Lukisan (8)


“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Katemi setengah berteriak menyadari kehadiran Lisa di hadapannya.

“Maaf, Bu Katemi. Saya merasa perlu menanyakan beberapa hal.”

“Tidak. Kau salah paham. Aku tidak melakukannya.”

“Oh, tidak. Tidak. Saya paham. Bukankah saya sudah bilang ‘tak mengapa’?” Bagaimana pun Lisa yakin, yang mendaratkan benda tumpul di pelipisnya adalah Katemi. Lisa juga benar-benar tak marah soal itu, bagaimana pun pasti ada sebuah motif yang dapat diterima logikanya.

Katemi terdiam. “Kau tidak marah?” katanya dengan nada takut.

“Tenanglah, Bu. Saya yakin ini hanya kesalahpahaman.” Lisa meyakinkan Katemi. Ia menerapkan dasar-dasar komunikasi yang ia pelajari di bangku kuliah dengan baik.

“Lagipula, bukankah anda terlalu banyak menyimpan sesuatu?” Lanjut Lisa, membaca Katemi lebih dalam lagi. Ada jeda yang cukup panjang di sana. Untungnya lolongan anjing hutan di kejauhan dapat mengisi bunyi-bunyian yang dibutuhkan ruangan terang benderang itu. Lolongan itu setidaknya dapat sedikit menggeser suasana tegang dan canggung dengan suasana mencekam.

“Kau benar…” Katemi luluh. Ia menempati kursinya kembali dan membenamkan wajah dalam tangkup kedua telapak tangannya. Terisak. “Aku tak kuat lagi dengan semua ini. Aku tak tahan lagi.”

“Apa yang terjadi?” Tanya Lisa seraya mendekati Katemi, berusaha menyampaikan sentuhan simpati pada perempuan paruh baya itu.

“Hahahahahaha!” Tawa Katemi tiba-tiba meledak. “Apa yang terjadi katamu?”

Lisa melangkah mundur. Tak mungkin ia tak takut pada perubahan sikap Katemi yang seperti orang gila itu. Lisa yakin ada tekanan mental yang sangat berat sedang menghimpit saraf waras Katemi. Tak hanya Katemi bahkan, Lisa yakin kegilaan yang sama dialami semua penghuni villa itu. Sebelumnya ia mendapati sikap Anne yang ekstrim, lalu perubahan sikap Tian yang sama sekali tak terduga, dan tak terkecuali Tuan Bram, yang walaupun sedikit, tetap saja menunjukkan ketidakwarasan melalui sorot matanya. Lalu sekarang, Lisa berhadapan dengan Katemi yang mungkin tak kalah liar dengan Anne.

Tapi Lisa sudah bertekad. Ia tak akan mundur.

“Apa yang terjadi katamu?” Katemi mengulang racaunya. “Tidakkah engkau sadar Nona? Wanita itu seorang penyihir. Wanita itu seorang penyihir laknat yang kembali hidup sebagai setan!”

“Tenanglah Bu Katemi.” Lisa bergegas menghampiri Katemi yang meracau histeris sembari mengoyak pakaiannya sendiri. Namun  langkah Lisa terhenti, ia kaget dengan apa yang ia lihat.

“Inilah yang ia lakukan padaku Nona.” Kata Katemi lirih. Ia setengah bersujud,  memperlihatkan sebagian punggungnya yang tak lagi terbalut kain utuh. Ada banyak bekas luka di sana, mungkin belasan. Punggung itu tak lagi mulus, bahkan ada bekas jahitan yang memanjang di sana. “Ia yang merasuki Anne! Penyihir itu pasti menaruh dendam padaku!”

Lisa justru semakin tak mengerti, tapi ia menahan diri. Bagaimana pun ia telah melakukan sebuah kesalahan. Luka orang lain yang seharusnya tak ia buka justru ia korek dengan parutan jeruk. Ada sesal di hatinya karena tindakan congkak yang baru saja ia lakukan. Saat itu yang bisa dikatakan Lisa hanya satu.

“Maaf.” Kata Lisa sambil menutupi tubuh Katemi dengan selimut tebal yang tadinya ia kalungi sendiri.

“Tidak. Kau benar.” Jawab Katemi. “Aku memang terlalu banyak menyembunyikan sesuatu. Terutama perasaanku.”

