Lukisan (3)


Lisa berada di sebuah ruangan bawah tanah villa itu. Sendirian. Ruang itu cukup besar dan berfungsi sebagai gudang. Sebuah lampu berdaya 5 watt menggantung di tengah-tengah, sesekali berayun tertiup angin malam yang berhembus lewat lubang udara di salah satu sisi tembok. Ayunannya lembut, tapi cukup kasar untuk mengusik laba-laba yang bersarang di antara langit-langit dan kabel lampu yang menjulur. Cahayanya menyapu seisi ruang penuh benda antik itu ke kiri dan ke kanan, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak dengan lambat. Tak ada suara decit tikus atau derit-derit serangga, hanya ada suara lolongan anjing gunung di kejauhan yang ikut menyeruak bersama hembusan angin. Hawa pegunungan turut menegaskan lolongan itu sekaligus membuat manusia dataran rendah seperti Lisa bergidik kedinginan.

Kesunyian yang mencekam, tapi itu lebih baik pikir Lisa. Kecanggungan di jamuan siang tadi tak lebih menakutkan dari penampakan hantu atau siluman yang mungkin menunggui ruangan itu. Setidaknya hantu dan siluman tak bisa membuat sup kentang yang hangat dan lezat menjadi dingin dan hambar. Lisa yakin, wajah penunggu ruangan itu—seandainya ia ada dan sudi untuk muncul—tak akan lebih hebat dari wajah dingin Katemi yang bisa membuat beef steak di hidangan berikutnya terasa seperti empedu. Lisa bahkan tidak mengambil puding yang menjadi hidangan penutup, takut kalau-kalau rasanya ikut berubah pula.

Lisa tersenyum miris. Bagaimana pun, ia hanya seorang mahasiswi yang mewakili dosennya—seorang juru taksir profesional—sebagai tamu kehormatan. Kejadian tadi siang benar-benar membuatnya semakin sungkan dan canggung. Ia takut kalau-kalau nama Bu Lin—panggilan akrab Nona Linda—ikut tercatat sebagai sosok menyebalkan di ingatan para penghuni villa itu. Maka untuk menebus kesalahannya, Lisa langsung menjalankan tugasnya selepas jamuan siang tadi padahal Tuan Bram sudah menawarkannya untuk rehat sampai esok hari. Tian juga tak bersedia membantunya sore itu, sesuai dengan dugaannya.

Sempat mucul penyesalan di hati Lisa. Seandainya ia menerima tawaran Tuan Bram, mungkin ia sudah bergelung di atas kasur empuk dalam sepetak kamar yang terang dan hangat. Lisa terkekeh, menyindir khayalannya sendiri. Kenyataannya ia berada di sepetak kamar temaram dan dingin sekarang. Temannya hanya sepoci kopi hitam dan selembar selimut tebal. Lisa tak membawa peralatannya malam itu karena memang niatnya hanya memilah benda yang layak ditafsir. Ia sudah memilah koleksi lukisan Tuan Bram sore tadi.

Lisa sibuk mengelompokkan benda-benda itu sesuai ukurannya, kemudian ia kelompokkan lagi sesuai jenisnya. Sesekali ia berhenti untuk menyeruput kopi yang mulai dingin, atau ketika menemukan benda langka atau yang sekiranya sudah tua sekali. Di antara benda-benda itu, Lisa menemukan sebuah peti kayu berukuran sedang. Pernisnya sudah tipis dan koyak di sana-sini, warna catnya juga sudah luntur, tetapi tak ada tanda-tanda kegiatan rayap di sana.

Lisa menggeser posisi kacamatanya, sebuah pertanda—dan kebiasaan—saat ia menemukan sesuatu yang ‘unik’. Ia memang selalu ingin tahu. Jarang sekali ia menyerah pada sesuatu yang ia ingin tahu, termasuk kotak kayu itu. Jemari Lisa menelusur tiap sisi kotak itu, mencari segaris celah yang merupakan batas bibir kotak dengan penutupnya. Sekali lagi, Lisa memang selalu ingin tahu. Ia berusaha mengangkat kotak itu, tetapi tak butuh waktu lama bagi Lisa untuk menyadari bahwa sebuah gembok masih terkait untuk memastikan penutup kotak tak terbuka.

“Engsel?” Lisa memulai analisisnya. Dengan adanya gembok, Lisa menyimpulkan bahwa penutup kotak itu menggunakan engsel di salah satu sisinya, sementara sisi lain dikunci dengan bantuan gembok.

Lisa kembali meluncurkan jari-jarinya menelusur seluruh permukaan kotak itu alih-alih mencari sesuatu untuk mencongkel gembok, atau lebih baik, membiarkan kotak itu pada tempatnya. Lisa memang selalu ingin tahu, sekali lagi. Telunjuknya menemukan sebuah celah berbentuk persegi di sudut kotak bagian bawah yang bersebrangan dengan letak gembok. Celah itu benar-benar tipis, seandainya Lisa tak menggunakan kukunya untuk menelusur, pasti celah itu tak akan tertangkap saraf di ujung jemarinya.

“Trik yang bagus.” Gumam Lisa, kembali menggeser posisi kacamatanya. Celah persegi itu ia tekan ke atas dengan sekuat tenaga menggunakan ibu jari, hampir saja kukunya patah.

KLIK

“Eureka!” Lisa tersenyum penuh kemenangan. Celah penutup kotak itu melebar sedikit. Ternyata engsel kotak itu terletak pada sisi yang bergembok. Gembok itu hanya tipuan.

