Let Them Be, Then…


What if those feelings…
are mine and mine only?
With no right to be shared,
with no chance of acceptance?

Alas…
The mirror won’t look back—blinded.
The wall’s deaf, that the echoes left untold.
While the shadow I have, a silent one…

Ah, I won’t wait then,
spend the aeon elsewhere, else matters.
And let the dirt grave them a whole;
those feelings so beautiful, so painful.

Yamadipati (4)


Zirahnya seakan-akan menguap, lalu melebur kembali. Pendarannya berubah menjadi biru, meliuk-liuk layaknya bendera perang yang berkobar. Pendaran itu menjelma menjadi kain satin yang membalut tubuh besar Rahwana. Sebuah busana kebesaran para Raja Arcapada dengan corak burung finis yang melingkar dari bawah sarung ke punggung belakang. Sementara sembilan ornamen muka tersulam dengan benang emas di sembilan tempat berbeda. Rahwana laksana Batara Surya, hanya saja pendarannya berwarna biru.

“Ah! Wahai Batara Maut, sungguh Murka yang tiada terperi, milikmu itu.” Rahwana berujar, sembari tangannya menarik sutra biru dari udara kosong melingkari punggung ke lengannya. “Seandainya Pertiwi tak mengasihi ragaku, niscaya jiwaku akan bertambat di tanah sekarang.”

“Rahwana, penguasa Alengkadiraja. Apa yang membuatmu dalam keadaan begitu terhina, merangsek masuk ke medan perang tanpa seorang pun punggawa?” Yamadipati membalas, sementara darah masih bersimbah dari mulutnya yang penuh taring.

“Aku tidak datang sebagai Raja Alengka, aku datang sebagai aku. Bukankah tak pantas bagi seorang Satria mengatasnamakan seluruh kerajaan untuk kemauannya seorang diri?”

“Hai, bedebah! Apakah pantas bagi seorang Satria berlaku seperti ini?”

“Ah!” Rahwana mendesis sinis. “Aku adalah seorang Rakshasa sebelum dididik sebagai seorang Brahma. Aku adalah seorang Rakshasa sebelum kakiku menginjak medan perang sebagai seorang Satria.”
Baca lebih lanjut

Sepenggal Macapat


Sebuah persembahan untuk Mbah EBD. Terima kasih sudah—dan masih—menjadi sesosok Dewa Ruci dalam perjalanan hidup Ananda.

***

Aku termangu di teras rumah, menatap mega yang sedang mendung. Warnanya kelabu, seperti perasaanku saat itu. Cukup lama ku pandang ombak-ombak kelabu itu dengan pelupuk yang bengkak menampung air mata. Seperti waduk di tengah-tengah hujan badai, air mataku mengalir perlahan dari sudut-sudut mata, seakan menyertai butir-butir air yang turun membumi.

“Menangislah…”

Tangan renta itu merangkul pundakku. Wajah Si Mbah dengan garis-garis keriputnya begitu dekat dengan wajahku.

“Menangislah kalau Ananda tak pernah dimengerti orang lain. Menangislah sekarang karena orang lain tak mengerti dirimu.” Kata si Mbah pelan, lebih seperti berbisik.

Aku menyelam dalam dekapan si Mbah, mengadu isak tangis dan bunyi-bunyian rintik hujan yang menyapa genting. Aku menangis sejadi-jadinya, tanpa malu pada hujan yang sekedar turun rintik-rintik.

“Di lain waktu—esok hari—menangislah lebih kencang lagi, lebih banyak lagi. Karena saat itu Ananda menyadari sebuah kenyataan bahwa Ananda bukan tak dimengerti orang lain, tapi Annada yang belum mengerti Gusti Allah.”

Aku tak menggubris kata-kata si Mbah. Tangisku justru semakin dalam. Kejadian hari ini terlalu menyakitkan, terutama untuk bocah pecundang seperti aku. Masa kecil yang banyak terkucil, tanpa teman dan suka cita, tanpa jenaka dan canda tawa. Tawa yang ada cuma tawa mereka—para bajingan—yang tertawa terpingkal-pingkal membuat lelucon padaku. Mereka yang siang tadi mendorongku jatuh terjerembab, kotor oleh lumpur dan cemooh. Hina dina dan panggilan sampah.

“Nulodo laku utomo…” Si Embah justru menembang lantang…

“Nulodo laku utomo

tumapring wong tanah Jawi.

Wong agung ing ngeksigondo,

Panembahan Senopati Kepati Maharsudi.

Sudaning howo lan nepsu

Pinepsu topo broto,

tanapi ing siyang ratri

amemangun karyanak tyas ing sasomo…”

Sebuah Macapat, Sinom Parijotho ku kira. Bait pertama. Aku meredakan isakku sedikit, berusaha menikmati alunan tembang yang tenang dan menenangkan. Si Mbah lanjut menembang bait kedua. Kepalaku masih bersandar, sembari bola mataku melirik ke halaman. Sepasang sepatu yang kotor, penuh lumpur yang mulai pudar karena siraman hujan. Tak jauh dari sepasang sepatu itu sebuah seragam putih yang coklat sebagian menggantung di tali jemuran. Entah kenapa kejadian itu kembali berputar dalam kepalaku, namun tak lagi terasa menyakitkan. Sosok Tono yang melapor pada Bu Guru. Sosok Noto yang membawakan tasku. Sosok Tuti yang menanyakan keadaanku. Ada perasaan yang menggelitik di sana.

“Haha…” Tawaku lirih, masih setengah terisak. Entahlah semua ingatan tadi benar-benar lucu. Konyol.

“Kenapa kamu tertawa?” Si Mbah yang menyadari tawaku berhenti menembang.

“Mbah…” Tanyaku. “Ananda belum mengerti soal menangisi Gusti Allah. Tapi, apa ada perasaan yang sama dengan perasaan haru itu?”

“Ada.” Jawab si Mbah. “Perasaan konyol ketika kita sadar bahwa kita salah menangisi sesuatu atau salah gembira pada sesuatu.”

Aku termenung memandangi wajah si Mbah dengan rambutnya yang berkilat disemir waktu.

“Contohnya, seperti ketika menangisi sesuatu yang tidak kita punya dan lupa apa-apa yang kita punya…”

Suasana hening sejenak. Hanya ada rintik hujan di atas genting.

“Hahahahahahahaha…”

Tawa kami meledak bersamaan. Aku benar-benar merasa tergelitik, merasa konyol. Setelah menangisi semua itu, ternyata tak sekejap pun aku pernah tersenyum pada detil-detil kecil yang hanya milikku itu. Entah karena aku memang menderita atau karena aku benar-benar bodoh.

Kami terus tertawa. Aku memandangai si Mbah yang sumringah. Ku lihat pada sepasang bola matanya sepasang bola mata yang lain. Mata sehelai rumput hijau yang masih muda, sehelai sinom. Yah, bola mataku. Kedua bola mata yang juga telah melihat sebuah makna baru. Kedua bola mata yang nantinya juga akan ditutup sepenggal Pocung. Tapi sebelum itu, masih banyak penggalan-penggalan Macapat lain yang harus aku alami, lihat, dengar dan tentunya, ku maknai. Hingga akhirnya kugubah lirik Macapatku sendiri, dalam sebuah Pocung yang semoga bermakna paling baik.

“Betul ‘kan Mbah?”

Sosoknya membaur dengan semburat surya. Senyumnya yang memudar paling akhir. Hangat. Sisanya, aroma tanah kering yang masih menguar dan selintas pelangi dari mendung yang pudar menjelma hujan.

***