Lukisan (5)


Bagaimana pun, sikap Tian atas kematian Nona Maria dapat dianggap berlebihan. Mendengar kesaksian Tian yang janggal, Lisa sebenarnya ingin mencecar lagi. Namun ia tahu, bukan begitu caranya bersikap, lebih-lebih pada mereka yang jiwa dan hatinya terluka.

Nona Maria, aku Tian, jatuh dari atas tangga menuju lantai dua. Beberapa anak tangga yang patah diduga menjadi penyebabnya. Tian menganggap dirinya lalai, pasalnya ia lah yang mendirikan sebagian dari kediaman itu. Namun yang paling aneh bagi Lisa bukanlah kesaksian tentang anak tangga yang patah, melainkan kesaksian bahwa Nona Maria ditemukan tak bernyawa dalam keadaan telentang. Ia meninggal karena benturan di tempurung kepala belakangnya.

“Bagaimana mungkin orang yang jatuh dari tangga berakhir dengan posisi badan telentang?” Lisa bertanya-tanya sambil menimang langkahnya di sepanjang anak tangga lokasi kejadian beberapa tahun lalu.

“Kecuali jika orang itu melakukan gerakan memutar dengan kelipatan 900 sebelum mencapai lantai.” Lisa berkelakar pada dirinya sendiri. Ia membayangkan seorang gadis dalam busana Klederdracht melakukan tendangan berputar a la Bruce Lee.

“Atau jika orang itu didorong?” Lisa menghentikan kegiatannya naik turun tangga. Ia memperhatikan urutan tangga kedua dan ketiga dari atas. Mengetuknya. Kemudian bergeming sejenak.

Tak ada yang bisa disimpulkan dengan pasti di sini, gumam Lisa. Tak ada gambaran jelas bagaimana bentuk luka di tempurung kepala Nona Maria. Tidak pula pada anak tangga yang dikatakan patah. Tak ada gambaran detil mengenai keadaan tempat kejadian bertahun-tahun yang lalu itu.

Lisa turun ke lantai satu. Ia menjajal kepalannya di atas lantai kayu yang dingin. Lagi-lagi ia membayangkan serupa apa kejadian saat Nona Maria membentur lantai dengan kepalanya. Asumsi Lisa bulat. Penyebab kematian Nona Maria adalah benturan keras di kepala bagian belakang. Sebab menurut kesaksian Tian, tak ada tanda-tanda luka lain. Jika Nona Maria memang didorong jatuh, maka si pendorong adalah orang yang ia kenal. Lisa berusaha menarik asumsi kedua.

Butuh tenaga yang besar untuk mendorong Nona Lisa jatuh ke belakang tanpa menyebabkan bagian kakinya tergores sudut anak tangga yang keras dan sedikit tajam. Tapi asumsi itu segera Lisa tarik kembali ketika ia mengukur kemiringan tangga.

Cukup curam. Tak butuh tenaga yang besar untuk mendorong Nona Maria—yang menurut pengamatan Lisa dari lukisan Tian—berpostur kecil. Lisa merasa bahwa ia pun dapat melakukannya. Artinya, si pendorong bisa saja laki-laki atau perempuan.

Buntu. Melakukan reka adegan di tanpa saksi kunci dan alat bukti yang memadai tentunya hampir tidak mungkin. Adanya kebenaran dari imaji Lisa hanya akan dianggap sebuah kebetulan, selebihnya hanya akan dianggap gosip tanpa dasar.

Lisa bergeming. Sebelah tangannya kembali melingkar di perut, sementara sebelah yang satu menopang dagu. Jemari Lisa merayap ke batang hidung, kemudian berhenti tepat di antara kedua matanya. Seperti biasa, Lisa mulai menggerakkan bingkai kacamatanya. Ada yang menarik dari hal-hal yang ia amati selama di vila  itu. Meski semuanya tampak terpisah, Lisa yakin semua berhubungan.

Lisa membangun kembali imajinya. Tentang papan ouija yang ia temukan, ternyata Tian ada di balik semuanya. Tetapi gelagat Katemi menunjukkan adanya hubungan antara papan itu dengan Anne yang bertingkah tidak waras. Lisa mengambil simpulan. Orang berikut yang akan temui adalah pelayan cantik nan galak itu.

“Belum tidur?” Seseorang menegur dari belakang.

“Oh, Tuan Bram.” Lisa menyahut setelah menyadari sosok di belakangnya. “Ya, saya sedang insomnia.”

“Ada yang bisa saya bantu? Sepertinya anda sedang mencari-cari sesuatu…”

Lisa menimang-nimang jawabannya. Jika ia sampai sampai salah mengeluarkan kata-kata, tentu akan sangat mengusik perasaannya—dan tuan Bram tentunya. Apalagi setelah kejadian di meja makan tadi siang.

“Ehm, sebenarnya…” Lisa menyeret lidahnya. “Saya merasa menyesal telah menemukan benda itu. Karena itu Nona Anne…”

HAHAHA! Kata-kata Lisa terpotong bahak Tuan Bram yang sangat jelas dipaksakan. “Kau percaya itu? Siapa yang memberitahumu hal konyol seperti itu? Tian? Katemi?”

“Tidak. Tidak. Saya hanya menduganya—hal ‘konyol’ itu.  Tapi kalau bisa, saya ingin mendapatkan jawaban dari Tian dan Katemi tentang apa yang sebenarnya terjadi.”

“Kalau begitu, bagaimana jika saya yang kau tanya?”

Lisa mengernyitkan dahi. Ada yang aneh dengan sikap Tuan Bram malam ini.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s