Ibu Perbu


KAU tak perlu memoles bibir, atau menyapukan bedak di wajahmu seperti perempuan ningrat lainnya. Bagimu, cukuplah basah air wudhu yang jadi perias. Bahkan keriput kulit dan gemertak bunyi tulangmu adalah sebuah pesona. Pesona yang sama, yang menawan Pangeran Suriatmaja1 dalam rasa takjub dan hormat. Pangeran itu lah—yang karena rasa hormatnya—menempatkanmu di kediamanmu kini.

Ibu Perbu

Begitulah penduduk Sumedang masa itu memanggilmu. Bagi mereka, engkau adalah penghuni baru kediaman Haji Ilyas yang penuh dengan ilmu dan tak pongah pula membaginya. Mereka memanggilmu “Ibu Perbu” tanpa tahu namamu, asalmu, ataupun riwayat dibalik keriput dan gemertak tubuh tuamu.

***

1
Bertahun-tahun yang lalu

PLAK!

Tangannya mengayun ringan, mendarat di pipi Cut Gambang yang tak lain adalah darah dagingnya sendiri. Namun begitu, bukan berarti bahu yang menggerakkan tangan itu tanpa beban. Keserakahan penjajah telah merenggut tanah dan orang-orang yang ia sayang. Dulu di Sela Glee, sekarang di Meulaboh. Teuku Umar, imam sekaligus pemimpin laskarnya, ambruk diterjang pelor Belanda.

“Dengar!” Bentak Cut Nyak Dhien pada putrinya. “Kita perempuan Aceh tak menumpahkan air mata atas mereka yang syahid!”

Cut Gambang berhenti terisak, meski bahu yang diredam rengkuh ibunya itu masih bergetar hebat. Para pejuang bergeming menyaksikan ketegaran yang lebih kokoh dari tembok Kuta Lamnga itu. Dan bagi mereka kehilangan macam itu mmang tak lebih sebagai sabut kelapa yang dilempar ke dalam api.

“Allahu Akbar! Allahu Akbar!”

Rencong-rencong melesak dari sarungnya, dihunus tinggi ke udara. Tembok-tembok kuta Aceh bisa runtuh digodam bola meriam, tapi tidak dengan semangat mereka. Dengan atau tanpa Teuku Umar, perjuangan harus dilanjutkan.

“Allahu Akbar!”

Cut Nyak Dhien turut menghunus rencong. Semangat dalam tubuh tua dan ringkih itu sesungguhnya tak akan pernah padam. Sekarang, ia sendiri yang akan memimpin pasukan melawan penjajah.

2
Semenjak Citadel van Antwerpen2 memuntahkan pelurunya pertama kali di tanah Aceh, semangatnya belum pernah padam dan makin berkobar manakala Baiturrahman dengan lancangnya disulut api. Cut Nyak Dhien selalu menyokong suaminya, Ibrahim Lamnga, bahkan di tengah kelebat ronceng dan desing pelor. Bahkan dentum bola meriam tak menciutkan nyalinya barang seujung rambut manakala bola itu berhasil meruntuhkan tembok Kuta Lamnga pada 1874. Yang sempat meruntuhkan tembok rasanya adalah kematian sang suami di ujung senapan Belanda empat tahun berikutnya. Tinggallah Cut Nyak Dhien dengan para penyintas dan anak lelakinya yang seumur jagung.

Namun, tak perlu waktu lama bagi perempuan Aceh untuk bangkit, lebih-lebih jika orang itu adalah Cut Nyak Dhien. Dalam jangka dua tahun, Cut Nyak Dhien kembali menikahi salah seorang panglima Aceh. Teuku Umar namanya, ayah Cut Gambang. Dengan demikian, semangat perjuangan semakin membara, berkobar. Inilah salah satu perlawanan besar rakyat Aceh pada Belanda yang berikutnya.

3
“Nyak Dhien” Tegur Pang Karim lembut.

Teguran orang kepercayaannya itu membuyarkan lamunan Nyak Dhien. Pandangan yang sempat menerawang jauh ke belakang itu kembali ke bidangnya. Kabur. Bukan lantaran rintik hujan yang turun dan memberatkan kelopak matanya, tapi memang karena lingkar mata itu telah tua dan kehilangan kemampuannya untuk melebar dan menyempit.

“Baiklah, kita kembali.” Jawab Nyak Dhien dari atas tandu, seakan mengerti maksud tegur Pang Karim.

