Yamadipati (3)

Air dalam cawannya membuat riak. Dentuman keras barusan rupanya begitu keras, bahkan getarannya menembus tembok Yamaloka, mencapai gerbang Naraka yang tak pernah sepi dengan teriakan para pendosa. Ia menaruh cawan tengkoraknya, meluruskan punggungnya dan memasang topong garuda di atas rambutnya yang seputih abu. Matanya yang selalu menyala-nyala kini membara. Yamadipati, sang Batara Maut, bangkit dari dipannya dan meraung dengan murka.

“Demi jiwa-jiwa yang ku robek dari raganya! Siapa gerangan yang berani menyentuh tanah Yamaloka sedemikian caranya?”

Abdi-abdinya merunduk ketakutan, beberapa mengejar cawan tuannya yang menggelinding ke lantai. Para penabuh gamelan berhenti menyusun bunyi-bunyian, mereka ganti memerhatikan langkah tuannya yang menghentak lebih keras dari bunyian gong perang Yamaloka. Abdi-abdi itu sadar, tuannya sedang murka. Kalau sudah begitu, lidah-lidah mereka—yang sebenarnya sudah sangat urung berbunyi—petah sepetah-petahnya.

“Ke mana saja para Yamakingkara? Bagaimana mungkin pasukan musuh dibiarkan mengetuk gerbang kota sedang mereka masih berjaga?”

“Ampun tuanku.” Kata seorang abdinya yang tiba-tiba muncul dari bayangan Yamadipati di lantai. “Pasukan yang tuan maksud hanya seorang Rakshasa. Rakshasa itu berhasil menyusup tanpa sepengetahuan penjaga dan bahkan menembus Asipatrawana.”

Yamadipati bergeming, matanya menatap tajam ke arah abdinya yang merunduk kehilangan muka sedang tubuhnya beringsut tengggelam dalam bayangan tuannya, Yamadipati.

“Sungguh, apa keahlianmu hanya menulisi lembar hidup, hai mentriku Citragupta?” Seloroh Yamadipati sinis. “Buka seluruh lapis gerbang Yamaloka hingga lapisan ketiga dan tutup gerbang lainnya. Perintahkan seluruh Yamakingkara berjaga di gerbang selain gerbang ketiga. Perintahkan sisanya menjaga gerbang Naraka.”

“Duli tuan.” Jawab Citragupta yang langsung tenggelam dalam bayangan. Sementara Yamadipati berjalan menyusuri tangga menuju gerbang ketiga dengan langkah yang mendentum keras.

Yamaloka adalah tanah orang mati. Tanah di ujung selatan Arcapada yang tak pernah di sentuh semburat Surya. Tanah yang mana jiwa-jiwa dikumpulkan dan tak lagi berhak diikat raga. Jiwa pendosa akan dibakar di Naraka, seuah gerbang raksasa menuju ruang tanpa batas yang menjulang di pusat Yamaloka. Sedangkan jiwa-jiwa yang terampuni akan dilepas sesuai Karma dan Dharma raganya. Di sekeliling Naraka terdapat sebuah istana tulang belulang yang dibangun melingkari Naraka. Istana itu didiami Yamadipati, sang Batara Maut, yang baru saja ketenangannya diusik seorang Rakshasa entah berantah.

Sejurus kemudian, sang Batara sampai di gerbang ketiga Yamaloka. Matanya melebar lantaran melihat gerbang ketiga yang tak lagi berbentuk gerbang. Sementara tubuh-tubuh Yamakingkara bertebaran tanpa jiwa yang terikat. Jauh dari tempatnya berpijak, sang Batara melihat sesosok pelita berwarna nila yang berkobar-kobar. Auranya meliuk-liuk di angkasa, mengusir temaram Yamaloka yang hanya diterangi merah bulan darah.