Untungnya keadaan dapat terkendali. Dada Lisa yang semula mengombak kini kembali tenang seiring sengal napas Katemi yang berkurang perlahan. Dengan penuh perhatian Lisa menuntun Katemi kembali duduk, lalu memijit bahu perempuan paruh baya itu dengan lembut. Setidaknya pijitan Lisa bisa mempercepat aliran darah Katemi sehingga segera melarutkan hormon stress dari otaknya.

“Maria memiliki sikap yang baik, tapi minatnya sama sekali bertolak belakang.” Katemi menyingkirkan tangan Lisa dari bahunya dengan lembut. “Sihir. Aku yakin Maria menguasai jenis ilmu hitam itu. Dulu ia menggunakan koin-koin di atas papan sebagai media iblis, atau jelangkung atau sebuah keranjang hias, dan sekarang aku yakin selama ini ia menggunakan anaknya sendiri sebagai media. Ia pasti senang menyiksaku.”

Lisa menghela napas. Benar kata Tuan Bram, Katemi masih lekat dengan tradisi macam itu. Kesaksian dari Katemi sama sekali tak bisa dijadikan acuan. Kata-kata yang meluncur dari mulut Katemi berlandaskan ketakukan dan ketidaksukaannya pada Maria. Namun sebagai pelajar, mengolah informasi macam itu menjadi sebuah sajian data yang dengan mudah dapat dicerna. Kalau tidak, untuk apa setumpuk laporan yang Lisa kerjakan hampir setiap hari?

“Selama apa itu? Lalu kenapa?” Lisa mencecar, berusaha melengkapi himpunan data yang masih kosong di beberapa tempat. Lisa seakan lupa, emosi macam yang telah ia pancing dari Katemi dengan pertanyaan macam itu.

Untungya, Katemi juga sama lupa. Ia menjawab dengan tenang. Sangat tenang. “Dua tahun. Aku berharap tidak ada tahun ketiga, tapi rupanya aku salah. Papan terkutuk itu muncul lagi, padahal aku telah membakar mereka semua—boneka, keranjang dan papan-papan itu.”

Lisa menunggu. Dirinya berlutut untuk menjajarkan telinganya dengan bibir Katemi yang semakin lirih berbunyi. Tangannya menggenggam erat tangan Katemi, berusaha menjadi rangkaian yang menghantarkan  arus simpati.

“Maria menyiksaku karena kedekatanku dengan Tuan Bram. Aku tahu itu. Memang bukan dengan tangan dan mulutnya, tapi dengan sikapnya. Ia tak henti-hentinya menakuti aku dengan menenteng benda-benda terkutuk itu ke mana saja ia pergi.” Katemi menarik napas panjang, lalu menghembuskannya bersama kata-kata. “Setelah Maria meninggal, dendamnya padaku kesumat dalam jiwa Anne. Anne selalu mencari kesempatan untuk memukuli aku sebelum benda-benda terkutuk itu menjadi abu.”

“Maaf…” Kata Lisa, si pelaku penemu papan—atau lebih tepatnya pembuka kotak Pandora.

Katemi menggeleng lemah. “Setidaknya kau mau mendengarkan aku—Tian, dan bahkan Tuan Bram sama sekali tak peduli.”

Lisa tersenyum. Setidaknya ada sedikit kelegaan di hatinya, walau bukan itu yang Lisa cari. Motif Katemi memukulnya belum jelas. “Sebaiknya saya pergi sekarang. Maaf atas segalanya.”

“Maaf.” Kata Katemi sebelum Lisa beranjak terlalu jauh. “Memang aku yang memukulmu. Ku kira kau orang lain. Ku kira kau bayangan itu—yang selalu bergentayangan mengenakan klederdracht.

Lisa mengernyitkan dahi. Ia hanya tersenyum kemudian berbalik menuju kamar remang, lalu segera menuju pintu yang menuju ke koridor.

Di tengah gelapnya koridor itu, Lisa kembali menerka dan menyusun asumsi. Sosok yang mencuri dengar itu jelas bukan Katemi. Tak mungkin Katemi karena ia mengira Lisa adalaha sosok berbalut klederdracht. Artinya, baik Lisa dan Katemi melihat sosok yang sama di dekat tangga.

Klederdracht? Tanya Lisa dalam hati.

Analisis Lisa mengerucut. Hanya ada dua orang yang tidur di lantai dua villa itu. Sementara Tian dan Tuan Bram tak mungkin berada di lantai dua sebelum Lisa karena jalur ke lantai dua hanya satu. Kesimpulannya, sosok yang mencuri dengar itu tak lain adalah ‘dia’.

