Lukisan (8)


“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Katemi setengah berteriak menyadari kehadiran Lisa di hadapannya.

“Maaf, Bu Katemi. Saya merasa perlu menanyakan beberapa hal.”

“Tidak. Kau salah paham. Aku tidak melakukannya.”

“Oh, tidak. Tidak. Saya paham. Bukankah saya sudah bilang ‘tak mengapa’?” Bagaimana pun Lisa yakin, yang mendaratkan benda tumpul di pelipisnya adalah Katemi. Lisa juga benar-benar tak marah soal itu, bagaimana pun pasti ada sebuah motif yang dapat diterima logikanya.

Katemi terdiam. “Kau tidak marah?” katanya dengan nada takut.

“Tenanglah, Bu. Saya yakin ini hanya kesalahpahaman.” Lisa meyakinkan Katemi. Ia menerapkan dasar-dasar komunikasi yang ia pelajari di bangku kuliah dengan baik.

“Lagipula, bukankah anda terlalu banyak menyimpan sesuatu?” Lanjut Lisa, membaca Katemi lebih dalam lagi. Ada jeda yang cukup panjang di sana. Untungnya lolongan anjing hutan di kejauhan dapat mengisi bunyi-bunyian yang dibutuhkan ruangan terang benderang itu. Lolongan itu setidaknya dapat sedikit menggeser suasana tegang dan canggung dengan suasana mencekam.

“Kau benar…” Katemi luluh. Ia menempati kursinya kembali dan membenamkan wajah dalam tangkup kedua telapak tangannya. Terisak. “Aku tak kuat lagi dengan semua ini. Aku tak tahan lagi.”

“Apa yang terjadi?” Tanya Lisa seraya mendekati Katemi, berusaha menyampaikan sentuhan simpati pada perempuan paruh baya itu.

“Hahahahahaha!” Tawa Katemi tiba-tiba meledak. “Apa yang terjadi katamu?”
Baca lebih lanjut

Lukisan (7)


Lisa terbangun. Matanya berkunang sementara pelipisnya terasa nyeri. Ada kulit yang terkoyak di sudut mata itu, dan mungkin ada sedikit retak pada tulang dibaliknya. Butuh usaha yang besar agar ia bisa menumpu tubuh atasnya dengan otot-otot di pinggulnya. Setidaknya, ia berada di atas kasur empuk sekarang, hal itu meringankan tulang duduknya dalam menumpu beban.

Lisa sedang berada di dalam sebuah kamar tidur lengkap dengan segala perabotnya. Meski hanya diterangi oleh sebatang lampu duduk, ia dapat melihat keberadaan lemari baju di sana. Ada rak buku pula dengan beberapa prakarya seni berjejer rapi di puncaknya. Dua buah kursi yang tidak sejajar berdiri di belakang meja baca. Sepertinya orang yang baru saja menggunakan meja itu bukan orang yang terlalu rapi. Salah satu kursi dibiarkan miring begitu saja, sementara meja belajar itu penuh dengan tumpukan buku. Beberapa buku bahkan dibiarkan terbuka dan saling menumpuk begitu saja.

“Di mana?” Benak Lisa mengajukan tanya yang tertahan di pangkal tenggorokannya yang kering disesaki dahaga.
Baca lebih lanjut

Lukisan (6)


“Kau pasti heran dengan apa yang terjadi malam ini.” Tuan Bram memulai pembicaraan setelah masa lengang yang cukup panjang.

Lisa mengurungkan niatnya menapaki anak tangga ke atas. Ia berjalan mundur dengan hati-hati kemudian menghampiri Tuan Bram. Ia menyusur ruang itu, berusaha menemukan dudukan yang bisa ia gunakan untuk menyamakan tinggi telinganya dengan bibir Tuan Bram.

“Seperti yang kau lihat, Nona. Aku bukan pribumi.” Tuan Bram menyambung kata-katanya setelah yakin tamunya, Lisa, telah menemukan landasan yang nyaman untuk tulang duduknya. “Aku datang ke tempat ini 13 tahun lalu dalam rangka menyelesaikan tesisku.”

“Anda sendiri?” Tanya Lisa.

“Ya. Sebenarnya tesis itu hanya alasanku. Tugas itu tak pernah selesai, bahkan dengan bantuan penuh dari Katemi.”