Pelita itu semakin dekat dan dekat, sehingga semakin jelaslah rupanya. Sesosok Rakshasa dengan zirah mendekap sekujur tubuhnya. Sepuluh ornamen muka dengan raut berbeda terpampang di sekujur zirah itu, termasuk satu topeng yang menutup wajah sang Rakshasa. Tiap mata ornamen berpendar berwarna nila, mengusir gelap yang berusaha mengepungnya. Selembar sutra berwarna nila melayang-layang mengitari zirah, kedua ujungnya melilit ke lengan kekar sang Rakshasa. Selembar lagi melilit di pinggang zirah dan menjuntai ke tanah dengan ujungnya yang berumbai-rumbai, persis seperti selendang para penari. Sebuah kipas negeri Cina seukuran telinga gajah tergenggam terbalik di tangan kanan. Sementara keris sepanjang galah terhunus di tangan kirinya.

Pemandangan itu tak membuat Yamadipati gentar. Sang Maut telah mencabut jutaan jiwa para Raja dengan perbawa raga yang serupa megah. Walau sang Maut mengakui bahwa aura Rakshasa di hadapannya dapat disamakan dengan Batara Indra, yang artinya kesaktian Rakshasa itu yang mungkin sebanding dengannya. Sebagai pemeran perang yang telah lama tak menjejak medan laga, darah Yamadipati berdesir hebat. Bibirnya menyungging senyum yang tak pudar-pudar.

“Siapakah namamu wahai Rakshasa?”

“Tiadalah namaku penting wahai Maut yang Perkasa. Jikalau aku gagal di sini, namaku lah yang menjadi aib bagi diriku.” Sang Rakshasa menjawab dengan nada yang lembut, bertolak belakang dengan tindakannya.

“Tak hanya kurang ajar, rupanya kau juga seorang pecundang dan pengecut. Seandainya kau sanggup menembusku kau akan bersumbar ke pelosok Arcapada. Tetapi jika kau takluk di sini, kau tak rela menanggung kehinaannya!” Jawab Yamadipati lantang.

“Hahaha!” Sang Rakshasa justru tertawa, persis seperti tawa perempuan. “Seandainya engkau kalah, wahai Maut, maka itu akan menjadi aib bagimu karena dikalahkan seorang Rakshasa entah berantah.”

Setelah berkata demikian, sang Rakshasa yang tak jelas apakah seorang pria atau waria itu melesat secepat anak panah Syiwa, bahkan dengan tubuhnya yang begitu besar. Dalam sekejap mata, tangan kiri Yamadipati menarik seutas panjang rantai berduri dari udara kosong dan menggunakannya sebagai cambuk seketika itu juga. Cambukan pertama berhasil dihindari sang Raksasha, demikian pula dengan cambukan kedua dan ketiga. Raksasha yang menjadi lawannya benar-benar gesit. Yamadipati meloncat jauh ke belakang, membuat jarak sebelum Raksasha itu berhasil menjangkaunya.

Lalu setelah merapal mantra di udara, Yamadipati melemparkan segenggam tulang belulang ke tanah. Tanah Yamaloka segera menyahut panggilan tuannya, dalam sekejap puluhan tiang tulang seukuran orang dewasa menghujam dari balik tanah. Sang Rakshasa menghindari beberapa hujaman pertama. Tapi tiang-tiang itu terlampau banyak jumlahnya. Sang Rakshasa yang tak lagi melihat kesempatan menghindar membuka kipasnya dan menagkis beberapa hujaman sekaligus dengan kipasnya yang —rupanya—begitu kokoh.

Begitu kerasnya hujaman itu sampai-sampai menerbangkan tubuh sang Rakshasa yang begitu besar ke udara. Kesempatan itu tak dilewatkan Yamadipati, ia melontarkan lima utas rantai sekaligus ke arah sang Rakshasa. Dengan mudah Raksasha itu menepis kepala kelima rantai itu dengan keris dan kipasnya. Tapi sebelum sang Rakshasa memijak tanah, kepala rantai itu berbalik arah, mengikat kaki dan tangan sang Rakshasa yang sedang lengah.
Yamadipati menarik rantai itu sekuat tenaga. Tarikan tangan yang biasa merobek jiwa dari raga itu dengan mudah menghilangkan jarak Yamadipati dengan sang Raksasha. Lalu secepat kilat, Yamadipati menghunus rencongnya tersayang ke arah jantung sang Raksasha. Tapi di luar dugaan Yamadipati, sang Raksasha yang dikiranya terikat erat menggulung dengan menekuk badan dan anggota tubuhnya yang masih bebas. Tindakan itu berhasil menyelamatkan jantung sang Raksasha dari tikaman Yamadipati. Raksasha itu berhasil menahan rencong di mulutnya walaupun topeng yang dikenakan sang Raksasha rusak sebagian karenanya.