“Anne?” Tanya Lisa amat penasaran. Sangat penasaran karena di ujung koridor ia melihat sosok putih dalam posisi merangkak. Sosok itu merangkak perlahan sembari menatap ke arah Lisa.

“Anne?”  Suara Lisa lebih tinggi lagi.

Sosok itu berhenti, tapi tatapannya tetap mengarah pada Lisa. Sementara yang ditatap membeku di tempat, merasakan seluruh rambut di tengkuknya berdiri. Sendi-sendinya seakan berkarat. Pita suaranya seperti tergunting. Lisa bahkan dapat mendengar degup jantungnya sendiri, seakan organ pemompa darah itu letaknya ada di balik tempurung kepalanya. Takut.

KREET

Tiba-tiba suara seperti dua benda keras yang dengan sengaja digesekkan terdengar dari belakang. Sangat pelan dan lirih sebenarnya, tapi perasaan terancam yang dirasakan Lisa rupanya telah menajamkan inderanya. Dalam keadaan seperti itu, sistem saraf manusia memang dirancang oleh Pencipta untuk bekerja seperti manusia super.

Fight or flight. Sebuah pilihan yang dengan wajar membebani saraf manusia dalam keadaan terpojok.

BUKK!

Sebuah ayunan keras menghantam Lisa dari belakang. Tanpa peringatan, tanpa keraguan. Ayunan itu benar-benar dengan sengaja dilakukan. Untungnya Lisa berhasil meredamnya dengan kedua lengannya. Entah untung atau itu sebuah kesialan, karena lengannya langsung mati rasa begitu menerima pukulan itu, sementara sebelah kakinya terkilir begitu kerasnya. Lisa terhuyung dan kemudian jatuh. Jelaslah bahwa ini sebuah kesialan, si pemukul kemudian menerkam dan menduduki Lisa.

“Kau tak bisa membodohi aku, Nona. Kau suruhan penyihir itu bukan?”

“Katemi?!” Lisa berusaha menahan tangan Katemi untuk mengayun sekali lagi.

Lisa tidak kaget—tidak dengan kemampuannya berpikir—tapi ada sesuatu yang mencegah akalnya untuk percaya pada peristiwa yang sedang berlangsung saat itu. Namun dengan keadaan jiwa yang berantakan, tak perlu alasan bagi Katemi untuk melakukan hal itu. Lisa salah besar tentang norma dan kesopanan itu.

“Kau yang membawa papan terkutuk itu bukan? Penyihir itu yang menyuruhmu bukan?” Katemi meraung-raung sambil terus berupaya memotong gerakan Lisa dan meloloskan tongkat pemukulnya; sebuah gagang lampu duduk.

Tak butuh waktu lama untuk membuktikan bahwa Lisa kalah kuat. Lisa terus meronta, tapi dengan kelelahan dengan cepatnya mendera. Pada saat kedua tangan dan kakinya mulai payah, yang Lisa lakukan hanya menutup mata dan terus berteriak, berharap pukulan itu tak sempat mendarat sampai bantuan datang—atau seandainya pukulan itu berhasil mendarat, rasa sakitnya bisa dengan cepat berlalu.

.

AAAAAAAAH

.

Katemi tiba-tiba berteriak bersama dengan keberingasannya yang tiba-tiba berhenti.

Cairan kental dan hangat menetes di pipi Lisa, menyarankan agar gadis itu segera membuka mata—dan tentunya kabur menjauhi Katemi. Namun akal dan ego memang hampir selalu bertentangan. Kali ini ego dengan nama alias penasaran menjadi lawan bagi akal Lisa yang sedang berusaha keras mengaktifkan kembali serat-serat ototnya.

Lisa hanya menjauh beberapa jengkal. Ia menyaksikan Katemi yang sedang kesakitan mencengkram lengannya. Lengan itu bersimbah darah karena sebatang gunting rambut yang menancap di antara otot dan pembuluhnya.

Adalah sosok yang sama; sosok yang menancapkan gunting itu, sosok yang merangkak di ujung koridor, dan sosok yang mencuri dengar. Sosok berbalut klederdracht; Anne.

***

Iklan

3 thoughts on “Lukisan (8)

      • oh gitu. iya sama-sama.
        Salam kenal juga. saya Hera Wahyuningtyas Pangastuti, nama penanya Hera Pangastuti. Masih SMA di Klaten, Jateng. 🙂

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s