Lukisan (10)


Lisa masih membeku di tempatnya, rasa sakitnya seakan hilang dibawa dinginnya angin malam. Ia terperangah dengan kenyataan yang ia saksikan sendiri. Kenyataan yang dimulai dari sebuah kotak.

“Maafkan aku…” Kata Tuan Bram lirih, tapi cukup keras untuk dapat didengar Lisa. “Maafkan aku…”

Katemi luluh. Ia membalas pelukan Tuan Bram dengan tangannya yang berlepotan darah kering. Tuan Bram memeluk Katemi lebih dalam lagi. Dalam dan dalam. Ia membenamkan wajah Katemi ke dadanya.

Setelah beberapa saat, pelukan itu terlalu erat dan dalam. Janggal. Menyadari lubang napasnya disumbat, Katemi meronta, berusaha melepaskan diri. Kedua tangan Katemi yang semula melingkar di punggung Tuan Bram tidak lagi saling menautkan jemari. Jemari itu dengan liar mencakar-cakar, mengepal dan memukul punggung Tuan Bram.

Percuma. Katemi terlalu lemah, baik badan maupun jiwanya. Perempuan paruh baya itu lemas kehabisan napas.

KRAK!
Baca lebih lanjut

Iklan