Lukisan (1)


Kenangan itu terus ada, tentu selama yang mengingatnya juga ada. Maka bagi kenangan itu untuk selalu ada, pemiliknya membuat memento untuk diingat. Orang-orang dulu–dulu sekali—mencoraki tembok gua, bercerita tentang hidup dan tetek bengeknya, atau sebagai bentuk duka lara ditinggal mati orang tercinta. Setelah mengenal besi, orang-orang baru mulai mengukir batu, lagi-lagi tentang hidupnya. Tak lupa ingatan-ingatan tentang maha wujud yang mereka ukir sedang berleha-leha di langit, atau duduk angker di singgasana dunia bawah, menemani keluarga mereka yang sudah mati.

Setelah mengenal kertas, orang-orang yang lebih baru tak hilang akalnya, bahkan mereka tak harus susah payah memanggil dukun untuk menanyakan kabar orang mati. Cukup buat saja lukisan itu tersenyum atau menangis, sedang tidur, bermain, berpesta pora atau apapun yang si pemilik ingatan ingin. Tak hanya mengenang rupanya, manusia baru ini ternyata juga suka dikenang, maka hadirlah beratus lukisan diri yang tampak gagah dan megah. Entah kabarnya di bawah tanah, berbungkus kain putih, didekap peti kayu, atau berubah menjadi abu, atau mungkin sebenarnya hilang tercacah senjata perang, yang pasti pengenangnya harus melihat dirinya tetap megah terpampang dalam sepetak bingkai.

“Saya suka lukisan, dan saya mencintai melukis.”

“Yah, saya tidak tanya pendapat anda, dan sebenarnya tidak begitu peduli. Tapi saya rasa itu yang membuat Tuan memanggil anda kemari.”

“Oh, maaf. Saya memang suka berlebihan kalau tentang karya seni yang satu ini. Majikan anda, em Pak…”

“Tian. Tidak perlu ‘pak’, anda lebih tua dari saya.”

“Ah, ya, maaf, em, Tian. Bagaimana sebenarnya majikan anda ini?”

“Anda ini senang sekali membuat pernyataan dan pertanyaan yang tak penting. Anda tinggal datang, duduk, dan memperhatikan apa yang disampaikan Tuan. Itu saja.”

“Oh…” Pemudi itu diam, usahanya membangun sebuah percakapan sepertinya sia-sia. Pemuda di hadapannya selalu menanggapi dengan satu ekspresi. Matanya yang sayu selalu menatap tajam, tapi tak sekalipun menatap lawan bicaranya. Langkahnya lebar dan cepat, tiap satu langkahnya harus dibayar dua kali agar Lisa bisa menyamai kecepatan pemuda itu berjalan. Menyebalkan.

Mendapati suaranya tidak menemui telinga untuk mendarat, giliran pandangannya yang mengudara ke sekeliling, menyusuri hamparan tembok kayu yang penuh dengan lukisan-lukisan asing yang berjejer. Lukisan yang indah, tapi tak cukup “unik” untuk membuat Lisa mematung dan mengeser-geser bingkai kaca mata di pangkal hidungnya—sebuah kebiasaan yang selalu muncul saat ia asik mengamati sesuatu yang “unik”. Lisa sudah cukup lama menyusuri koridor itu, menuju ruang istirahat milik ‘Tuan’. Namun belum lama bibirnya mengatup, akhirnya tampak sebuah persimpangan.

“Oh, nona…”

“Lisa.” Ia menjawab dengan semangat, akhirnya pembicaraan dimulai dari lawan arah.

“Saya cukup mengantar sampai di sini. Anda pergilah sendiri. Di persimpangan ujung koridor ini, silakan anda ambil jalan kanan. Di ujung jalan berikutnya, ada tiga ruang. Tuan sudah menunggu di ruangan paling kiri.” Tian menunjuk ke ujung koridor, tampak dua jalan bersimpangan di sana.

“Oh, anda tidak ikut?”

“Anda sudah dekat, tidak perlu panduan lagi. Lagipula masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan.”

