Yamadipati (4)


Zirahnya seakan-akan menguap, lalu melebur kembali. Pendarannya berubah menjadi biru, meliuk-liuk layaknya bendera perang yang berkobar. Pendaran itu menjelma menjadi kain satin yang membalut tubuh besar Rahwana. Sebuah busana kebesaran para Raja Arcapada dengan corak burung finis yang melingkar dari bawah sarung ke punggung belakang. Sementara sembilan ornamen muka tersulam dengan benang emas di sembilan tempat berbeda. Rahwana laksana Batara Surya, hanya saja pendarannya berwarna biru.

“Ah! Wahai Batara Maut, sungguh Murka yang tiada terperi, milikmu itu.” Rahwana berujar, sembari tangannya menarik sutra biru dari udara kosong melingkari punggung ke lengannya. “Seandainya Pertiwi tak mengasihi ragaku, niscaya jiwaku akan bertambat di tanah sekarang.”

“Rahwana, penguasa Alengkadiraja. Apa yang membuatmu dalam keadaan begitu terhina, merangsek masuk ke medan perang tanpa seorang pun punggawa?” Yamadipati membalas, sementara darah masih bersimbah dari mulutnya yang penuh taring.

“Aku tidak datang sebagai Raja Alengka, aku datang sebagai aku. Bukankah tak pantas bagi seorang Satria mengatasnamakan seluruh kerajaan untuk kemauannya seorang diri?”

“Hai, bedebah! Apakah pantas bagi seorang Satria berlaku seperti ini?”

“Ah!” Rahwana mendesis sinis. “Aku adalah seorang Rakshasa sebelum dididik sebagai seorang Brahma. Aku adalah seorang Rakshasa sebelum kakiku menginjak medan perang sebagai seorang Satria.”

Citragupta meringis dari balik bayang-bayang. Ia menertawakan tuannya yang serupa Rakshasa. Seringai itu melebar. Rantai Yamadipati membelahnya menjadi bayangan yang tenggelam kembali dalam redup Yamaloka. Sang Batara tampaknya cukup terganggu karena sikap menterinya itu.

“Lagipula, bukankah engkau seorang Batara?” Lanjut Rahwana. “Bukankah kalian para Batara yang menghitamlegamkan darahku, lalu menciptakan seantero jagad membenci  kegelapan itu? Akulah Kekasih Sepuluh Karma!”

Suasana hening. Yamadipati tahu ke mana arah pembicaraan itu. Dunia yang diatur para Batara memang sulit berlaku adil, bahkan pada dirinya yang sendirinya adalah seorang Batara.

“Lalu kau kira aku akan datang mengetuk pintu gerbangmu dengan lemah lembut layaknya para raja Manu penjilat itu? Nama Batara sudah kehilangan haknya untuk menggema di dunia ini. Nama mereka tidak membawa keadilan. Bukankah engkau juga merasakannya, wahai Batara yang tak berhak mencinta…”

“Uruslah masalahmu sendiri, Bocah!”

Belum selesai Rahwana bicara, Yamadipati menyemburkan darahnya sendiri ke tanah. Tanah Yamaloka lagi-lagi menyambut panggilan tuannya. Darah itu menjelma menjadi tetumbuhan Asipatrawana yang tumbuh dalam sekejap dan merayap ke arah Rahwana dengan kecepatan yang sama. Setiap helai daun pohon-pohon itu adalah bilah keris, duri-durinya adalah mata tombak, sedang sulurnya adalah rantai besi berduri. Rahwana tak lagi memiliki zirah tebal maupun kipas raksasa sebagai perisai. Tetumbuhan itu mencabik-cabik Rahwana yang tak sempat menghindar.

“Apa yang kau inginkan, wahai Dasamuka?” Tanya Yamadipati tanpa mengalihkan pandangannya dari jasad Rahwana yang tak lagi berbentuk.

“Sebuah jiwa…” Sesosok suara menyahut dari belakang Yamadipati.

Rahwana berdiri sembari menggenggam segulung kitab lontar yang terjulur setengah bagiannya. Sebuah aksara “Durja” berpendar di udara, tepat di tengah-tengah kitab lontar yang digelar itu. Sang Rakshasa berdiri di tempatnya sekarang, tanpa kurang suatu apapun. Sementara Yamadipati tetap bergeming memandangi jasad Rahwana yang rupanya hanya ilusi yang perlahan memudar ditelan kegelapan Yamaloka, meninggalkan sehelai lontar berukir aksara “Rahwana”.

“Hanya demi sebuah jiwa, katamu?!” Yamadipati membentak.

