Bilamana, Bagaimana, Aku Tersesat


Ku pikir, sembarang sekali orang-orang dahulu menunjuki bintang kemudian menamainya, padahal bintang-bintang itu tak pernah tetap pada letaknya di langit malam. Mereka hadir malam ini, lalu menghilang esok, kemudian berpendar lagi lain malam. Lalu malam ini, di kedalaman rimba antah berantah, ku sadari lain perkara, betapa cermatnya orang-orang dahulu yang menunjuki bintang dan menamainya. Ada ribuan gemerlap yang bertabur di langit malam hutan ini. Setiap titiknya kokoh pada letaknya di langit malam sejak malam pertama aku terbangun hingga malam ini—yang keempat kalau tak salah. Ya, aku salah tentang orang-rang dahulu dan bintang-bintang yang mereka tunjuki. Ku rasa langit kota lah yang membohongiku, menyembunyikan mereka—bintang-bintang—di balik kabut asap dan gemerlap lampu jalanan. Lama aku menatap bintang, tak pelak muncul juga bayang wajahmu yang sudah enggan aku lintaskan.

Kali pertama aku memandang bintang-bintang di alam lepas sejak aku mulai mengenakan seragam merah dan putih. Kali pertama juga aku memandangi bintang-bintang tanpa hadirmu. Andai kau berbaring di sisiku kali ini—seperti yang dulu-dulu—ku yakin akan kau umbar kegemaranmu, menunjuki bintang-bintang dan memanggil namanya—mungkin telak sama seperti orang-orang ahli nujum dalm ceritamu yang lain. Lalu aku tak pernah paham bagaimana dan dengan dasar apa kau merangkai gemerlap di langit itu. Titik-titik itu kau bilang kuda bersayap, kalajengking, kucing hutan, harpa, ikan, dan lain segala macam. Aku lebih suka ketika kau cukup menunjuki saja, menyebut nama-nama mereka dan mulai cerita pengantar tidur, tapi itu sudah lama, lama sekali.

Sudah lama sejak saat itu, masa-masa kita bertiga di atap rumah, bergeletak menyatukan kepala. Aku dan dia menunjuki bintang, kau yang sebutkan namanya. Giliran jariku menunjuk satu yang paling terang, kau mulai cerita panjang. Sayang, bintang-bintang semakin jarang bertandang, langit kota mungkin sudah tak layak. Gemerlap langit seakan dipaksa hijrah dari letaknya, kini gemerlap lampu-lampu jalan dan pencakar langit yang berpendar tiap malam. Ditambah lagi setelah dia pergi, tak pernah lagi kau ucap nama-nama mereka—bintang-bintang—bahkan menatap langit malam pun kau tak sudi. Sejak itu tak ada lagi yang bercerita tentang kisah bintang-bintang, hanya derap kuda besi yang memusingkan.

Sudah lama, lama sekali. Sekian waktu cerita panjangmu berputar, panggung mimpiku siap memainkannya dalam lelap, kemudian aku bangun di tempat yang lebih hangat bersamamu dan dia. Tapi itu sudah lama, lama sekali. Sampai beberapa malam lalu aku terlelap, setelah deru kuda besi yang berusaha memboyongku ke ujung peta membuatku resah tak terbendung. Lalu aku melompat di sebuah jalan menikung, lari entah ke mana. Menembus semak dan perdu, tanpa sedikitpun cahaya bahkan sekedar cahaya bulan, apalagi bintang-bintang yang hanya mampu berkelip. Seiring suara deru itu menjauh, jauh pula aku dari sadarku. Lalu di sinilah aku beberapa malam yang lalu, terbangun di antara semak belukar, beralas akar, dan beratap langit subuh tanpa kelakar ayam tetangga apalagi suaramu yang selalu berkoar-koar.

