Lukisan (9)

Sungguh pemandangan yang mengerikan. Dua maniak dengan kejiwaan yang sama sekali tak normal berdiri berlawanan arah, menunjukkan ketidakwarasan mereka masing-masing. Dua maniak itu, bagaimanapun, salah satunya telah menyelamatkan Lisa—setidaknya untuk saat ini.

Anne. Gadis itu terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Sesekali ia melompat di tempat, menghentakkan kakinya yang telanjang ke hamparan lantai kayu. Katemi, di lain sisi, terduduk lemah sambil sesenggukan. Kepala perempuan paruh baya itu tertunduk, rambut panjangnya yang terurai menutupi raut wajahnya yang entah sedang menangis menahan perih atau sama-sama sedang meringis gila. Yah, kedua orang itu, sekali lagi, sama sekali tidak waras, pikir Lisa yang berusaha tenang di sisi lain koridor gelap itu.

“Brengsek!!!” Katemi membentak sambil mengayunkan dudukan lampu berbahan besi ke kepala Anne.

Tubuh mungil itu ambruk di samping Lisa. Seperti poci teh yang jatuh terbalik, darah mengucur dari kepala Anne. Tak ada aroma cengkeh, walaupun sama-sama hangat dan pekat, darah Anne sedikit anyir dan lebih banyak membawa histeria. Melihat itu, perut Lisa serasa ditaburi obat pencahar, mual tak karuan. Namun kepanikan tidak menutupi nuraninya, Lisa langsung mendekap Anne dan menutup lukanya sambil menekan jalur pembuluh darah di daerah leher—walau hanya berdasarkan insting.

Berhasil. Pendarahan Anne mereda.

“Ahahahaha! Aku bebas! Bebas! Kembalilah ke neraka, Penyihir!” Ganti Katemi yang terbahak-bahak sekarang. Hanya saja ia tidak memegangi perut seperti Anne, tapi berputar-putar di tempat. Menari, tidak dengan keanggunan tetapi kegilaan. Tingksh Katemi sudah seperti pasien gagal jiwa kronis. Tidak, ia memang gila, seorang gila tanpa perawatan.

“ANNE!!” Dua suara berbeda warna serempak berseru, diikuti lampu kordor yang benderang dengan perlahan.

Katemi setengah kaget, gerakannya tercekat. “Bram?!”

“Apa yang kau lakukan pada Anne, wanita jalang?” Tuan Bram segera meraih Anne yang tak sadarkan diri di dekapan Lisa. Hampir saja Lisa terjengkal. Lelaki paruh baya itu sama sekali tidak memedulikan Lisa yang sebenarnya juga terluka dan sangat ketakutan. Tuan Bram tidak butuh penjelasan, keributan yang sama sekali tidak ia inginkan justru memuncak malam itu.

Di sisi lain koridor, Katemi terduduk lemas. Wajahnya pucat pasi, tertunduk karena beratnya beban yang ia tanggung. Tangannya yang berlumur darah lunglai di lantai. Apapun yang dapat ia gunakan untuk melawan telah dilucuti Tian yang datang bersama Tuan Bram.

“Apa yang kau lakukan Katemi?” Bentak Tuan Bram lagi.

“Pertanyaan macam itu…” Katemi menjawab lesu, air matanya meleleh. “Tentu saja membela diri, bodoh!”

“Membela diri? Membela diri katamu??” Tuan Bram justru semakin naik pitam. “Kau membela diri dengan melubangi tengkorak putriku?!”

“Lalu kau pikir aku harus bagaimana?!” Katemi balas membentak. Histeris. “Mengikat diriku sendiri, kemudia membiarkan iblis itu menguliti aku, hah?!”

Tuan Bram bergeming, tapi dadanya masih mengombak. Masih ada amarah di sana, amarah yang sangat besar.

“Jawab, Bram!” Katemi mencecar. “Kau memang ingin mengorbankan aku pada penyihir dan iblis ini ‘kan?”

Tian tercenung. Ia bingung harus membela siapa, apalagi kejadian berdarah malam ini sebagian adalah salahnya. Sementara Lisa, tidak ada yang menyadari kehadiran gadis itu. Semua penghuni telah dibuat lupa oleh emosi masing-masing.

