Lukisan (3)


Lisa berada di sebuah ruangan bawah tanah villa itu. Sendirian. Ruang itu cukup besar dan berfungsi sebagai gudang. Sebuah lampu berdaya 5 watt menggantung di tengah-tengah, sesekali berayun tertiup angin malam yang berhembus lewat lubang udara di salah satu sisi tembok. Ayunannya lembut, tapi cukup kasar untuk mengusik laba-laba yang bersarang di antara langit-langit dan kabel lampu yang menjulur. Cahayanya menyapu seisi ruang penuh benda antik itu ke kiri dan ke kanan, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak dengan lambat. Tak ada suara decit tikus atau derit-derit serangga, hanya ada suara lolongan anjing gunung di kejauhan yang ikut menyeruak bersama hembusan angin. Hawa pegunungan turut menegaskan lolongan itu sekaligus membuat manusia dataran rendah seperti Lisa bergidik kedinginan.

Kesunyian yang mencekam, tapi itu lebih baik pikir Lisa. Kecanggungan di jamuan siang tadi tak lebih menakutkan dari penampakan hantu atau siluman yang mungkin menunggui ruangan itu. Setidaknya hantu dan siluman tak bisa membuat sup kentang yang hangat dan lezat menjadi dingin dan hambar. Lisa yakin, wajah penunggu ruangan itu—seandainya ia ada dan sudi untuk muncul—tak akan lebih hebat dari wajah dingin Katemi yang bisa membuat beef steak di hidangan berikutnya terasa seperti empedu. Lisa bahkan tidak mengambil puding yang menjadi hidangan penutup, takut kalau-kalau rasanya ikut berubah pula.
Baca lebih lanjut

Lukisan (2)


“Silakan duduk.” Tuan Bram menggeser mundur kursi di ujung meja makan berbentuk persegi panjang. Kemudian dua lagi di ujung lain untuk dirinya dan si Gadis Klederdracht.

“Silakan.” Ulang Tuan Bram.

Lisa mendaratkan tulang duduknya ke kursi dengan canggung. Wajar saja, Tuan Bram langsung duduk tanpa mengenalkan gadis yang sudah ikut duduk manis di sampingnya. Sementara Tian masih tetap bermuka datar dan bersikap menyebalkan, berdiri dengan sebelah tangan menyiku di depan perut. Benar-benar suasana yang tak mengenakkan untuk mengawali ramah tamah di meja makan.

“Ah, benar… Aku lupa. Ini Anne.” Tuan Bram kembali buka mulut menyadari tatapan Lisa yang berkeliaran ke gadis di sampingnya.

“Anak anda Tuan?” Sambung Lisa, sudut bibirnya berkedut. Sungkan. “Saya rasa saya pernah melihatnya…”

Gadis klederdracht yang asik memainkan serbet ganti memandangi Lisa. “Jangan ganggu aku.” Seakan-akan mata coklat gadis itu sebuah pemancar gelombang yang menyampaikan informasi langsung ke otak Lisa. Gerak-gerik gadis itu juga seperti anak kecil yang kesumat karena cokelatnya diambil paksa.
Baca lebih lanjut

Lukisan (1)


Kenangan itu terus ada, tentu selama yang mengingatnya juga ada. Maka bagi kenangan itu untuk selalu ada, pemiliknya membuat memento untuk diingat. Orang-orang dulu–dulu sekali—mencoraki tembok gua, bercerita tentang hidup dan tetek bengeknya, atau sebagai bentuk duka lara ditinggal mati orang tercinta. Setelah mengenal besi, orang-orang baru mulai mengukir batu, lagi-lagi tentang hidupnya. Tak lupa ingatan-ingatan tentang maha wujud yang mereka ukir sedang berleha-leha di langit, atau duduk angker di singgasana dunia bawah, menemani keluarga mereka yang sudah mati.

Setelah mengenal kertas, orang-orang yang lebih baru tak hilang akalnya, bahkan mereka tak harus susah payah memanggil dukun untuk menanyakan kabar orang mati. Cukup buat saja lukisan itu tersenyum atau menangis, sedang tidur, bermain, berpesta pora atau apapun yang si pemilik ingatan ingin. Tak hanya mengenang rupanya, manusia baru ini ternyata juga suka dikenang, maka hadirlah beratus lukisan diri yang tampak gagah dan megah. Entah kabarnya di bawah tanah, berbungkus kain putih, didekap peti kayu, atau berubah menjadi abu, atau mungkin sebenarnya hilang tercacah senjata perang, yang pasti pengenangnya harus melihat dirinya tetap megah terpampang dalam sepetak bingkai.
Baca lebih lanjut