Lukisan (6)


“Kau pasti heran dengan apa yang terjadi malam ini.” Tuan Bram memulai pembicaraan setelah masa lengang yang cukup panjang.

Lisa mengurungkan niatnya menapaki anak tangga ke atas. Ia berjalan mundur dengan hati-hati kemudian menghampiri Tuan Bram. Ia menyusur ruang itu, berusaha menemukan dudukan yang bisa ia gunakan untuk menyamakan tinggi telinganya dengan bibir Tuan Bram.

“Seperti yang kau lihat, Nona. Aku bukan pribumi.” Tuan Bram menyambung kata-katanya setelah yakin tamunya, Lisa, telah menemukan landasan yang nyaman untuk tulang duduknya. “Aku datang ke tempat ini 13 tahun lalu dalam rangka menyelesaikan tesisku.”

“Anda sendiri?” Tanya Lisa.

“Ya. Sebenarnya tesis itu hanya alasanku. Tugas itu tak pernah selesai, bahkan dengan bantuan penuh dari Katemi.”

“Lalu, apa alasan anda kemari?”

Tuan Bram terkekeh. “Menghindar.”

“Menghindar?” Lisa mengangkat sebelah alisnya.

“Kau tahu, kehidupanku di tanah Holland sana tidak begitu menyenangkan. Selebihnya, tak perlu kau tanyakan.”

“Lalu, bagaimana dengan Nona Maria?”

“Ia datang 4 tahun kemudian.” Tuan Bram tersenyum, matanya berbinar. “Ia tunanganku di Holland. Setelah menyadari penghianatanku terhadap keluarga besarku di sana, ia justru menyusulku. Ia meninggalkan kehidupannya di sana, dan bahkan membawa simpanan pribadinya kemari.”

Lisa mengangguk pelan. Lisa yakin bahwa Tuan Bram dan istrinya berasal dari keluarga berkantung tebal. Terlihat dari perabot yang ada di vila itu, yang tak mungkin dibeli orang biasa.

“Lalu bagaimana anda bertemu dengan Bu Katemi dan Tian?”

“Katemi, seperti yang ku jelaskan sebelumnya, dialah yang membantuku menyusun tesis. Ia bahkan memberiku tumpangan hidup sebelum Maria datang dan membangun vila ini dengan harta simpanannya.” Tuan Bram merebahkan punggungnya di sandaran kursi yang mungkin sama tuanya dengan Lisa. “Sementara Tian, si brengsek itu hanya seorang yatim manja yang dipungut Maria dari desa sebelah. Walau harus ku akui, seiring tumbuh besarnya anak itu, ia berubah menjadi sangat berguna.”

Lisa bergeming sambil memasang senyum beku nan kaku. Ia seakan sengaja melakukan pemborosan waktu. Belum ada keterangan Tuan Bram yang membantunya tentang kejadian di kediaman itu, dan Lisa juga tak berani bertanya.

“Oh, iya. Soal Anne dan kejanggalan apapun yang kau rasa di vila ini, jangan ambil pusing.” Tuan Bram memecah keheningan, menyadari apa yang sebenarnya dipikirkan Lisa. “Anne terpukul sejak kepergian ibunya. Sementara tentang papan itu, sekali lagi, jangan ambil pusing. Maria memang menyukai hal-hal okultisme semacam itu.”

“Jadi papan itu milik Nona Maria?” Tanya Lisa, terpancing.

“Ya, itu miliknya. Aku bisa memberimu banyak koleksi Maria yang seperti itu. Ia bahkan punya koleksi Jelangkung!”
Lisa menggaruk-garuk kepalanya. Ia tak habis pikir Nona Maria yang terlihat agun seperti itu memiliki hobi yang tak lazim. Dan angker.

“Dan aku yakin kau tidak benar-benar berpikir hobi Maria itu berhubungan dengan, Anne bukan? Lanjut Tuan Bram.

“Oh, tidak. Tidak. Tentu tidak.” Jawab Lisa Rikuh. “Saya besar di lingkungan akademis, Pak. Hal-hal semacam itu adalah tema paling akhir yang akan saya bahas.”

“Bagus. Aku harap kau tidak bersikap paranoid seperti Tian dan Katemi. Mereka memang pribumi yang sedikit banyak terikat tradisi. Dan bagaimanapun, kepergian Maria memberikan pukulan pada semua orang di sini, termasuk mereka.”
Tuan Bram segera bangkit usai menyelesaikan kalimatnya. Ia segera berbalik menuju kamarnya. Tangannya ia lambaikan, isarat agar Lisa juga segera beristirahat.

“Tunggu.” Cegah Lisa. “Mengenai kematian Nona Maria…”

“Ya?”

“Oh, tidak. Tidak mengapa.”

Lisa mengurungkan niatnya bertanya, sementara Tuan Bram hanya tersenyum dan lanjut melangkah ke arah kamarnya. Lisa segera mengalihkan pandangannya ke ujung tangga yang menuju lantai dua. Di sana ada yang membuat Lisa melipat kembali lidahnya tadi. Ada sosok yang baru saja berkelebat di ujung tangga itu. Ada yang menumpang dengar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s