Rahwana tak menjawab. Ia melepas untaian kitab lontarnya dan melemparkan lembar-lembar lontar itu ke udara. Dari balik topengnya terdengar lirih serangkai mantra.

“Gaman!”

Lembar-lembar lontar itu menjelma seluruhnya menjadi berbagai macam senjata yang jumlahnya berlaksa. Setiap ujungnya menhunus ke satu arah; Yamadipati. Tentu saja sang Bathara tak tinggal diam. Yamadipati menarik sesuatu dari udara kosong. Sebuah senjata pamungkas dari sang Maut senjata yang menangkap semua jiwa; Kaladhanda.

Yamadipati merentangkan lengannya laksana seorang pemanah. Kaladhanda yang digenggamnya itu mampu mencabut semua kehidupan di sekitarnya. Tanah yang subur akan kerontang, hijau daun akan kemuning, dan segala hembusan nafas akan menjadi yang terakhir. Begitu kuatnya gaman sang Maut itu, sampai-sampai tak sekalipun gaman itu pernah benar-benar dipakai sebab para Batara pun takut lepasnya senjata itu ke Arcapada. Kali ini pun gaman itu tak begitu saja keluar dari sarungnya…

“Cukup Batara Yama!” Sebuah suara menggema, diikuti sesosok Brahman tua yang turun disertai taburan bulu-bulu angsa entah berantah. “Kaladhanda adalah terlarang, wahai Maut, kecuali jika Batara Kala dan Yama benar-benar sepaham.”

Yamadipati menurunkan gaman-nya. Bahkan Rahwana menarik senjata-senjatanya yang sudah siap menghujam. Kedua petarung menyadari siapa yang ada di depan mereka. Ia adalah Batara Brama, satu dari Yang Tiga. Mereka Yang Tiga adalah Batara Brama, Batara Wisnu, dan Batara Syiwa. Mereka tiga Batara tertinggi yang tak lagi mencampuri perkara-perkara Arcapada maupun Mayapada secara langsung. Adapun Batara Brama sendiri adalah seorang tokoh guru bagi Rahwana. Ia juga yang membantu Wiswara—ayah Rahwana—menyampaikan Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu pada sang Dasamuka.

“Dan kau, hai Dasamuka! Aku tak akan menghentikan amukanmu sebab hutangku pada ayahmu sesungguhnya belum benar-benar lunas.”

Yamadipati yang mendengar itu langsung terbelalak. Tapi belum sempat ia membuka mulut, Batara Brama kembali berkata-kata.

“Kau pun Batara Maut. Tidakkah kau sadari kemiripanmu dengan Dasamuka?”

Yamadipati benar-benar geram, sebabnya ia dan Dasamuka memang memliki paras yang serupa jenis. Paras seorang Raksasha. Batara di hadapannya ini memiliki mulut yang tak tahu cara berbunyi, pikirnya. Ada juga Batara yang berkata seenak pusarnya, tak jauh-jauh dengan Citragupta, menteri Yamaloka, yang kurang ajar itu. Kalau saja ia bukan Brama yang dihormati penjuru alam, mungkin sudah ia tempeleng kepala penuh uban itu. Atau bisa saja tusukkan Kaladandha tepat di tenggorokan Batara itu. Tapi Yamadipati memang harus tau diri. Brama tentunya tak disegani karena bicaranya yang serampangan.

“Apa maksudmu, hai Batara Brama?” Yamadipati berusaha menahan amarahnya.

“Oh, oh! Aku tak bermaksud membandingkan rupamu anakku…” Brama membalas dengan sedikit kelakar. “Yah, kau tahulah. Ini tentang Sawitri-mu, tentang Widowati-nya. Ini tentang wanita!”

Yamadipati tercenung. Salah tingkah. Pandangannya  beralih pada Dasamuka yang ternyata juga salah tingkah. Raksasha itu makin terlihat gelisah, selendang birunya kembali berkibar meliuk-liuk, seakan siap kembali menggempur. Nama Widowati sepertinya punya arti tersendiri bagi Dasamuka, pikir Yamadipati. Memang baru-baru ini Yamaloka menyambut sebuah jiwa yang terang benderang. Datangnya jiwa itu memang tidak melalui perantara maut, tapi jilatan api Batara Agni. Malang bagi Rahwana, jiwa itu telah pamit ke puncak Nirwana.

“Jika Widowati adalah jiwa yang kau maksud, maka ia sudah di Nirwana sekarang.” Yamadipati berkata sinis.

