Lukisan (7)


Lisa terbangun. Matanya berkunang sementara pelipisnya terasa nyeri. Ada kulit yang terkoyak di sudut mata itu, dan mungkin ada sedikit retak pada tulang dibaliknya. Butuh usaha yang besar agar ia bisa menumpu tubuh atasnya dengan otot-otot di pinggulnya. Setidaknya, ia berada di atas kasur empuk sekarang, hal itu meringankan tulang duduknya dalam menumpu beban.

Lisa sedang berada di dalam sebuah kamar tidur lengkap dengan segala perabotnya. Meski hanya diterangi oleh sebatang lampu duduk, ia dapat melihat keberadaan lemari baju di sana. Ada rak buku pula dengan beberapa prakarya seni berjejer rapi di puncaknya. Dua buah kursi yang tidak sejajar berdiri di belakang meja baca. Sepertinya orang yang baru saja menggunakan meja itu bukan orang yang terlalu rapi. Salah satu kursi dibiarkan miring begitu saja, sementara meja belajar itu penuh dengan tumpukan buku. Beberapa buku bahkan dibiarkan terbuka dan saling menumpuk begitu saja.

“Di mana?” Benak Lisa mengajukan tanya yang tertahan di pangkal tenggorokannya yang kering disesaki dahaga.

Lisa berusaha menggapai gelas penuh air di meja sebelahnya, tapi tangannya terasa berat. Apalagi pandangannya masih penuh dengan kunang-kunang yang berseliweran. Alhasil jatuhlah tabung yang terbuat dari kaca itu. Meski tidak pecah, hantaman gelas kaca dengan lantai kayu itu rupanya mampu mengelus selaput gendang telinga seseorang yang sedang menunggu di luar ruangan.

Katemi. Perempuan paruh baya itu membuka pintu kamar dengan perlahan.

“Kau sudah sadar rupanya.” Kata Katemi dengan senyum manis yang mengembang.

“Apa yang terjadi?”

“Kau tidak ingat?” Katemi duduk di sisi ranjang. “Aku juga tak tahu apa yang terjadi padamu. Kau sudah tergeletak di dekat tangga dengan pelipis tersobek saat aku menemukanmu.”

Lisa bergeming. Ngeri dan merinding. Ia menyapu kening dan pelipisnya yang terasa lebih leluasa tanpa bingkai kacamata bertengger di sana. Seingatnya, ia baru saja mengejar sosok yang menumpang dengar percakapannya dengan Tuan Bram. Namun di ujung tangga lantai dua sesuatu yang keras—yang sepertinya berbahan kayu—mengecup pelipisnya. Setelah itu yang Lisa ingat hanya gelap.

“Pukul berapa sekarang?” Lisa berusaha mengenyahkan traumanya.

“Entahlah.” Jawab Katemi sambil menolehkan wajahnya pada jam bandul antik yang bertengger di salah satu sisi kamar. Bandul jam itu sama sekali tak bergerak, jarum detiknya tak terlihat sedang berhenti di mana, tetapi jarum menit dan jamnya terlihat jelas sedang membentuk sudut. Pukul 12.45. Jarum-jarum itu membeku di sana.

Lisa tersenyum. Ia tak berhasil memperoleh detil waktu, tapi dengan keadaan ruang yang gelap dan lampu yang dialiri arus listrik Lisa bisa yakin kalau hari masih malam atau dini hari. Pagi buta.

Buta? Lisa mencari-cari di sekelilingnya. Kunang-kunang yang lalu lalang mungkin bukan cuma karena nyeri di pelipisnya, tapi juga karena lensa yang biasa menutupi matanya tidak sedang bertengger di tempatnya.

“Kau istirahat saja.” Kata Katemi yang membaca gelagat Lisa. “Hari sudah larut walau aku tak tahu sampai sampai mana ia larut. Malam di sini memang bisa mengaburkan inderamu, kau tahu?”

Lisa terbengong melihat raut wajah Katemi yang penuh dengan gurat tertekan, dan entah kenapa, ada amarah di sana. Selanjutnya, Lisa hanya menggeleng.