Lisa membuka kotak itu dengan perlahan. Bibirnya masih melengkung penuh ke bawah, penuh dengan sirat kemenangan. Di balik penutup kotak yang kini telah tegak 90 derajat itu terdapat sebuah papan kayu berbentuk persegi panjang dengan alfabet yang melengkung dalam dua baris. Di bawah baris alfabet itu angka 0 sampai 9 berderet lurus dengan tulisan ‘Adieu’ di baris berikutnya. Ada juga tulisan ‘Je’ di sebelah kiri atas dan ‘Nee’ di sebelah kanan atas. Keempat sudut papan itu sudah tumpul, dihiasi lukisan kepala serigala bergaya klasik. Dari penampakannya, papan itu memberikan kesan usia yang sangat tua.

“Papan Ouija?” Lisa menyapukan pandangannya pada papan itu. Papan itu, setahu Lisa, digunakan sebagai alat pemanggil arwah orang yang sudah mati, mirip dengan Jelangkung-nya Indonesia.

Tiba-tiba angin kencang menghembus masuk melewati lubang udara. Lampu 5 watt yang bergantung di tengah ruangan kembali terayun karena hembusan itu. Ayunannya lebih kuat kali ini sehingga sarang laba-laba yang merentang di antara kabel dan langit-langit terkoyak. Setelah berayun beberapa kali, cahaya lampu itu berkedip. Kedipannya semakin cepat dan akhirnya benar-benar mati. Lisa berusaha tenang di dalam kegelapan itu. Ia tak membawa senter atau sejenisnya. Sial bagi Lisa, semburat cahaya bulan yang ia harapkan pun ternyata tak berkenan hadi di ruang itu. Kini ia harus bergerak menuju pintu dengan merangkak sambil meraba-raba.

Angin kencang kembali berhembus, kali ini membawa serta lolongan anjing hutan di kejauhan. Lolongan itu panjang, kemudian diikuti gonggongan pendek yang putus-putus. Lisa berhenti bergerak. Rambut di tengkuknya menegak, getarannya begitu terasa ketika angin malam berhembus sekali lagi. Ia sontak menaikkan selimut tebalnya hingga ke leher. Usahanya cukup berhasil untuk menangkal hawa dingin yang menusuk, tetapi sama sekali tidak cukup untuk menangkal perasaan campur aduk yang berkecamuk dalam dirinya.

SRAAAK!

Sebuah suara benda yang diseret tiba-tiba menyela lolongan anjing hutan, menyita perhatian Lisa sepenuhnya. Lisa mundur selangkah, tangannya meraba-raba ke lantai, mencari poci yang bisa ia gunakan sebagai alat pertahanan diri. Ia ingin meraih ponsel di sakunya, kemudian menekan tombol 116, tapi segera ia batalkan niatnya. Ia takut letaknya diketahui oleh sosok yang belum jelas itu.

SRAAAK!

Suara itu muncul kembali dalam jeda yang singkat, benda yang diseret itu seperti datang mendekat. Lisa mundur selangkah lagi. Ia mencengkram gagang pocinya lebih erat.

.

.

.

.

.

.

.

KLIP!

Ruangan itu mendadak benderang. Cahaya lampu kembali pelita tanpa didahului dengan kedipan-kedipan.

“Tian??” Suara Lisa memecah ketegangan. Pemuda bernama Tian berdiri beberapa langkah di depannya. “Apa yang kau lakukan di sini??”

“Saya yang harus menanyakan hal itu, Nona…” Tian setengah merunduk, berusaha menutupi kekagetannya.

“Ah, dasar. Seharusnya kau bicara—sial…” Lisa berusaha mengatur napasnya. “Ku kira kau sebangsa setan penunggu gudang!”

“Huh!” Tian melenguh pendek. Sepertinya kata-kata Lisa cukup menyakitkan di telinganya.

“Aku sedang melakukan tugasku…” Lanjut Lisa. Napasnya telah kembali normal. Ia beranjak dari tempatnya dan memungut kotak kayu berisi papan Ouija. “Aku sudah sele—”

“Tunggu…” Sela Tian. Nadanya datar. “Apa yang kau temukan, Nona? Apa yang di tanganmu itu?”

“Ha?” Lisa berlagak bodoh.

Tian menghampiri Lisa dengan cepatnya, tangannya langsung menjangkau kotak kayu yang Lisa pegang. “Sial! Tidak mungkin! Dari mana kau dapatkan benda ini?”

“Apa maksudmu?” Lisa benar-benar bingung kali ini.

“Katakan padaku! Dari mana kau dapatkan benda terkutuk ini!?” Dengan setengah berteriak Tian menghempaskan kotak kayu itu. Tangannya kini mencengkram pundak Lisa dan mengguncangnya. “Katakan!”

“Hei!” Lisa berontak. “Tenanglah! Aku—”

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

Teriakan seorang perempuan memotong penjelasan Lisa. Tian yang mendengarnya pun seketika berubah pucat. Pemuda itu segera berbalik dan berlari meloncati beberapa anak tangga sekaligus untuk meninggalkan ruangan itu. Lisa yang masih bingung segera mengekor. Ia berusaha meminta penjelasan pada Tian, tapi jawaban yang didengarnya hanya suara panik Tian yang mengalir lirih.

“Ya, Tuhan! Anne!”

***

Iklan

One thought on “Lukisan (3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s