Pang Laot Ali yang merupakan panglima utama Nyak Dhien belum juga kembali, padahal angkasa sudah tak biru lagi. Cut Nyak Dhien dan pasukannya yang bisa dihitung dengan jari baru saja mencecar salah satu pangkalan Belanda di pedalaman Meulaboh. Cara biasa tak lagi mempan pada Belanda. Mereka makin seranta dengan tinggi rendahnya tanah Aceh. Sementara itu, keganasan pasukan De Marsose3 rupanya mampu membunuh semangat perjuangan rakyat Aceh di mana-mana. Akibatnya banyak yang turun senjata, bahkan berbalik pihak. Perang berbasis benteng tak lagi aman dengan senjata Belanda yang canggih dan beredarnya penghianat di mana-mana. Dengan pejuang yang juga semakin turun jumlahnya, Cut Nyak Dhien lebih memilih untuk bergerilya. Dengan taktik gerilya inilah Nyak Dhien dan pasukannya membuat penjajah Belanda kejang otot akibat was-was akan serangan yang entah kapan dan darimana.

Dan seharusnya para penyerbu berkumpul di tempat itu manakala angkasa mulai kemerahan. Tapi tidak dengan Pang Laot Ali. Meski mendung lebih banyak di atas sana, tak mungkin jika Pang Laot Ali tidak tahu sang waktu sedang berada di wilayah berapa. Kalau sudah begitu, jawaban yang tersisa adalah Pang Laot Ali tertangkap atau gugur.

Tak ada guna berprasangka Pang Laot Ali sudah tertangkap, bermuramdurja pun tak akan menghiupkan Pang Laot Ali seandainya ia gugur. Mereka harus segera bergerak sebab waktu berbuka tinggal beberapa jenak. Bagaimana pun, para pejuang itu juga butuh makan, meski di pedalaman rimba Beutong Le Sageu yang bisa mereka dapatkan hanya beberapa jenis semak yang dapat dimakan. Kalau beruntung, bolehlah binatang hutan yang lain jadi santapan.

“Ambil jalan memutar!” Nyak Dhien menurunkan perintah, ada yang mengganjal dalam benaknya saat itu.

Serentak pasukan yang tak seberapa jumlahnya itu bergerak dengan Cut Nyak Dhien ditandu paling depan karena encok yang ia derita sama sekali tak memungkinkan Cut Nyak Dhien berjalan jauh dengan kakinya sendiri. Sementara Cut Gambang berjalan di belakang, gelisah, seakan turut merasakan langsung apa yang ada dalam benak ibunya.

Benar saja perasaan Cut Nyak Dhien. Belum terlalu jauh rombongan itu bergerak, dua orang serdadu Belanda melintas tak jauh di depan mereka.

Rebellen4!” Pekik salah satu serdadu itu.

Tapi belum sempat rekannya menangkap isarat, Pang Karim dengan sigap melempar rencongnya menghujam dalam di dada sang serdadu. Melihat rekannya meregang nyawa di tanah, serdadu yang satu lagi dengan cepat memasang bidikan. Tapi bidikan itu tak segera siap sebab musuhnya tak lagi diam. Nyak Dhien sendiri telah menghilang dari bidang pandangnya.

DOR!

Tak ada pejuang Aceh yang tertembak. Salah seorang pejuang telah menggorok leher sang serdadu sebelum bidikan serdadu itu mantap. Tapi sayang pelatuk terlanjur dipicu. Bunyi ledak mesiu itu pasti terdengar walau di kejauhan.

Tanpa banyak kata, seluruh pasukan Aceh berkumpul dan bergerak sekian jauhnya dalam barisan acak. Sementara beberapa orang menyebar di sekitar untuk menilik keadaan. Mereka belum bisa bergerak terlalu jauh, setidaknya sampai keberadaan musuh bisa dipastikan.

“Ada penghianat?” Kata salah satu dari mereka.

Cut Nyak Dhien Bungkam di atas tandunya. Ia ingin menganggap ini suatu kebetulan, tetapi akalnya menyangkal. Waktu dan tempatnya sangat tepat untuk penyergapan. Selain itu, ada telik sandi pasukan Aceh yang berjaga di sekitar tempat itu. Kedua serdadu Belanda itu tak mungkin iseng menjelajah hutan, mereka pasti bergerak dalam jumlah yang lebih besar—entah berapa itu. Dan tak mungkin satu pun telik sandi yang tidak menyadari kehadiran mereka.