Lagi-lagi percakapan diakhiri kata ‘oh’ yang meluncur dari bibir Lisa. Pembantu ‘Tuan’ yang memandunya ini memang sama sekali tak menunjukkan muka ramah sejak awal mereka bertemu. Dari tampangnya, memang pemuda bernama Tian ini terlihat tua. Namun umurnya tak terpaut jauh dari Lisa, bahkan lebih muda—itu jika pengakuannya sesuai. Lalu tanpa berkata-kata—apalagi  menoleh—pemuda bernama Tian itu meninggalkan Lisa yang menggaruk kulit kepalanya yang tak gatal.

“Ketus sekali…” Ujar Lisa, suaranya sedikit keras. Yakin ia sudah sendirian.

Lisa tak lagi ambil soal. Matanya kembali mejalari tembok-tembok yang penuh lukisan. Ada lukisan pemandangan alam, hewan, buah-buahan, kapal-kapal, dan orang-orang serta beberapa lukisan abstrak. Meskipun memiliki tema yang berbeda–dan pengaturan yang aneh juga. Ia yakin, goresan-goresan itu berasal dari tangan yang sama. Ia terus berjalan sambil mengamati kiri kanannya. Dehemnya berubah menjadi gelengan saat ia tiba di persimpangan koridor.

Di hadapan Lisa terpampang sebuah lukisan berdimensi kurang lebih dua kali satu meter persegi. Sebuah lukisan manusia. Seorang anak gadis dengan kisaran umur 15 tahun berdiri anggun dengan busana klederdracht. Aneh, pasalnya busana itu tak cocok dengan latar di belakangnya. Tak ada bangunan dengan kincir angin. Tak ada bunga tulip. Tak ada padang rumput dengan sapi perahnya. Tak ada segala macam yang berhubungan dengan negara asalnya. Latar yang dilukis justru kebun teh di pegunungan. Ekspresi gadis di lukisan itu juga janggal. Begitu sedih dengan mata yang menatap jauh ke depan. Kosong.

Lisa mematung. Tangan kirinya memeluk pinggang, semetara yang kanan bertumpu pada bagian sikutnya, menopang dagu yang sesekali mengangguk. Jarinya sesekali menjangkau bingkai kaca matanya, berusaha menyesuaikan letak benda berbahan fiber glass itu dengan sudut pandang amatnya. Berbeda dengan lukisan-lukisan yang ia lihat sebelumnya, goresan-goresan yang tertera pada kanvas itu memang terkesan lebih keras. Warnanya juga lebih pucat dan kombinasinya cenderung kelam.

“Berapa harga yang anda taksir?”

“Astaga!” Lisa memekik. Suara itu mengagetkannya, tapi ia hanya butuh lima detik untuk mengambil kendali atas dirinya. “Oh, maaf. Saya terlalu larut menikmati lukisan ini. “

“Apakah anda Nyonya Lina? Anda lebih muda dari yang saya kira. Terlalu muda.”

“Oh, anda pasti pemilik villa ini. Saya Lisa, mahasiswa bimbingan Nyonya Lina. Beliau berhalangan hadir kemari, jadi saya yang menggantikan beliau.” Lisa sedang berusaha menjadi tamu yang sopan. “Kabarnya pasti sudah sampai kepada anda.”

Lisa menarik ujung kemejanya ke bawah untuk menghilangkan kerut-kerut yang mungkin tampak. Mahasiswi jurusan Hubungan Internasional itu datang mewakili dosennya sebagai juru taksir barang-barang antik. Nyonya Lina seorang dosen yang juga berprofesi sebagai juru taksir. Unik memang, dan keunikan itu yang dikagumi Lisa. Tentu saja, ia pun memiliki keunikannya sendiri untuk bisa memiliki keahlian dan tempat khusus di samping Nyonya Lina.

“Oh…” Lelaki itu menyahut datar. “Yah, tak ada pesawat telepon di sini, jadi saya tak tahu. Si brengsek Tian itu pasti lupa menyampaikannya padaku.”

Lisa tersenyum tipis. Rupanya sikap tak acuh pemuda bernama Tian itu memang tak hanya dirinya yang menanggapi demikian. Lelaki tua yang menegurnya barusan sepertinya juga tak jarang mengumpat pada pemuda  bernama Tian itu. Ah, pantas saja sikapnya tak acuh seperti itu, pemuda itu sudah kebal dikata-katai, pikir Lisa.

“Kemarilah!” Pinta lelaki itu. Wajahnya yang penuh keriput terlihat kuyu dan lelah. Ia berbalik dan memutar kusen pintu di belakangnya. Lisa mengekor masuk, bibirnya masih melengkung sekian derajat.