***

Mulai pagi setelah malam pertama aku beraksi seperti Rambo. Aku berjalan membelakangi matahari terbit. Begitulah menurut buku-buku peta yang kau berikan padaku sebagai hadiah kepandaianku menjawab lembar-lembar soal di sekolah. Aku masih ingat rupanya, rupa letak kota kita; di tengah peta. Jika aku diboyong ke ujung peta sebelah timur, maka setidaknya aku harus bergerak ke barat. Aku masih ingat, entah bagaimana ingatanmu. Peta-peta dalam buku itu adalah hal yang suka dia tunjuki, berbeda denganmu yang suka menunjuki bintang-bintang yang pemetaannya—menurutku—sembarang. Benar, dia lah yang menunjuki aku jalan pulang. Pulang bukan untuk menemuimu, tapi kotaku, mencari dia yang telah pergi. Benar. Aku sama sekali tak rindu akan dirimu, hanya pada kota tempat aku dan dia—dan kau dulu—berbahagia. Bukan padamu, bukan juga pada kotamu yang kau sibuk di dalamnya, yang penuh pencakar langit dan kuda-kuda besi. Seakan tak cukup, tiang-tiang memancang yang menyembur asap pekat ikut menjulang di sana.

Ah, sungguh tak penting! Maka lanjut aku ayunkan langkahku. Aku terus berjalan membelakangi matahari, sampai ia berpijar tepat di atas ubun-ubunku yang untungnya dilapis rambut ikal seruas jari manis. Terus berjalan, hingga akhirnya lembayung senja menyela batang-batang pohon di hadapanku. Sekantung roti yang ku dekap dari hari pertama belum juga kubuka karet pengikatnya. Bukan aku bermaksud hemat, atau tak percaya bisa menemukan jalan pulang dalam waktu kurang tiga malam. Aku hanya enggan. Roti-roti itu kau kumpulkan sendiri dari pundi ayam jago yang kau sembelih dengan palu. Tak hanya roti sebenarnya, pakaian dan tas yang terpasang di badan ini juga sebenarnya hasil potong pundi ayammu. Tentu tak mungkin aku pergi tanpa busana, sedang pakaian yang dia beri hanya cocok dipakai balita—aku sudah sepuluh, dan tak ada istilah ‘baputa’. Aku tak punya pilihan, lengan bajuku sesak, pinggangku penuh bekas-bekas lipat kain celana yang dieratkan tali karet.

Aku tak punya pilihan—lagi-lagi. Aku membuka karet pengikat kantung roti itu. Lebih baik daripada harus ku buka kantung perutku dan menjejalkan batu atau batang pohon ke dalamnya—dan aku yakin itu lebih mudah daripada harus menelannya seperti Patrick Star. Aroma kacang semerbak begitu ikatan karet ku putus dengan sebuah kerikil tajam. Benar saja, berlusin roti lapis dengan selai kacang dan taburan butir coklat menumpuk tak beraturan di dalam kantung. Aku kaget. Rupanya kau tahu makanan kegemaranku, coklat dan kacang. Ah, tapi aku yakin itu hanya kebetulan. Kalau tidak kenapa harus nasi keras yang bertengger di bawah tudung saji setiap hari? Yah, sejak dia pergi tak ada lagi roti isi, hanya nasi keras yang baunya seperti basi.

Aku melahap roti itu. Satu potong. Dua potong. Tiga, tidak, setengah. Kalau saja aku tak ingat aku sedang di mana, pasti aku habiskan roti yang ke tiga setengah itu. Tapi cukup, masih ada dua malam perjalanan ke barat yang harus ku tempuh. Lagipula langit terlihat cerah malam ini. Bintang-bintang yang bertabur sepertinya cukup menggantikan manis butir-butir coklat yang sekarang mendekam dalam kantung. Binatang-binatang hutan juga sepertinya tidak lapar hari-hari ini—pasti karena hiruk pikuk kuda besi dan asap-asap dari tiang-tiang kota. Ah, hanya nyamuk yang gigitannya tak sesakit tusukan jarum suntik penghalau cacar—kalau tak salah namanya—sesekali saja mampir menembus baju. Mudah. Malam ini aku tegaskan perkara-perkara lain selain bintang-bintang di langit malam yang sesungguhnya tak pernah hijrah, sekalipun bergeser. Malam ini aku tegaskan, kau tak perlu ada di sisiku, bahkan bintang-bintang gemerlap lebih sempurna tanpamu yang menunju-kinya…

Lalu kenapa mataku panas? Apakah nyamuk mengggigit bola mataku? Hei, nyamuk tak menggigit, mereka menyengat… Ah, tak penting!