“Ya. Aku yakin itu. Aku adalah tumbal, bukan?” Katemi bertingkah semakin menjengkelkan. “Sayangnya, penyihir itu sudah mati, Bram! Bisakah kau mencium aroma dagingnya yang dijilat api neraka? Ya, persis seperti beef steak kesukaanmu, Bram! Ya, pasti Satan sedang menyantapnya setengah matang di nera…”

“DIAM!” Tuan Bram memekik. Tangannya menggenggam gunting yang berlumur darah. Amarahnya meluap, banjir melewati batas akal sehatnya.

“Menyingkir!” Perintah Tuan Bram. Tangannya mengepal sampai berdarah, siap menyingkirkan segala yang menghalangi jalannya, termasuk Tian yang berusaha melerai.

“Tidak, Tuan. Akal anda tidak sedang dalam keadaan baik. Kita semua.”

“Aku bilang ‘menyingkir’, Bocah!”

“Tuan, sadarlah. Kita bisa menye…”

Tian tercekat. Ia tak bisa melanjutkan kata-katanya. Tenggorokannya segera penuh oleh darah yang meluber dari nadi yang koyak oleh runcing gunting. Pemuda itu ambruk tepat di hadapan Lisa yang menyudut di tembok koridor.

“AAAAAAH!” Ganti para wanita yang berteriak bersamaan. Histeris. Satu nyawa benar-benar melayang malam ini.

“Ku bilang menyingkir, brengsek!” Tuan Bram menendang Tian yang tergeletak tak berdaya. “Dasar keparat tak tahu diuntung! Kau pikir karena siapa kau bisa hidup, hah? Kau pikir apa yang sudah kau lakukan pada Maria? Sekarang kau ingin membunuh putriku juga?!”

“Tidak! Hentikan! Tian!!” Katemi segera menyergap tubuh Tian yang tak lagi bergerak. Luka tusuk di leher pemuda itu dapat meyakinkan dokter manapun bahwa ia sudah tak tertolong lagi.

“Kini giliranmu, Katemi!”

Lisa masih membeku, padahal Tuan Bram akan menghunus guntingnya lagi. Terlalu banyak darah yang dilihat gadis itu. Namun Katemi tidak menggubris. Perempuan itu menangis, menggeru.

“Tian!” Katemi mengguncang tubuh Tian yang mulai hilang hangatnya. “Bangun, Nak! Jangan tinggalkan Mama!”

Tuan Bram berhenti. Mulutnya ternganga, kaget, tak percaya. “Apa maksudmu Katemi?”

“Tian! Bangun, Nak! Bangun!” Katemi masih tak menggubris Tuan Bram. Air matanya sungguh-sungguh. Cairan asin itu mengalir dari hatinya yang lebih rana dari yang sudah-sudah. Tian adalah anaknya, kenyataan yang tidak hanya mencengang Lisa, tapi juga Tuan Bram, pemilik villa itu sendiri.

“Apa maksudmu, Katemi?! Jawab aku!” Tuan Bram turut bersimpuh dan mengguncang bahu Katemi.

“Dia darah dagingku, Bram! Darah daging kita!”

“Tidak! Kau bohong! Kau tidak pernah mengandung, bukan?”

PLAAAK!

Katemi menampar wajah Tuan Bram. Keras. Sangat keras. “Kau pikir ke mana aku pergi selama 7 tahun itu, Bram?!”

Tuan Bram melepaskan cengkramannya di bahu Katemi. Ia terduduk sedikit ke belakang.

“Sejak Maria datang kau tak lagi menatap mataku.” Katemi tertunduk  mendekap tubuh Tian yang kaku. Suaranya geram. “Kau tahu betapa sakitnya melihatmu di pelaminan bersama penyihir itu?”

“Karena itu kau pergi, Katemi?”

“Kau memang sangat bodoh, Bram…” Katemi semakin geram, tapi kemudian ia terbahak. “Ya, tapi aku sudah puas. Kau tahu bagaimana wajah penyihir itu saat ku katakan bahwa Tian adalah darah dagingmu?”

Tuan Bram hanya membisu. Tertunduk.

“Awalnya ia tidak percaya, tapi kau tahu, Bram? Wanita memag makhluk pencemburu yang peka. Bukankah penyihir itu sempat berkali-kali menghardikmu? Meragukan kesetiaanmu? Ya, penyihir bodoh itu sangat yakin aku pernah berhubungan denganmu, dan memang seharusnya be…”

Tuan Bram memeluk Katemi, menghentikan nada sinis perempuan yang sama tua dengannya itu. Seperti tak ada lagi amarah di sana. Udara seakan dipenuhi nostalgia, dan romansa lama yang kembali menguar. Romansa gila.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s