“Tidak Bu, aku baik-baik saja. Aku kehilangan rasa kantuk dan lagipula lebih baik aku tidur di kamarku sendiri.” Lisa tersenyum, berusaha menampakkan keramahan dan rasa terimakasihnya.

Katemi tidak membalas, ia hanya mempertahankan bibirnya tetap melengkung sekian derajat. Ia mengeluarkan sesuatu dari kantung baju panjangnya; sebuah kacamata yang tak lagi utuh. Sebelah lensanya hilang dan bingkainya pun turut patah. Sebelah tangkai itu lepas dan tak lagi 180 derajat.

“Maaf.”

“Tak mengapa. Ini bukan salah anda. Saya justru harus berterimakasih karena anda telah repot untuk mencarinya.”

Lisa menerima kacamatanya tanpa raut wajah kecewa sedikitpun. Ia mengeluarkan beberapa benda dari saku bajunya; selotip, tali karet, dan yang paling tak terduga adalah sebuah lensa cadangan. Benda-benda tak terduga itu benar-benar berhasil memancing tawa Katemi. Lisa memang sudah dekat benda bernama kacamata dan segenap masalahnya. Oleh karena itu, Lisa selalu selalu menyiapkan peralatannya—meski dengan metode yang tak lazim dan terkesan urakan.

Katemi bangkit dari duduknya. Raut geli dan tawa seakan raib begitu saja dari wajahnya. Walau senyumnya masih tersungging, hal itu tidak mengubah sorot matanya yang penuh rasa tertekan. Tanpa berkata-kata, Katemi merentangkan sebelah lengannya, menunjukkan selembar pintu yang berbeda dengan pintu ruangan tempat ia datang.

“Mengusir.” Ketus Lisa dalam hati. “Dengan sangat lembut.”

Selembut apapun, tetap saja itu terlihat sebagai pengusiran. Lagi-lagi tanpa sepatah kata, Katemi berbalik meninggalkan Lisa ke ruangnya semula.

Lisa menggeleng. Sikap Katemi yang bisa lembut tetapi tak jarang sangat tidak mengenakkan itu membuat Lisa heran dan semakin bingung. “Ada apa dengan penghuni kediaman ini?!”

Bukan Lisa namanya jika ia langsung menuju kamarnya di lantai satu dan mendekam di sana sampai fajar menyingsing. Alih-alih pintu yang ditunjukkan Katemi, Lisa justru mengekor Katemi ke ruangannya. Setelah Tian dan Tuan Bram—yang tidak memberikan informasi berarti—ia rasa ini adalah saat yang tepat untuk menanyai Katemi perihal kejanggalan yang ia rasakan di villa itu. Apalagi setelah kejadian yang baru saja menimpanya. Jelas ada orang yang tak berkenan—walau tak sampai mencabut nyawa—dengan tindakan Lisa yang menebar tanya dan mondar-mandir serupa penyidik.

Hanya sebentar saja. Lisa segera menghampiri ruang tempat Katemi berada. Daun pintu bergeming dan jelas belum dikuci. Lisa melihat dan memperhatikan Katemi sedari tadi. Rasa tertekan—dan mungkin amarah—bisa jadi membuat Katemi terburu-buru dan mengayun daun pintu tanpa memutar kunci di lubangnya. Lisa menggenggam kusen pintu dengan perlahan. Ia memang sengaja tidak mengetuk, takut-takut Katemi akan mengusirnya atau bahkan mengunci pintu itu dan menghempas kesempatannya untuk bertanya.

Apapun reaksi Katemi nanti, Lisa akan tetap masuk. Dalam ruangan itu, pasti Katemi tak akan punya banyak cara untuk mengusirnya, tentunya karena alasan norma kesopanan dan lain sebagainya. Itu terlihat dari cara ia mengusir Lisa sebelumnya. Agak mengganjal sebenarnya bagi Lisa untuk bersikap manipulatif seperti itu, tapi kejanggalan yang Lisa rasakan di villa itu sangat haus akan penggenapan. Ya, apapun reaksi Katemi nanti, Lisa harus bertanya saat itu juga.

***

Iklan

2 thoughts on “Lukisan (7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s