“Lalu, apa alasan anda kemari?”

Tuan Bram terkekeh. “Menghindar.”

“Menghindar?” Lisa mengangkat sebelah alisnya.

“Kau tahu, kehidupanku di tanah Holland sana tidak begitu menyenangkan. Selebihnya, tak perlu kau tanyakan.”

“Lalu, bagaimana dengan Nona Maria?”

“Ia datang 4 tahun kemudian.” Tuan Bram tersenyum, matanya berbinar. “Ia tunanganku di Holland. Setelah menyadari penghianatanku terhadap keluarga besarku di sana, ia justru menyusulku. Ia meninggalkan kehidupannya di sana, dan bahkan membawa simpanan pribadinya kemari.”

Lisa mengangguk pelan. Lisa yakin bahwa Tuan Bram dan istrinya berasal dari keluarga berkantung tebal. Terlihat dari perabot yang ada di vila itu, yang tak mungkin dibeli orang biasa.

“Lalu bagaimana anda bertemu dengan Bu Katemi dan Tian?”

“Katemi, seperti yang ku jelaskan sebelumnya, dialah yang membantuku menyusun tesis. Ia bahkan memberiku tumpangan hidup sebelum Maria datang dan membangun vila ini dengan harta simpanannya.” Tuan Bram merebahkan punggungnya di sandaran kursi yang mungkin sama tuanya dengan Lisa. “Sementara Tian, si brengsek itu hanya seorang yatim manja yang dipungut Maria dari desa sebelah. Walau harus ku akui, seiring tumbuh besarnya anak itu, ia berubah menjadi sangat berguna.”

Lisa bergeming sambil memasang senyum beku nan kaku. Ia seakan sengaja melakukan pemborosan waktu. Belum ada keterangan Tuan Bram yang membantunya tentang kejadian di kediaman itu, dan Lisa juga tak berani bertanya.

“Oh, iya. Soal Anne dan kejanggalan apapun yang kau rasa di vila ini, jangan ambil pusing.” Tuan Bram memecah keheningan, menyadari apa yang sebenarnya dipikirkan Lisa. “Anne terpukul sejak kepergian ibunya. Sementara tentang papan itu, sekali lagi, jangan ambil pusing. Maria memang menyukai hal-hal okultisme semacam itu.”

“Jadi papan itu milik Nona Maria?” Tanya Lisa, terpancing.

“Ya, itu miliknya. Aku bisa memberimu banyak koleksi Maria yang seperti itu. Ia bahkan punya koleksi Jelangkung!”
Lisa menggaruk-garuk kepalanya. Ia tak habis pikir Nona Maria yang terlihat agun seperti itu memiliki hobi yang tak lazim. Dan angker.

“Dan aku yakin kau tidak benar-benar berpikir hobi Maria itu berhubungan dengan, Anne bukan? Lanjut Tuan Bram.

“Oh, tidak. Tidak. Tentu tidak.” Jawab Lisa Rikuh. “Saya besar di lingkungan akademis, Pak. Hal-hal semacam itu adalah tema paling akhir yang akan saya bahas.”

“Bagus. Aku harap kau tidak bersikap paranoid seperti Tian dan Katemi. Mereka memang pribumi yang sedikit banyak terikat tradisi. Dan bagaimanapun, kepergian Maria memberikan pukulan pada semua orang di sini, termasuk mereka.”
Tuan Bram segera bangkit usai menyelesaikan kalimatnya. Ia segera berbalik menuju kamarnya. Tangannya ia lambaikan, isarat agar Lisa juga segera beristirahat.

“Tunggu.” Cegah Lisa. “Mengenai kematian Nona Maria…”

“Ya?”

“Oh, tidak. Tidak mengapa.”

Lisa mengurungkan niatnya bertanya, sementara Tuan Bram hanya tersenyum dan lanjut melangkah ke arah kamarnya. Lisa segera mengalihkan pandangannya ke ujung tangga yang menuju lantai dua. Di sana ada yang membuat Lisa melipat kembali lidahnya tadi. Ada sosok yang baru saja berkelebat di ujung tangga itu. Ada yang menumpang dengar.