“Dusta! Hai Penguasa Yamaloka, engkau bahkan mencabut cengkramanmu demi Sawitri! Bagaimana mungkin kau ambil Widowati dari rengkuhku?!” Rahwana menghardik. “Kau memang Batara lalim, Yamadipati!”

“Kau salah cucuku. Sawitri dan Widowati itu berbeda…”

Brama berusaha menengahi, tapi Yamadipati angkat bicara. “Sudahlah Batara Brama. Aku sudah paham maksud kehadiranmu. Biar aku ajari muridmu yang pongah itu.”

Bibir Brama menyimpul. Batara tua itu menghampiri Yamadipati dan menyematkan sekuntum teratai pada lukanya. Luka yamadipati berangsur menutup, walaupun belulang dan daging yang terkoyak tak serta merta pulih. Lalu Brama melepas seuntai tasbih gaharu dari lehernya dan memberikannya pada Yamadipati.

“Terimalah Hamoga ini! Ajarkanlah muridku itu tentang cinta-mencinta! Sungguh kepalanya luar biasa bebal! Sedang hutangku pada ayahnya belum lunas.” Batara Brama kemudian menyingkir dari arena perseteruan.

“Wahai guru yang tak pernah benar-benar ku pahami ajarannya. Pihak mana yang sebenarnya kau bela?” Rahwana menggelar kitab lontarnya. “Dengan atau tanpa restumu, aku akan mengamuk di sini sampai ku dapatkan Widowati kembali!”

Tanpa aba-aba, Rahwana dan Yamadipati memulai putaran kedua pertarungan mereka. Yamadipati berlari menuju Rahwana, di saat yang sama Rahwana menancapkan selembar lontar berukir aksara “Tirta” di tanahnya berpijak. Tanah di sekeliling Rahwana melunak dan bergejolak layaknya sebuah telaga.

Mendapati kakinya terperangkap, Yamadipati melontarkan rantainya dan mengikat Rahwana dengan sepuluh rantai sekaligus. Rakshasa itu memang tidak terlihat akan menghindari serangan Yamadipati, tapi bukan berarti tak siap. Aksara “Meru” muncul di selembar lontar Rahwana. Seperti benar-benar tertambat pada sebuah gunung, Yamadipati sama sekali tak mampu menarik Rahwana mendekat ke arahnya.

Momentum berikutnya adalah milik Rahwana. Aksara yang ia sebut berikutnya adalah “Agni”. Seketika itu Rahwana menjelma sebuah pilar api yang melepaskan belitan rantai Yamadipati. Pilar itu kemudian meliuk-liuk seperti ular dan menyambar Yamadipati. Semburan api berpusar selama beberapa kedipan mata. Beberapa saat kemudian pusaran api itu menyusut menjadi bunga api yang meliuk ke udara dan menjelma kembali sebagai Rahwana.

“Bahkan api Naraka pun tak bisa menyentuhku, hai Durjana!” Yamadipati bersumbar.

Bagaimana pun, Rahwana tetap seorang ahli siasat, tahtanya sekarang tak ia duduki begitu saja dengan otot. Lumpur yang menenggelamkan kaki Yamadipati sampai ke lutut itu mengeras dan mengunci gerakan Yamadipati. Sekali lagi Rahwana mengukir aksara “Meru” pada selembar lontar dan menukik dengan kecepatan ganda menggunakan bantuan selembar lontar lain beraksara “Bayu” yang menjelma menjadi beliung. Hantaman Rahwana benar-benar tak terelakkan.

Meski hantaman sang Rakshasa berdentum seperti tebing yang runtuh, sang Batara rupanya masih berdiri tegak di tempatnya berpijak. Rupanya butir-butir tasbih Hamoga menyibakkan penghalang antara Rahwana dan Yamadipati. Hanya sebutir tasbih Hamoga itu yang kemudian hancur berkeping-keping.

“Butir tasbih Hamoga dan lembar-lembar lontar milikmu. Gerangan mana kah yang tersisa paling banyak?”

Usai berkata demikian, tanah di sekeliling Yamadipati pecah ditembus tetumbuhan Asipatrawana. Asipatrawana itu yang menggeliat tak beraturan, tetapi arahnya cabikannya jelas tertuju pada Rahwana. Tetumbuhan itu mencabik-cabik Rahwana hingga akhirnya ia terhempas ke tanah. Rahwana sempat meredam serangan itu dengan aksara “Tameng”, tapi kebuasan Asipatrawana memang pantas menjadi satu siksaan dalam Naraka. Tetumbuhan itu meninggalkan ratusan luka sayat di sekujur tubuh Rahwana yang hanya dibalut kain mori.