Perlu waktu untuk panasnya mataku reda, ia meleleh dan mengalir dingin. Sedingin angin malam yang bertiup menusuk tulang, lebih sakit dari sengat nyamuk yang lalu lalang.

***

Sekeliling dalam lingkup ku pandang, hanya ada puluhan batang berlumut yang memagar tak beratur. Sinar matahari kekuningan menyelinap di antaranya. Warnanya aneh, tak pernah kulihat, tidak cantik sama sekali. Sepertinya mimpi burukku semalam berlanjut. Ya, semalam aku bermimpi. Buruk sekali, tapi aku lupa, yang ku ingat saat itu dunia berakhir. Tiba-tiba saja aku bergidik.

Ah, matahari terbit dari barat! Dunia benar-benar kiamat! Celaka!

Namun tak lama, sekejap kemudian ku sadari—setelah sepenuhnya bangun—akulah yang sedang buta arah, tersesat. Menuju entah aku mulai melangkah. Bahkan tak lagi mampu ku terka, matahari sedang fajar atau senja? Kepalaku seperti berputar, tubuhku menggigil. Barat atau timur, aku tak peduli berjalan ke mana. Kantung rotiku sudah kosong, isinya tercecer ke segala arah. Ah, rupanya binatang-binatang hutan bukan tak sedang lapar. Mereka lapar, hanya saja mereka begitu sabar. Binatang-binatang itu pasti sudah meringkuk di sarang mereka sekarang. Sarang yang hangat dan temaram…

Aku ingin pulang…

Aku ingin pulang. Berselimut kain tebal berwarna merah kesukaannya, dijamu secangkir teh hangat buatanmu yang rasanya sepat. Ah, kenapa aku merindukan tehmu yang sepat itu, padahal air keran sudah tentu lebih enak. Meski rasa besi tak mengecap lama sebagaimana tehmu mengecap di lidahku…

Maka aku terus berjalan. Aku tak peduli lagi ke arah mana, semuanya arah sama. Kadang barat ada di kanan, kadang di kiri. Bagaimana aku tahu itu barat? Entahlah matahari pun tampak gelap. Aku tak peduli aku menutup mata sejenak dan berjalan menembus semak penuh duri. Cukup lama, sampai semak-semak tak lagi menggesek betis, perdu tak lagi menghalang pandangku—yang sudah memutar tak karuan. Pemandangan serasa lapang, di depanku terhampar sebuah ladang dengan tetumbuhan aneh yang tak pernah kutemui sebelumnnya.

Tumbuhan yang asing. Bentuknya mirip bambu kerdil yang berjejer dalam pot di depan rumah tetangga. Daunnya pun menjari dan berwarna hijau tua, hanya saja tepinya bergerigi, tidak tajam seperti dan sekaku daun bambu. Sepertinya tumbuhan ini sengaja ditanam. Deretnya rapi, benar-benar seperti bambu kerdil yang berjejer dalam pot di depan rumah tetangga. Aku memetik salah satunya, mungkin saja bisa aku tanam di rumah dia.

“DOR!DOR!DOR!!”

Sungguh rentet panjang yang memekakkan telinga. Aku terduduk, kemudian menoleh ke arah kiri. Seorang laki-laki jangkung berkulit hitam membawa senjata api yang sering dipakai Rambo menembaki para tentara jahat. Laki-laki itu sedang memotong jarak ke arah ku. Panas, lengan kirikiku terasa panas. Ada lubang sebesar jempol di sana. Warnanya merah dan basah, merahnya terus mengalir. Rasanya lebih perih dibanding masa kecil dulu aku disunat atau ketika telapak tanganku menepuk telapak seterika.

TAKUT! AKU TAKUT.

LARI! LARI!