Lukisan (5)


Bagaimana pun, sikap Tian atas kematian Nona Maria dapat dianggap berlebihan. Mendengar kesaksian Tian yang janggal, Lisa sebenarnya ingin mencecar lagi. Namun ia tahu, bukan begitu caranya bersikap, lebih-lebih pada mereka yang jiwa dan hatinya terluka.

Nona Maria, aku Tian, jatuh dari atas tangga menuju lantai dua. Beberapa anak tangga yang patah diduga menjadi penyebabnya. Tian menganggap dirinya lalai, pasalnya ia lah yang mendirikan sebagian dari kediaman itu. Namun yang paling aneh bagi Lisa bukanlah kesaksian tentang anak tangga yang patah, melainkan kesaksian bahwa Nona Maria ditemukan tak bernyawa dalam keadaan telentang. Ia meninggal karena benturan di tempurung kepala belakangnya.

“Bagaimana mungkin orang yang jatuh dari tangga berakhir dengan posisi badan telentang?” Lisa bertanya-tanya sambil menimang langkahnya di sepanjang anak tangga lokasi kejadian beberapa tahun lalu.

“Kecuali jika orang itu melakukan gerakan memutar dengan kelipatan 900 sebelum mencapai lantai.” Lisa berkelakar pada dirinya sendiri. Ia membayangkan seorang gadis dalam busana Klederdracht melakukan tendangan berputar a la Bruce Lee.

“Atau jika orang itu didorong?” Lisa menghentikan kegiatannya naik turun tangga. Ia memperhatikan urutan tangga kedua dan ketiga dari atas. Mengetuknya. Kemudian bergeming sejenak.
Baca lebih lanjut

Ibu Perbu


KAU tak perlu memoles bibir, atau menyapukan bedak di wajahmu seperti perempuan ningrat lainnya. Bagimu, cukuplah basah air wudhu yang jadi perias. Bahkan keriput kulit dan gemertak bunyi tulangmu adalah sebuah pesona. Pesona yang sama, yang menawan Pangeran Suriatmaja1 dalam rasa takjub dan hormat. Pangeran itu lah—yang karena rasa hormatnya—menempatkanmu di kediamanmu kini.

Ibu Perbu

Begitulah penduduk Sumedang masa itu memanggilmu. Bagi mereka, engkau adalah penghuni baru kediaman Haji Ilyas yang penuh dengan ilmu dan tak pongah pula membaginya. Mereka memanggilmu “Ibu Perbu” tanpa tahu namamu, asalmu, ataupun riwayat dibalik keriput dan gemertak tubuh tuamu.

***

1
Bertahun-tahun yang lalu

PLAK!

Tangannya mengayun ringan, mendarat di pipi Cut Gambang yang tak lain adalah darah dagingnya sendiri. Namun begitu, bukan berarti bahu yang menggerakkan tangan itu tanpa beban. Keserakahan penjajah telah merenggut tanah dan orang-orang yang ia sayang. Dulu di Sela Glee, sekarang di Meulaboh. Teuku Umar, imam sekaligus pemimpin laskarnya, ambruk diterjang pelor Belanda.

“Dengar!” Bentak Cut Nyak Dhien pada putrinya. “Kita perempuan Aceh tak menumpahkan air mata atas mereka yang syahid!”

Cut Gambang berhenti terisak, meski bahu yang diredam rengkuh ibunya itu masih bergetar hebat. Para pejuang bergeming menyaksikan ketegaran yang lebih kokoh dari tembok Kuta Lamnga itu. Dan bagi mereka kehilangan macam itu mmang tak lebih sebagai sabut kelapa yang dilempar ke dalam api.

“Allahu Akbar! Allahu Akbar!”

Rencong-rencong melesak dari sarungnya, dihunus tinggi ke udara. Tembok-tembok kuta Aceh bisa runtuh digodam bola meriam, tapi tidak dengan semangat mereka. Dengan atau tanpa Teuku Umar, perjuangan harus dilanjutkan.

“Allahu Akbar!”

Cut Nyak Dhien turut menghunus rencong. Semangat dalam tubuh tua dan ringkih itu sesungguhnya tak akan pernah padam. Sekarang, ia sendiri yang akan memimpin pasukan melawan penjajah.
Baca lebih lanjut