“Seperti yang ku kira. Pancasona tak menyembuhkan luka. Berkah Pertiwi itu ‘hanya’ menghidupkan mereka yang mati dalam dekapnya.”

Yamadipati berujar sembari berjalan mendekati Rahwana yang tertatih berlumur darah. Butir-butir Hamoga mengitari Batara itu.

“Kau terlalu congkak anak muda…” Yamadipati melanjutkan. “Kepongahanmu itu lah yang menutup matamu dalam memaknai perginya Widowati.”

Mendengar nama Widowati disebut, Rahwana kembali menggebu-gebu. Dengan tubuh penuh luka, Rakshasa itu menerjang sang Batara dengan murka yang menjadi-jadi. Seluruh busananya menguap, kemudian segera memadat dan meluruh ke sekujur tubuh Rahwana. Ia kembali dalam wujud merahnya, sesosok Rakshasa dengan tinju beraksara “Murka”.

Rahwana mengayunkan tinjunya bertubi-tubi. Setiap tinjunya mendentum seperti gong perang raya yang ditabuh sekuat tenaga. Lagi-lagi tinju itu sama sekali tak mempengaruhi Yamadipati. Butir tasbih Hamoga membuat penghalang yang tak tertembus. Tapi tinju Rahwana semakin berat dan beringas. Keretakan mulai muncul di beberapa butir tasbih Hamoga. Sebelum keretakan itu melebar, Yamadipati segera mencengkram tinju Rahwan yang membabi-buta, memelintirnya sedemikian rupa dan menghempaskan tubuh besar Rahwana ke tanah.

“Dengarkan aku, bocah bebal!” Hardik Yamadipati. “Kau pikir Rakshasa yang masih diperbudak Karma sepertimu pantas bersanding dengan titisan Laksmi? “

Rahwana bergeming di rebahannya. Tak terlihat memang, tapi Yamadipati tahu, Rahwana sedang tercenung di balik topengnya. Menyadari lawannya sudah tenang, Yamadipati melepaskan cengkramannya.

“Berpikirlah, hai Raja Alengka!” Yamadipati menyindir. “Katakan padaku, Rahwana! Apa kau benar-benar mencintai Widowati? Atau itu hanya nafsumu semata?”

“Ketahuilah, Rahwana. Dibanding menjadi pemupuk nafsu yang tak bisa kau kuasai, lebih baik ia mengakhiri hidupnya! Ia memilih lidah api Agni yang berkobar dibanding kedua lenganmu yang dipenuhi birahi!”

Suasana geming sesaat. Begitu sunyi, bahkan deru nafas Rahwana dari balik topeng bisa terdengar oleh Batara Brama yang mengamati di kejauhan. Kedua petarung itu—Yamadipati dan Rahwana—telah menemukan titik temu kesamaan mereka. Ketidakmampuan mereka merengkuh wanita pujaan. Pujaan cinta milik Yamadipati maupun pujaan nafsu milik Rahwana.

“Hahahahahahahaha!”

Tawa panjang memecah keheningan. Rahwana bangkit sempoyongan. Tawa itu semakin panjang dan menjadi-jadi. Semakin lama terasa begitu pilu dan menyakitkan. Busana merah-merah Rahwana lagi-lagi menguap dan memadat, melebur ke sekujur tubuh Rahwana dalam warna nila. Sosok Rakshasa yang tampilannya lebih mirip waria. Ia merintih seperti ternak yang diputus tiga aliran di lehernya.

Yamadipati hanya bergeming memandang. Ia tahu siksanya perasaan cinta yang lebih tajam dari Asipatrawana. Dewi Mumpuni yang dulu ia kasihi ternyata tak balas sayang walau dengan seujung rambutnya, hanya sekelumit rasa hormat yang dibekap rasa segan pada ayahnya, Batara Guru. Sawitri pun ternyata hanya kembang tidur di siang bolong.  Segala kasih dan keluhuran itu tak mungkin direngkuh seluruhnya bahkan oleh sang Maut. Tapi itulah cinta yang disadari Yamadipati, sebuah kata tak berwujud, tak terpeta. Yamadipati tak lagi mencintai pecinta, tapi cinta itu sendiri. Ia menghormati cinta, sehingga cinta itu ikut menaungi Dewi Mumpuni walau raga di luar payungnya. Ia mencintai cinta, sehingga cinta itu balas memberi. Begitu banyak, sampai-sampai rengkuhnya tak lagi cukup untuk Sawitri.

