Lukisan (2)


“Silakan duduk.” Tuan Bram menggeser mundur kursi di ujung meja makan berbentuk persegi panjang. Kemudian dua lagi di ujung lain untuk dirinya dan si Gadis Klederdracht.

“Silakan.” Ulang Tuan Bram.

Lisa mendaratkan tulang duduknya ke kursi dengan canggung. Wajar saja, Tuan Bram langsung duduk tanpa mengenalkan gadis yang sudah ikut duduk manis di sampingnya. Sementara Tian masih tetap bermuka datar dan bersikap menyebalkan, berdiri dengan sebelah tangan menyiku di depan perut. Benar-benar suasana yang tak mengenakkan untuk mengawali ramah tamah di meja makan.

“Ah, benar… Aku lupa. Ini Anne.” Tuan Bram kembali buka mulut menyadari tatapan Lisa yang berkeliaran ke gadis di sampingnya.

“Anak anda Tuan?” Sambung Lisa, sudut bibirnya berkedut. Sungkan. “Saya rasa saya pernah melihatnya…”

Gadis klederdracht yang asik memainkan serbet ganti memandangi Lisa. “Jangan ganggu aku.” Seakan-akan mata coklat gadis itu sebuah pemancar gelombang yang menyampaikan informasi langsung ke otak Lisa. Gerak-gerik gadis itu juga seperti anak kecil yang kesumat karena cokelatnya diambil paksa.

“Oh, maaf. Saya keliru.” Lisa menyanggah dirinya sendiri. “Saya rasa sosok yang saya lihat—di lukisan itu—itu ibunya, istri anda…”

Suasana mendadak senyap—lebih senyap dari sebelumnya. Tuan Bram sama sekali berhenti bergerak. Kini Tuan Bram yang ganti memandangi Lisa dengan mata “Jangan ganggu aku.” Sementara Lisa masih mempertahankan celah di sudut bibirnya yang berkedut tak karuan, semakin canggung dan gugup. Bagaimanapun, Lisa berusaha menunjukkan baris giginya sebagai bentuk senyum ramah tamah.

“Bagaimana kau tahu itu istriku?” Tanya Tuan Bram, sorot matanya ia kaburkan, berusaha menyamankan kembali tamunya.

“Latar itu Tuan…” Lisa menarik napas dalam. “Jika saya tak salah, latar itu adalah tempat ini bukan, sebelum villa ini dibangun?”

“Ya, sudah cukup lama.” Jawab Tuan Bram. “Maria tidur tak lama selama villa ini bangun.”

Lisa terbatuk, tersedak napasnya sendiri. Hampir saja ia berguling ke lantai dan sujud memohon maaf kalau saja seorang maid datang dari arah dapur dengan baki penuh hidangan.

“Maaf, Tuan saya tidak bermaksud…”  Lisa meminta maaf sekenanya. Ia benar-benar mati kutu. Apalagi ketika si pelayan wanita menyajikan semanguk sup kentang dengan sedikit membanting. Tatapan wanita itu seperti tatapan si gadis. Tidak, ada yang sedikit berbeda. Mata itu mengejek, seakan berkata “Brengsek kau!”. Entah bagaimana tatapan si gadis setelah kepergian ibunya diungkit-ungkit. Lisa tak mau lagi menerima tatapan yang galak macam itu.

“Oh, tidak. Tidak. Tidak mengapa. Maria memang sosok paling disayang di keluarga kecil ini. Tapi Tuhan lebih menyayanginya, dan sudah cukup lama waktu berlalu untuk kembali berduka bukan?”

“EHEM!” Suara dehem sang maid merambat dari balik bibirnya yang rapat dan dipaksa melengkung senyum.

“Oh, ya… Benar. Terima kasih untuk hidangannya Katemi.” Tuan Bram menoleh disertai senyum, tangannya menggenggam tangan pelayan bernama Katemi itu. Ibu jarinya mengelus-elus telapak tangan Katemi, kemudian anak jarinya susul merenggang dengan perlahan.

Maid itu tersenyum—angkuh—seakan ia adalah seorang maiden. Lisa yang belum sempat tenang membalas senyum itu dengan anggukan. “Thank you”. Bibir dan lidah Lisa bergerak, tapi pita suaranya urung bergetar. Katemi lalu menghampiri sebuah turntable yang bertengger samping rak penuh alat makan, menurunkan jarum mesin pemutar musik itu, kemudian melenggangkan kakinya kembali ke dapur.

“Nah, mari kita santap.” Tuan Bram menyilakan.

Sejurus kemudian, suara seruput dan sendok beradu tenggelam dalam balad yang mengalun lirih dari corong turntable. Untungnya alunan itu bisa membuat saraf Lisa kembali tenang. Sarafnya sempat bekerja keras sebelumnya, mengantar sinyal dari otak hanya agar tangannya dapat bergerak mengangkat sendok. Walau begitu, otak Lisa masih bekerja keras mencerna informasi. Ada yang aneh pikir Lisa saat itu. Selain jamuan keluarga yang tak dimulai dengan doa. Selain gadis usia belasan berlagak pilon yang selalu senyap. Selain seorang maid yang namanya seperti tokoh ahli teluh dalam sebuah film horor tahun 1989.

Ya, Lisa tersadar, pemuda bernama Tian itu tak lagi berdiri di dekat pintu. Sosoknya hilang. Entah kapan, entah ke mana.

***

Iklan

One thought on “Lukisan (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s