Sepenggal Macapat


Sebuah persembahan untuk Mbah EBD. Terima kasih sudah—dan masih—menjadi sesosok Dewa Ruci dalam perjalanan hidup Ananda.

***

Aku termangu di teras rumah, menatap mega yang sedang mendung. Warnanya kelabu, seperti perasaanku saat itu. Cukup lama ku pandang ombak-ombak kelabu itu dengan pelupuk yang bengkak menampung air mata. Seperti waduk di tengah-tengah hujan badai, air mataku mengalir perlahan dari sudut-sudut mata, seakan menyertai butir-butir air yang turun membumi.

“Menangislah…”

Tangan renta itu merangkul pundakku. Wajah Si Mbah dengan garis-garis keriputnya begitu dekat dengan wajahku.

“Menangislah kalau Ananda tak pernah dimengerti orang lain. Menangislah sekarang karena orang lain tak mengerti dirimu.” Kata si Mbah pelan, lebih seperti berbisik.

Aku menyelam dalam dekapan si Mbah, mengadu isak tangis dan bunyi-bunyian rintik hujan yang menyapa genting. Aku menangis sejadi-jadinya, tanpa malu pada hujan yang sekedar turun rintik-rintik.

“Di lain waktu—esok hari—menangislah lebih kencang lagi, lebih banyak lagi. Karena saat itu Ananda menyadari sebuah kenyataan bahwa Ananda bukan tak dimengerti orang lain, tapi Annada yang belum mengerti Gusti Allah.”

Aku tak menggubris kata-kata si Mbah. Tangisku justru semakin dalam. Kejadian hari ini terlalu menyakitkan, terutama untuk bocah pecundang seperti aku. Masa kecil yang banyak terkucil, tanpa teman dan suka cita, tanpa jenaka dan canda tawa. Tawa yang ada cuma tawa mereka—para bajingan—yang tertawa terpingkal-pingkal membuat lelucon padaku. Mereka yang siang tadi mendorongku jatuh terjerembab, kotor oleh lumpur dan cemooh. Hina dina dan panggilan sampah.

“Nulodo laku utomo…” Si Embah justru menembang lantang…

“Nulodo laku utomo

tumapring wong tanah Jawi.

Wong agung ing ngeksigondo,

Panembahan Senopati Kepati Maharsudi.

Sudaning howo lan nepsu

Pinepsu topo broto,

tanapi ing siyang ratri

amemangun karyanak tyas ing sasomo…”

Sebuah Macapat, Sinom Parijotho ku kira. Bait pertama. Aku meredakan isakku sedikit, berusaha menikmati alunan tembang yang tenang dan menenangkan. Si Mbah lanjut menembang bait kedua. Kepalaku masih bersandar, sembari bola mataku melirik ke halaman. Sepasang sepatu yang kotor, penuh lumpur yang mulai pudar karena siraman hujan. Tak jauh dari sepasang sepatu itu sebuah seragam putih yang coklat sebagian menggantung di tali jemuran. Entah kenapa kejadian itu kembali berputar dalam kepalaku, namun tak lagi terasa menyakitkan. Sosok Tono yang melapor pada Bu Guru. Sosok Noto yang membawakan tasku. Sosok Tuti yang menanyakan keadaanku. Ada perasaan yang menggelitik di sana.

“Haha…” Tawaku lirih, masih setengah terisak. Entahlah semua ingatan tadi benar-benar lucu. Konyol.

“Kenapa kamu tertawa?” Si Mbah yang menyadari tawaku berhenti menembang.

“Mbah…” Tanyaku. “Ananda belum mengerti soal menangisi Gusti Allah. Tapi, apa ada perasaan yang sama dengan perasaan haru itu?”

“Ada.” Jawab si Mbah. “Perasaan konyol ketika kita sadar bahwa kita salah menangisi sesuatu atau salah gembira pada sesuatu.”

Aku termenung memandangi wajah si Mbah dengan rambutnya yang berkilat disemir waktu.

“Contohnya, seperti ketika menangisi sesuatu yang tidak kita punya dan lupa apa-apa yang kita punya…”

Suasana hening sejenak. Hanya ada rintik hujan di atas genting.

“Hahahahahahahaha…”

Tawa kami meledak bersamaan. Aku benar-benar merasa tergelitik, merasa konyol. Setelah menangisi semua itu, ternyata tak sekejap pun aku pernah tersenyum pada detil-detil kecil yang hanya milikku itu. Entah karena aku memang menderita atau karena aku benar-benar bodoh.

Kami terus tertawa. Aku memandangai si Mbah yang sumringah. Ku lihat pada sepasang bola matanya sepasang bola mata yang lain. Mata sehelai rumput hijau yang masih muda, sehelai sinom. Yah, bola mataku. Kedua bola mata yang juga telah melihat sebuah makna baru. Kedua bola mata yang nantinya juga akan ditutup sepenggal Pocung. Tapi sebelum itu, masih banyak penggalan-penggalan Macapat lain yang harus aku alami, lihat, dengar dan tentunya, ku maknai. Hingga akhirnya kugubah lirik Macapatku sendiri, dalam sebuah Pocung yang semoga bermakna paling baik.

“Betul ‘kan Mbah?”

Sosoknya membaur dengan semburat surya. Senyumnya yang memudar paling akhir. Hangat. Sisanya, aroma tanah kering yang masih menguar dan selintas pelangi dari mendung yang pudar menjelma hujan.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s