Ini juga namanya hidup. Memang tali kekangnya dipegang pengendara, tetapi arah mata angin akan selalu pada kutubnya masing-masing. Tak peduli bagaimana daratan dititi, lautan diarung, angkasa dijelajah, selama tali kekang itu terus dilecut, arahnya tetap digenggam oleh Pencipta. Maka yang harus dilakukan si pemegang tali kekang adalah menikmati jarak perjalanan yang ia tempuh, mengambil hikmah dari setiap liku jalan dan persinggahannya.

“Sebagai satu dari sekian yang pernah dipapar Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, kau seharusnya bisa mengerti sekarang…”

Pelita nila di zirah yang tadinya berpendar sudah memudar. Tindak tanduknya yang tadi begitu sangar, kini layaknya sebuah kelakar. Rahwana benar-benar senyap, seperti jabang bayi yang dalam buai ia lelap.

“Terkutuklah kalian, para Batara!” Rahwana merutuk dengan kepala tertunduk. “Kalian yang menikahkanku dengan Karma! Kalianlah yang menghidupi aku dengan hitam dan kelamnya dosa!”

Suara Rahwana semakin lantang. Demikian itu dianggap Brama yang mengamati dari jauh kembali mendekat. Inilah pertanda yang dirasa Batara tua itu. Muridnya yang bebal sudah belajar.

”Aku kehilangan daulat, bahkan atas kesadaranku sendiri…”

Rahwana berkata lirih, sesekali meracau kacau. Kemudian diikuti raungan panjang, Rahwana melepas paksa topengnya.

“Celakalah kau Karma! Celakalah kau yang mencemburui aku! Kini akan ku cintai engkau lebih-lebih cintamu padaku!”

Seluruh zirah Rahwana menguap ke udara. Kepulannya mengarak dan meliuk sedemikian rupa. Aksara “Kama”, satu dari Sepuluh Karma, tergaris tegas di udara. Aksara itu semakin tipis pendarannya, menyisakan sebuah kipas Cina seukuran telinga gajah yang seketika disambut Rahwana. Rakshasa itu rupanya telah menaklukkan Karma-nya sepenuhnya. Kama, perlambang nafsu birahi.

“Ketahuilah Batara Maut! Sekalipun telah ku sadari ini adalah garis hidup, aku tak akan berhenti. Akan ku cari pecahan jiwanya, bahkan jika harus ku taklukkan Mayapada. Karena aku tergaris untuk lahir sebagai kegelapan. Itulah garis hidupku. Aku terima itu dengan segala kesombongan di seluruh semesta!”

Wajah Rahwana terlihat jelas tanpa selubung topeng. Rasa hormatnya berusaha ia sampaikan, walau ia terlalu sombong untuk berkata-kata. Tatapannya dalam menghujam di mata Yamadipati yang besar. Sementara sekelebat bayangan putih menyelimuti Rahwana dan menjelma seekor bangau besar. Bangau itu kemudian mengangkasa dengan Batara Brama di punggungnya. Batara tua itu pergi meninggalkan Yamadipati bersama Rahwana, meniggalkan Hamoga sebagai ungkapan terima kasih.

Belum jauh Brama mengangkasa, Yamadipati kembali menghela napas panjang. “Tamuku begitu banyak dalam satu malam ini. Kau pun rupanya ikut datang…”

“Haha…” Sebuah tawa kecil menyeletuk, diikuti kemunculan sebuah sosok berselimut tudung putih. “Bagaimana kau bisa berkata demikian sahabatku, sementara selalu malam di sini, di Yamaloka yang angker ini!”

“Katakan saja keperluanmu, wahai Kala sang Waktu!”

“Sudah kebiasaanku, wahai Yama sang Maut. Aku ingin melihatnya langsung—mereka-mereka yang akan dicatat sebagai ombak besar yang mengarahkan sejarah.”

“Terserah kau sajalah! Sulit bagiku memahami pikiranmu!” Yamadipati menjawab ketus.

“Hahaha! Kau tentu mengerti, apa artinya jika Kala dan Maut sepaham…” Batara Kala kembali berkelakar.

Yamadipati memegangi kepala Kaladandha yang aman tersembunyi dalam sarungnya. Ia tak sedikitpun tersenyum, karena memang hanya sebatas itulah raut mukanya—satu-satunya, mungkin. Ia terus diam sambil matanya memandangi si muka sepuluh yang semakin jauh di kaki langit Yamaloka.

“Yah, jika Kala dan Maut sepaham, kita pasti bertemu lagi, Dasamuka.” Tutup Yamadipati.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s