Lukisan (11)

Panik. Itu keadaan yang berkuasa atas pikiran Lisa sekarang. Dalam satu per sekian detik ia harus menentukan langkahnya yang terbatas. Lurus—ke arah kamar Anne—atau turun—ke ruang utama dan ada pintu keluar di sana.

Menuruni tangga, menuju pintu keluar. Pilihan Lisa berat di sana, tapi ia bahkan tak sanggup lagi membayangkan seandainya ia tergelincir di tangga yang curam itu. Jadi ia tetap lurus, harap-harap ada benda yang bisa ia jadikan senjata di kamar itu. Namun belum sampai Lisa di mulut pintu, ia ambruk. Padahal otaknya tak pernah mengirimkan sinyal untuk istirahat, sarafnya pun masih menegang karena keadaan. Alasan satu-satunya adalah karena tubuh tak sekuat pikirannnya. Lisa lunglai. Kakinya mati rasa!

Berjam-jam perjalanan menuju villa itu, kemudian langsung bekerja tanpa menyempatkan istirahat, lalu hal-hal mengerikan yang terjadi sepanjang malam ini. Sekuat apapun tubuh pikiran Lisa, serat-serat ototnya tak mampu menahan beban lebih dari itu. Ia tertunduk—sempat berpikir untuk menyerah. Sementara Tuan Bram sudah bersiap menerkamnya dari belakang.

Lisa memejamkan mata. Berdoa. Hanya itu yang bisa ia lakukan dalam beberapa detik menjelang akhir hidupnya.

.

“Akhir?”

.

“Bukan!” Lisa bangkit. “Ini bukan akhir!”

.

BUKK!

Hantaman Tuan Bram telak mengenai ulu hati Lisa. Mahasiswi itu kembali terjatuh. Lisa bahkan kesulitan untuk sekedar meraup udara. Kenyataan terlalu kejam untuknya. Baca lebih lanjut

Selamat Ulang Tahun!


“Selamat ulang tahun!”

Dengan nada melenting, kalimat itu meluncur. Cuaca sedang tdak bersahabat di luar kelas, dan kalimat itu disuarakan lebih nyaring dari gemertak genting yang ditembaki bulir hujan.

“Selamat ulang tahun!” Ulang gadis itu, menyodorkan sebuah bingkisan yang dibalut sampul kertas bermotif teru-teru bozu. Dari ukurannya orang-orang bisa menebak hadiah dibalik balutan itu mungkin sebuah aksesoris atau sebangsanya. Dari pemberi dan penerimanya, orang-orang mungkin akan menarik kesimpulan bahwa isi bingkisan itu memang cindera mata berbau asmara. Namun ternyata, si penerima tak lebih peduli dari orang-orang itu.

“Terima kasih, tapi ini bukan hari ulangtahunku.” Jawab pemuda itu. Bibirnya mengulum senyum, tapi siapapun yang melihatnya pasti tahu, ada yang ganjil dengan senyum itu. Perasaannya tidak ia sematkan lewat bibir merah itu, ia memang sedang hanyut memandangi hujan—dan selalu begitu. Konon, pemuda itu sedang memikirkan kekasihnya saat memandangi hujan dari tempatnya duduk.

“Bukan lagi?! Bukan bulan November?” Gadis itu setengah melotot. “Nova Okta Septian. Dari namamu yang seperti kalender itu, tak adakah yang merupakan  bulan yang jadi tanggal lahirmu?”

Okta—nama panggilan pemuda itu—hanya tersenyum. Dengan jemari menyimpul, ia kembali menopang dagunya. Kepala itu terlihat lebih condong ke jendela, seperti ada seseorang yang  ia tunggu di bawah derasnya hujan. Gadis tadi duduk kursi sebelahnya, ikut melongok ke luar melalui bingkai jendela.

“Siapa sih yang kau pikirkan?” Tersipu. Gadis itu akhirnya punya keberanian mengajukan pertanyaan itu.

“Nova.” Jawab Okta. “Bukan karena aku lahir bulan November. Itu nama tengah ibuku.”

“Agustin.” Sahut si gadis. “Namaku Agustin karena aku lahir bulan Agustus. It makes no sense, you see. That name of yours…

Bel sekolah berbunyi sebagai pertanda jam istirahat telah berakhir. Agustin—sapaan gadis itu—terpaksa harus menyudahi percakapannya, sebab batang hidung pemilik kursi yang sedang ia duduki sudah terlihat di muka pintu. Ini ketiga kalinya ia menarik bingkisannya; bulan lalu—bulan Oktober—dan satu bulan lagi sebelum Oktober. Lain bulan, tetapi jawaban yang ia terima selalu sama. Namun bulan ini, setidaknya ia bisa mendengar jawaban lain. Ya, perihal asal-usul nama Okta yang baginya makes no sense itu, dan Agustin merasa harus berbahagia karena itu…

…atau tidak. Karena mata pelajaran berikutnya adalah matematika, dan matematika selalu berpasangan dengan tugas harian—mereka layaknya suami-istri. Seharian ini Agustin benar-benar lupa memastikan buku tugasnya ada di dalam tas. Tiga hari yang lalu, Juli—teman sebangkunya—harus mengikuti pelajaran dari luar kelas karena tidak membawa buku tugas.

“Ya. Keluarkan tugas kalian. Kita akan koreksi bersama.” Tanpa salam, apalagi terlebih dahulu duduk. Pengajar matematika yang biasa dipanggil Pak Juni ini memang selalu begitu. Konon, pengajar paruh baya yang sampai sekarang belum mempunyai pasangan hidup ini memang punya hobi membuat orang lain tertekan.

“Kamu. Silahkan kerjakan soal nomor satu!” Lanjut Pak Juni sembari menghunus kapur tulisnya.

Agustin mengikuti arah kapur itu. Pandangannya ia telusurkan ke arah jam 5 dari tempat ia duduk. Pada arah itu, ia melihat Okta masih hanyut dalam dunianya—dunia lain di bawah guyuran hujan di luar sana.

Agustin terkekeh. Ia ingat di awal semester lalu, Pak Juni pernah memergoki Okta sedang melamun di tengah-tengah penjelasannya mengenai materi aljabar. Saat itu tiada kata ampun dari Pak Juni, titahnya jelas; Okta dipersilakan meninggalkan kelas. Namun yang membuat Agustin sangat mengingat peristiwa itu adalah sikap Okta. Pemuda itu tersenyum, berdiri tegap lalu melangkah ke depan. Bukan pintu keluar yang dituju Okta, tetapi papan tulis yang sudah penuh oleh coretan Pak Juni. Dengan cekatan Okta menghapus sederet rumus di papan tulis dan menulis ulang rumus itu dengan secuil kapur yang ia pungut dari lantai di sela langkahnya. Bukan sekedar menulis ulang, Okta membenarkannya. Ia lalu berjalan bungkuk menuju pintu, melewati Pak Juni yang terlihat panik sambil membolak-balik lembar buku ajarnya. Bingung.

Kali ini, mungkin Pak Juni ingin balas dendam, pikir Agustin. Sayangnya ia salah.

“Kenapa kamu senyum-senyum Agustin!? Ada yang lucu?” Seandainya itu gelegar guntur, Agustin tak akan tersentak. Itu suara Pak Juni. “Cepat maju dan kerjakan soal nomor satu!”

“Si-siap, Pak!” Agustin sontak berdiri. Ia bergegas maju ke depan dengan buku tugas di genggamannya. Buku tugas itu, yang tak ia sadari, adalah buku tugas Bahasa Indonesia.

***
Baca lebih lanjut