Kecuali jika para telik sandi itu telah lebih dulu dibedil Belanda!

Nyak Dhien menggeleng keras. Ia kembali berusaha membuang jauh pikiran macam itu.

“Ada banyak!” Tiba-tiba seorang pejuang Aceh kembali, terengah-engah. “Banyak sekali!”

Seluruh perhatian tertuju pada si pembawa pesan.

“Pang Laot Ali! Aku melihat Pang Laot Ali di sana, bersama Kaphe Ulanda5 berpangkat kapten!”

Semua riuh. Tak ada yang berpikir jernih. Tentu saja, apalagi setelah kenyataan bahwa Pang Laot Ali membelot. Dan pula, terjawablah segala kejanggalan yang di rasa Cut Nyak Dhien. Lalu, jika Pang Laot Ali bersama seorang kapten sekarang, maka tentulah personil yang dibawanya lebih-lebih dari sepuluh lusin. Dalam keadaan terkepung seperti itu, jawaban yang tersisa lagi-lagi cuma dua; tertangkap atau gugur.

“Cut Gambang” Cut Nyak Dhien mencengkram pundak anaknya. “Engkau pergilah! Di tengah keributan nanti, engkau pergilah! Tugasmu membangkitkan kembali semangat rakyat Aceh di luar sana!”

Cut Gambang nanar. Ia langsung memeluk ibunya dan berharap pelukan itu tak akan lepas selamanya. Tapi ia tahu, kata-kata ibunya barusan adalah permintaan sekaligus perintah. Tugasnya sekarang adalah menyusun kembali kekuatan rakyat Aceh yang tersisa di luar sana. Bagaimana pun Cut Gambang harus rela berpisah dengan ibunya, demi tanah air, demi rakyat dan bangsanya, demi perjuangan!

Walau itu artinya Cut Gambang tak akan melihat ibunya lagi sampai akhir hayat.

***

Engkau menutup mata lagi. Berusaha menelusur setiap nikmat yang kau rasa walau tak ‘kan mungkin sanggup kau hitung.

Engkau tersenyum tipis di dudukanmu. Perjuanganmu di tanah Perca6 pungkas di tengah-tengah bulan puasa dan berakhir pada pengasinganmu ke tanah Jawa. Semuanya tak harus berakhir seperti ini jika bukan karena sebuah penghianatan. Sebuah penghianatan yang tak bisa kau terima alasannya. Karena sang penghianat tak tega akan kondisimu yang rabun, encok dan tanpa lingkungan hidup yang layak di masa-masa tuamu. Tapi apapun alasannya, engkau telah memaafkannya, maka itulah kau tersenyum sekarang.

Bagaimanapun inilah takdir. Inilah takdir yang membawamu ke kediaman ini alih-alih penjara yang disiapkan penjajah.

Bahkan setelah seluruh kehilanganmu itu—keluarga, kerabat, kampung halaman dan banyak lagi—kau rasa pengorbananmu belumlah cukup. Maka, meski tangan rentamu tak lagi sanggup menghunus rencong, jarimu masih bisa bergerak menunjuki ayat-ayat Alquran dan lisanmu masih sanggup berbunyi, melantun dan mengajarkan ayat-ayat itu. Begitulah, sampai sekarang pun engkau masih berjuang.

Bagimu, cukuplah harta di dunia ini berupa nikmat akan lintasan kenangan saat kau memejamkan mata. Bau tanah yang dikuar hujan, gema di langit-langit Baiturrahman, sorak sorai nyanyian rakyat, semua dan semuanya. Dan tentu suara-suara orang tersayang yang menggema lamat-lamat dalam pejammu. Memanggilmu.

Dhien… Nyak Dhien…

Listian Nova, 13-08-2014

***

1 Pangeran Aria Suriatmaja; Bupati Sumedang (1882-1919)
2 Citadel van Antwerpen; sebuah nama kapal perang Belanda
3 De Marsose atau Korps Maréchaussée; satuan militer yang dibentuk pada masa kolonial
4 Rebellen (dutch); Pemberontak
5 Kaphe Ulanda (Kafir Belanda); Sebutan rakyat Aceh tehadap penjajah Belanda
6 Perca; Sumatera

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s