Di balik pintu  itu terdapat ruang bersantai yang sangat luas. Dindingnya berbahan kayu, sama seperti ruang-ruang sebelumnya di villa itu. Lantainya di selimuti karpet merah persegi dengan sulaman berumbai di kedua ujungnya. Di atas karpet itu tersusun sebuah sofa antik yang juga berwarna merah, hanya saja warnanya lebih gelap karena debu yang mungkin sudah bertahun-tahun terhimpun di situ. Lalu, yang paling mencuri perhatian Lisa adalah sebuah perapian di ujung ruang karena bahan penyusunnya yang berupa bata merah yang tak tersusun rapi. Hanya api yang meliuk kecil di perapian yang menerangi ruangan tanpa lampu dan jendela itu. Suatu tontonan yang menawan, setidaknya bagi Lisa yang hampir tak pernah melihat perapian dalam ruang, lebih-lebih menggunakannya.

“Duduklah!” Lelaki tadi sudah berdiri di samping sofa merahnya. Ia menyodorkan sebuah bangku antik—entah dari mana. Sepertinya ia membaca binar di kacamata Lisa yang sedang mematung mengamati hal yang dianggapnya unik.

“Oh ya!” Jawab Lisa rikuh. Ia berusaha menggerakan bibirnya untuk mengusir keasikannya pada perapian. “Umm, jadi bagaimana dengan barang yang dapat saya taksir?”

“Oh, betapa tak sopannya aku. Aku bahkan belum memperkenalkan diriku.”

Lisa menggaruk kulit kepalanya. Jelas jawaban lelaki itu adalah sebuah sindiran.

“Aku Bram.” Lelaki itu mendahului dengan menyodorkan tangannya.

“Lisa.” Sembari tangannya balas menyambut.

Basa-basi sebenarnya belum tuntas, tapi hal lain melintas. Pintu diketuk dari luar diikuti suara yang tak asing lagi.

“Jamuan siap, Tuan, Nona.”

Itu Tian yang berbicara dari balik pintu. Lisa menerawang ke belakang. Pemuda itu memang bilang akan mengurus sesuatu. Tak disangka, yang dimaksud sesuatu itu adalah sebuah jamuan untuk sang tamu.

“Ah, perut kosong selalu membawa masalah bukan?” Tuan Bram villa beranjak dari sofa merahnya. Lagi-lagi Lisa mengekor tanpa banyak bicara. Ada sesuatu dari Tuan Bram yang membuatnya enggan membuka percakapan.

Ketiga orang itu berjalan menyusuri koridor. Tian berjalan di depan, sementara Lisa dan Tuan Bram berjalan beriringan. Tian berjalan lebih lambat kali ini dan sikapnya pun lebih pantas sebagai pemandu jalan. Beberapa langkah kemudian, mereka sampai di persimpangan koridor tempat lukisan gadis dipajang. Perhatian Lisa tak lagi tertuju pada lukisan itu. Matanya lebih tertarik mengamati Tuan Bram yang kini beberapa langkah di depannya. Penerangan di koridor yang lebih memadai mendukung niatnya itu.

Tak salah lagi, pikirnya. Tuan Bram adalah seorang bule. Kulitnya putih pucat, rambutnya merah walau tak terlalu kentara karena lebih banyak uban putih di kepala lelaki itu. Lisa semakin yakin saat Tuan Bram menyesuaikan langkahnya dengan milik Lisa. Saat mereka kembali bersisian, Lisa sempat mencuri pandang pada wajah Tuan Bram. Matanya berwarna biru. Warna mata yang tak akan ditemui pada suku asli mana pun di Nusantara.

Ruangan yang mereka tuju adalah sebuah ruangan di ujung jalur kiri dari persimpangan koridor. Sebuah ruang makan dengan meja antik memanjang di tengah-tengahnya. Rupanya Lisa menemukan keunikan lagi di ruangan itu, tapi belum sempat  matanya menjelajah, sebuah ointu di sisi lain ruangan terbuka. Sedikit kasar.

“Papa!”

Pemilik suara itu menghambur ke arah Tuan Bram. Ia seorang gadis dalam balutan klederdracht. Si gadis dalam lukisan.

***

Iklan

2 thoughts on “Lukisan (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s