Aku berdiri kemudian berlari sekencang-kencangnya menembus semak dan perdu. Aku terus berlari selama yang aku bisa. Bahkan sampai beberapa kali terjatuh dan berguling menempuh aral terjal, tapi aku kembali bangkit. Kejatuhan berikutnya aku akan bangkit. Aku akan terus berlari. Aku akan terus berlari sampai aku melihat atap rumah kita yang disemen rata. Perihnya sayatan semak tak sebanding perihnnya luka di lenganku. Tapi semua itu tak mengalahkan pedihnya hatiku. Aku takut. Aku takut sendirian. Aku takut kehilangan dia. Ya, bahkan aku takut kehilanganmu sekarang. Aku ingin pulang.

***

Aku terus berlari sambil membawa pedih dan perih di sekujur tubuhku. Terdengar seperti sebuah puisi yang dikutip dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia, tapi mungkin seperti itulah maksud puisi itu—selugas-lugasnya. Sakit yang justru ingin membuatku ingin hidup lebih lama lagi. Sakit yang membuatku harus terus berlari.

Hingga akhirnya aku mendengar kebisingan di sisi lain. Aku mengenal suara ini, suara seekor kuda besi yang besar, besar sekali. Aku menuju ke arah kebisingan itu dengan kecepatan berlari yang sama sekali tak berkurang. Benar, aku melihatnya. Barisan kuda-kuda besi berbagai warna dan ukuran berbanjar dengan jarak renggang-renggang. Jemput aku. Jemput aku kembali kota penuh asap dan gedung-gedung yang menjulang.

***

Entahlah. Warna yang terakhir aku lihat adalah hitam aspal berbalur merah pekat. Sekarang semuanya putih. Lalu, gerangan bau apakah ini? Ini bau yang sama. Sama seperti tempatmu dulu mengobati kakimu yang tertembus lebih dari tiga bijih timah panas—kini ku sadari bijih itu sama dengan yang menembus lenganku. Ini tempat yang sama pula dengan tempatmu menyerahkan sebagian dari sebelah kakimu itu. Ah, mungkinkah kau ada di sini?

Aku ingin melihatmu—betapa pun kesumatnya kebencianku—tapi yang ku lihat setelah itu hanya seorang wanita paruh baya berbalut busana putih kejinggaan. Anehnya, aku lebih membenci itu—pemandangan itu. Aku benci, bahwa bukan kau yang duduk di sana, tapi seorang wanita yang sayang sekali juga bukan dia.

Kenapa kau tidak di sini, padahal aku merindukanmu? Tidakkah engkau mencariku? Tidakkah engkau peduli padaku?

Tidak! Tidak!

Setelah semua ini, aku sadar. Bukan kau yang membuangku, aku yang membuangmu dari daftar hormatku. Kau peduli. Hanya aku yang cukup bodoh tak memahamimu dan semua deritamu yang jika tak lebih, sama perihnya denganku. Aku lupa, bukan hanya aku yang dia tinggalkan, tapi juga kau. Aku lupa betapa tangannya yang dulu melingkar di lehermu kini melingkar di lengan lelaki lain. Semua karena sebelah kakimu tak utuh lagi. Karena kau tak lagi segagah dulu. Karena pekerjaanmu yang dulu tak mungkin lagi kau geluti.

Betapa bodohnya aku. Begitu mudah terserang waham bahwa dia masih mengingankan aku, padahal perginya pun tanpa kata. Lagipula, kenapa ia berpikir akan menjagaku? Aku yang tak pernah berterimakasih. Terutama padamu, yang selalu menyiapkan sesuatu di bawah tudung saji walau hanya sepiring nasi dan adonan kedelai. Kau yang selalu menyeduhkan teh hangat walau sepat. Kau yang selalu ini, yang selalu itu, hanya untuk aku. Semuanya kau lakukan meski dengan rupiah sekian sen. Kau bahkan tak ragu menyembelih pundi ayammu hanya untuk mengawalku menimba ilmu di madrasah ujung peta.

Aku meronta. Berontak sekuat tenaga menghalau tangan-tangan yang berusaha mendekapku, mencabut tancapan jarum yang rasanya sepertinya suntikan penghalau cacar. Aku berlari menembus tiap pintu, menyusuri koridor berlantai keramik putih, menabrak sudut-sudut tikungan. Meski jatuh dan kembali tertatih, aku akan tetap berlari, berharap mendapatimu.

