Lukisan (4)


Anne meronta sekuat tenaga. Anak itu berusaha melepas tangan Katemi yang mendekapnya dari belakang sambil meraung sekencang-kencangnya. Tuan Bram terlihat berusaha bangkit dari lantai seraya menyeka darah yang mengalir dari hidungnya. Lisa yang baru saja tiba langsung mematung di pelipir kamar, sementara Tian segera bergegas membantu Katemi yang mulai kewalahan.

Butuh waktu yang tidak sebentar—dan tentunya tenaga yang besar—untuk menenangkan Anne. Tanpa ada suara tambahan, anak itu beringsut dalam balutan selimut tebal. Wajahnya putih pucat dengan pipi yang kemerah-merahan. Matanya yang sembab menyatukan helai-helai bulu matanya yang lebat dan lentik, membuat mata birunya yang berkaca-kaca semakin tampak jelas. Lalu dengan rambut coklat bergelombang yang dibiarkan terurai, Anne benar-benar terlihat seperti boneka Suzan sekarang. Hanya saja yang memeluknya bukan Ria Enes, tetapi Tuan Bram, ayahnya.

“Terjadi lagi…” Desah Katemi lesu. “Kau sudah membakarnya kan, Tian?”

Tian tidak membalas. Napasnya masih tesengal.

“Hei, jawab aku!”

“Uh—maaf! Sebenarnya apa yang terjadi di sini.” Lisa berusaha memotong, tanpa tanggapan. “Semua berhubungan kan? Semuanya dengan papan itu?”

Katemi menatap Lisa dengan tajam, sementara Tian tertunduk dalam. “Tidak mungkin! Bukankah sudah kau bakar, Tian? Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!”

“Cukup!” Tuan Bram ganti memotong. “Pergi! Tinggalkan kamar ini.”

Katemi dan Tian terdiam beberapa saat, menyadari sikap mereka yang tak sopan di hadapan majikannya. Mereka beringsut keluar diikuti Lisa yang berjalan tannpa berani menoleh ke belakang. Lisa tak perlu menoleh, kecuali jika ia ingin merasakan sikap dingin Tuan Bram yang sama sekali tak peduli dengan siapa pun di ruang itu kecuali Anne, anaknya.

Katemi menutup pintu dengan perlahan. Wanita itu tak mampu menyembunyikan ketakutan di wajahnya., entah kerena takut pada Tuan Bram atau sesuatu yang lain. Sementara Tian—seperti biasa—sudah hilang menembus keremangan malam.

“Ini karena papan itu kan, Nyonya?” Lisa kembali bertanya tanpa mengacuhkan keadaan Katemi.

“Tidak! Tidak!” Katemi meyanggah. “Aku tak tahu! Kau tanyakan saja pada pembawa masalah itu!”

Katemi segera berlari menjauhi Lisa. Sesekali ia menengok ke kiri dan kanan seperti mewaspadai sesuatu. Lisa kembali mematung. Ada yang janggal di villa itu, pikirnya. Lisa kemudian segera melangkahkan kaki kembali ke ruang bawah. Jika ada sesuatu yang janggal, ruang itu—papan Ouija lebih tepatnya—adalah kejanggalan yang paling besar.

Ruang bawah masih berjarak beberapa pintu lagi, tapi ada yang membuat Lisa berhenti di tengah perjalaanan. Ada yang menarik perhatian Lisa di luar sana. Sebuah pelita yang redup. Kecil, tapi masih sanggup menembus kaca jendela yang berembun dan membuatnya tertangkap mata Lisa yang berada di lantai dua. Tak ada perkiraan yang lebih tepat untuk menggambarkan apa yang terlintas di benak Lisa; ada seseorang di sana.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Lisa menghampiri pelita—yang ternyata adalah sebuah lentera—setelah yakin ada seseorang di sana. Seseorang yang ia tahu.

“Seharusnya saya yang bertanya, Nona?” Orang itu Tian. Tangannya memegang sebuah botol kaca berwarna pekat. Kotak berisi papan Ouija tergeletak di hadapannya.

“Aneh. Aku tak melihat ada ruang pemeraman anggur sebelumnya.”

Tian tak menjawab. Ia membungkam mulutnya dengan mulut botol. Anggur itu ia tenggak sekali.

“Maafkan aku…” Sambung Lisa seraya menyilangkan kedua tangannya ke dada, berusaha menghalau hembusan angin dingin yang menusuk tulang. “Tapi aku punya pembelaan…”

Lagi-lagi pemuda itu diam. Ia kembali menenggak anggurnya.

“Kotak itu bersih dari debu. Kau tahu artinya?” Lisa menggeser kacamatanya. “Ada yang menyentuhnya sebelum aku atau lebih tepatnya, ada yang sengaja menyimpannya di sana baru-baru ini.”

