia sedang jatuh hati pada makhluk halus?’

Gugup. Bayangan Agustin semakin tak jelas dan aneh.

Tanpa disadari, jarak Agustin tinggal beberapa langkah dari Okta. Agustin panik. Bingung apa yang harus ia lakukan. Apakah ia akan mengejutkan dari belakang atau menyapa dahulu? Kata pengantar apa yang harus ia sampaikan? Sebelum itu, apakah ia sudah tampak menawan? Perlukah wangi-wangian? Perlu sedikit bedak di wajah mungkin?

 

“Selamat ulang tahun, Okta!” Kepanikan Agustin menciptakan huru-hara di sistem sarafnya. Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa keputusan bulat dari otak.

.

.

.

Sementara itu Juli, Mei dan Novi sudah siap sedia di luar kebun. Mereka bersiap untuk menyanyikan lagu wajib perayaan ulang tahun. Juli dan Novi anggota paduan suara sekolah, jadi mereka yakin, sumbangnya suara Mei dapat mereka imbangi. Lagipula, Mei sudah tahu kekurangannya, dia tak akan menyanyi dengan suara keras nanti.

“Dia datang!” Juli memberikan kode.

Okta datang. Semakin dekat dan dekat.

.

.

“SELAMAT ULAhmpmmh…” Suara Mei dan Novi tercekat. Tangan Juli membungkam mulut keduanya.

Okta tak juga ambil peduli. Pemuda itu melintas begitu saja, tanpa menoleh apalagi menyapa. Ia tampak marah. Sangat marah. Juli menyadari itu—daya tangkapnya memang yang paling tinggi dalam kawanan itu—makanya ia segera membungkam mulut Mei dan Novi tadi.

“Apa yang  terjadi?”  Cecar Mei, menyadari bahwa Agustin tidak ikut keluar bersama Okta. Pasti da sesuatu yang terjadi antara Okta dan Agustin di dalam sana.

“Apa maksud kalian?” Novi—yang daya tangkapnya paling rendah—kebingungan, tapi Juli sudah merangsek masuk ke kebun, diikuti Mei. Ia turut mengekor.

Juli, Mei dan Novi bergegas. Mereka menemukan Agustin sedang tersedu, menangis sambil membenamkan muka dalam telapak tangannya.

“Apa yang terjadi, Tin?” Tanya Mei. Tangannya merangkul pundak Agustin.

“Maaf… Aku tak tahu…” Agustin semakin terisak.

“Tin, kamu kenapa Tin?” Novi ikut menjongkok.

“Teman-teman…” Sela Juli. suaranya ia nyaringkan agar mendapat perhatian.

Mei dan Novi menoleh kepada Juli, lalu segera beralih mengikuti tatapaan kosong Juli yang mengarah ke bawah. Sebuah gundukan tanah yang melintang, basah dan bertabur kelopak aneka bunga. Di salah satu ujung gundukan itu sebuah bangun limas segi empat menegak, mewartakan sebuah kehidupan yang telah berujung.

Liliana Nova Puspa
binti
Sapto
Lahir : 18 November 1965
Wafat: 4 Desember 1993
 

***

 

Tidak semua hal perlu kau tahu. Sebab kebenaran bukan segalanya.
Soma Legi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s