Maafkan aku. Ampuni kebodohanku. Aku tak akan lagi meminta dia kembali. Aku tak akan meminta isi dunia lagi padamu. Aku hanya meminta dirimu. Iya, kau, hanya kau. Jangan cemas, aku masih berlari. Aku akan tetap berlari. Terus berlari, membawa pedih dan perih raga ini. Aku akan terus berlari sampai hati ini pulih. Tunggulah aku, di sepetak rumah beratap semen. Aku akan pulang, Abi1.

***

[1] Abi, sebutan untuk ayah dalam Bahasa Aceh, dipengaruhi Bahasa Arab

Iklan

Lukisan (4)


Anne meronta sekuat tenaga. Anak itu berusaha melepas tangan Katemi yang mendekapnya dari belakang sambil meraung sekencang-kencangnya. Tuan Bram terlihat berusaha bangkit dari lantai seraya menyeka darah yang mengalir dari hidungnya. Lisa yang baru saja tiba langsung mematung di pelipir kamar, sementara Tian segera bergegas membantu Katemi yang mulai kewalahan.

Butuh waktu yang tidak sebentar—dan tentunya tenaga yang besar—untuk menenangkan Anne. Tanpa ada suara tambahan, anak itu beringsut dalam balutan selimut tebal. Wajahnya putih pucat dengan pipi yang kemerah-merahan. Matanya yang sembab menyatukan helai-helai bulu matanya yang lebat dan lentik, membuat mata birunya yang berkaca-kaca semakin tampak jelas. Lalu dengan rambut coklat bergelombang yang dibiarkan terurai, Anne benar-benar terlihat seperti boneka Suzan sekarang. Hanya saja yang memeluknya bukan Ria Enes, tetapi Tuan Bram, ayahnya.

“Terjadi lagi…” Desah Katemi lesu. “Kau sudah membakarnya kan, Tian?”

Tian tidak membalas. Napasnya masih tesengal.

“Hei, jawab aku!”

“Uh—maaf! Sebenarnya apa yang terjadi di sini.” Lisa berusaha memotong, tanpa tanggapan. “Semua berhubungan kan? Semuanya dengan papan itu?”

Katemi menatap Lisa dengan tajam, sementara Tian tertunduk dalam. “Tidak mungkin! Bukankah sudah kau bakar, Tian? Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!”

“Cukup!” Tuan Bram ganti memotong. “Pergi! Tinggalkan kamar ini.”

Katemi dan Tian terdiam beberapa saat, menyadari sikap mereka yang tak sopan di hadapan majikannya. Mereka beringsut keluar diikuti Lisa yang berjalan tannpa berani menoleh ke belakang. Lisa tak perlu menoleh, kecuali jika ia ingin merasakan sikap dingin Tuan Bram yang sama sekali tak peduli dengan siapa pun di ruang itu kecuali Anne, anaknya.

Katemi menutup pintu dengan perlahan. Wanita itu tak mampu menyembunyikan ketakutan di wajahnya., entah kerena takut pada Tuan Bram atau sesuatu yang lain. Sementara Tian—seperti biasa—sudah hilang menembus keremangan malam.

“Ini karena papan itu kan, Nyonya?” Lisa kembali bertanya tanpa mengacuhkan keadaan Katemi.

“Tidak! Tidak!” Katemi meyanggah. “Aku tak tahu! Kau tanyakan saja pada pembawa masalah itu!”

Katemi segera berlari menjauhi Lisa. Sesekali ia menengok ke kiri dan kanan seperti mewaspadai sesuatu. Lisa kembali mematung. Ada yang janggal di villa itu, pikirnya. Lisa kemudian segera melangkahkan kaki kembali ke ruang bawah. Jika ada sesuatu yang janggal, ruang itu—papan Ouija lebih tepatnya—adalah kejanggalan yang paling besar.
Baca lebih lanjut

Biarkan Akar


Pantaslah mawar minta dipetik,
raksinya berkuar hingga penjuru,
merayu segala jenis penghidu.

Tapi janganlah akarnya minta disentak,
hanya ada seruak busuk yang nanti merisak.
Duh, apalagi jadi gangsi.

Biarkan saja akarnya
tetap dibekap bentala,
reput relai lama-lama.