Tian tersenyum, mengurungkan tenggakan yang berikutnya. “Tentu saja. Menurutmu itu siapa, Nona Penyidik?”

“Jadi itu kau, Tian?” Tanya Lisa. “Sial, pantas saja kau mau repot ke ruang bawah! Kau memang pembawa masalah—seperti yang Katemi katakan.”

“Yah, benar. Pembawa masalah yang sangat bodoh.” Pemuda itu menuangkan seluruh anggurnya di atas kotak kayu itu. “Kebodohan yang teramat sangat itu kini menyakiti Anne. Lagi. ”

Ganti Lisa yang terdiam. Matanya awas memperhatikan Tian yang berusaha memantik api menggunakan korek batangan. Butuh beberapa batang untuk mendapatkan nyala api yang sesuai karena angin dingin tak hentinya berhembus. Tian melemparkan korek yang telah membara itu ke atas peti kayu. Sekejap saja api tersulut, menyelimuti kotak kayu yang telah basah oleh anggur itu dengan api yang lebih besar. Kobarannya menciptakan nyala yang meliuk sama di permukaan kaca mata Lisa yang menyembunyikan tatapan ragunya.

“Anne hanya seperti itu ketika dekat dengannya, maka ku pikir menyimpannya tak akan mengganggu Anne…” Tian melanjutkan. “Benar saja, Anne tak pernah lagi seperti itu. Setidaknya sampai hari ini.”

Tian memandangi kobaran api tanpa berkedip, seakan tak terpengaruh tebalnya asap hitam yang menyapu wajahnya. Raut wajahnya yang terlihat tak peduli kini benar-benar berubah, begitu sedih dan kecewa. Seperti ada beban yang sangat besar di sana.

BRAAK!

Lisa berlari dan menendang kotak kayu yang sedang berkobar itu sempai terpental beberapa kaki. Kotak itu hancur lebur, tapi papan Ouija di dalamnya tampak baik-baik saja. Papan itu anya sedikit lecet karena berguling lebih jauh di tanah yang penuh kerikil.

“Apa yang kau lakukan?!” Tian terperangah.

“Bukankah papan itu barang penting bagimu? Bukankah itu peninggalan Nyonya Bram?”

Tian semakin terperangah. “Bagaimana kau tahu?”

“Intuisi. Selebihnya kau yang menjawabnya sendiri.”

“Heh! Luar biasa, Nona Penyidik!” Tian tersenyum kecut.

“Aku melihat sebuah sandi hampir di setiap lukisan. Sandi yang ku duga adalah namamu—nama lengkapmu. Yah, tertutama lukisan di koridor kamar Ruang Bram. ” Lanjut Lisa. “Ku sadari, lukisan terbaikmu adalah lukisan tentang beliau—Nona Maria. Jadi, ku pikir papan itu juga sama pentingnya dengan lukisan itu…”

Tian tertunduk mendengarkan Lisa. Ia kemudian berbalik, menuju papan Ouija yang tergeletak di tanah. Lisa terdiam, kecanggungannya kembali dan tertahan di udara, membuat suasana hening sementara. Mengetahui intuisinya sesuai fakta, Lisa biasanya bangga, tapi kali ini—entah mengapa—ada perasaan tak enak yang mengganjal. Rasanya seperti mengorek luka yang belum sepenuhnya tiris. Perih dan mengiris.

“Yah, kau benar. Aku hanya yatim piatu malang dulu.” Tian memungut papan Ouija yang tergeletak di tanah. “Lalu Nona Maria memungut dan membesarkanku. Hari-hari aku melayani beliau adalah masa paling membahagiakan. Seperti yang kau bilang, aku menuangkan seluruh kebahagiaan itu di lukisanku.”

Lisa mendengarkan dengan seksama seraya mendekapkan tangannya. Secara tak sadar ia mendekati kobaran api yang beringsut kecil, harap-harap ada sisa kehangatan yang mengudara di sana. Ia tak tahu bagaimana raut Tian saat itu, yang ia lihat hanya punggungnya yang gemetar. Bukan karena dingin, sebab Lisa mendengar bunyi lain dari balik punggung itu; isak tangis.

“Setelah semua gelas susu yang diberikannya padaku, aku membalasnya dengan tuba…”

Angin berhembus kencang, berkesiur dibarengi suara kayu yang patah terbakar. Lisa bergidik, karena angin dingin yang berhembus dan apa yang ia dengar dari mulut Tian setelahnya.

“Aku membunuhnya…” Suara Tian diredam tangis. “Aku membunuh Nona Maria…”

***

Iklan

3 thoughts on “Lukisan (4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s