Tanpa menunggu momentum berikutnya, Yamadipati menarik rencongnya yang masih tergigit begitu kuat ke arah bawah. Yamadipati lalu mengayunkan kakinya tepat ke tengkuk sang Rakshasa hingga wajah Rakshasa itu hampir mencium tanah. Namun karena menyadari rencongnya masih belum terlepas dari gigitan, Yamadipati melepaskan genggamannya dan melambung tinggi ke udara. Yamadipati kembali merapal mantra di udara, tapi belum selesai mantra itu dirapal, sebuah selendang merah menyala membelit kakinya.

“Kepadaku, Murka!”

Raungan sang Rakshasa menggelegar bersamaan hempasan yang melonggarkan rantai-rantai yang membelitnya. Yamadipati masih melayang-layang di udara, sementara kakinya masih terbelit selendang merah. Kedua tangannya menyilang, berusaha menahan hempasan dasyat tadi. Belum sempat menyadari apa yang terjadi, selendang itu menarik Yamadipati ke tanah, mengarah kepada sang Rakshasa. Sang Maut merasa pertahanannya tak akan berguna menghadapi amuk Rakshasa yang–entah bagaimana—telah mengubah penampilannya, maka ia mengerahkan seluruh kesaktian pada tinjunya.

Pendarannya tak lagi berwarna nila, tetapi merah gelap. Ketebalan zirah sang Rakshasa menghilang, hanya kerangka-kerangka besi yang mempertahankan sembilan ornamen muka di sekujur zirah yang menutupi tubuh. Selendang sutra berwarna nila juga digantikan oleh dua lembar sutra merah yang salah satu ujungnya menyatu dengan punggung zirah. Kipas dan keris tak lagi digenggam, digantikan dengan tinju besi berbelit rantai berduri dan kuku-kuku runcing di ujung jemari. Sang Raksasha benar-benar tampil layaknya wahana Wishnu, Garuda sang Akasaraja.

Baik sang Rakshasa maupun sang Batara tentunya tak punya waktu memerhatikan kesaktian lawan masing-masing. Kesaktian keduanya akan ditentukan melalui tinju-tinju mereka di momentum berikutnya. Kedua tinju sang Rakshasa berpendar, aksara “Murka” tertulis di pendaran itu, sementara selendang merahnya menarik Yamadipati ke arahnya. Yamadipati yang mengumpul seluruh tenaga pada tangannya memanfaatkan tarikan itu. Ditambah dengan kemampuannya terbang, Yamadipati melesat layaknya godam yang mampu menembus gunung.

Sang Rakshasa dan Yamadipati saling beradu tinju dengan tinju. Tubrukan pertama menyebabkan hentakan dasyat yang menyingkirkan benda-benda di sekeliling mereka. Tanah yang dipijak sang Rakshasa pecah menjadi puing-puing dan terhempas tak tentu arah. Tinju berikutnya dari kedua petarung itu meluncur kurang dari sedetik kemudian. Tinju sang Rakshasa menghantam dada sang Batara dan mematahkan tulang-tulang rusuknya. Sebaliknya, tinju Yamadipati telak menghantam wajah sang Rakshasa dan menghancurkan topeng sekaligus kepala sang Rakshasa hingga hancur!

Keduanya terhempas jauh berlawanan arah. Yamadipati berhasil mendarat dengan kedua kakinya, walaupun harus berlutut kembali akibat perih lukanya. Yamadipati memandangi lawannya yang tergeletak di tanah dan kemudian tersenyum tipis. Bukan karena kemenangannya, tetapi karena pertempuran yang baru saja ia lalui. Sungguh sebuah pertarungan yang mempertaruhkan nyawa, bahkan bagi sang Maut.

“Seandainya engkau beritahu aku namamu, hai Rakshasa. Maka ia akan harum semerbak di Arcapada, bahkan hingga ke Mayapada.” Yamadipati berujar. Darah segar mengalir dari mulutnya. “Sungguh kesaktian luar biasa dari seorang berwatak pengecut!”

“Hahahaha!” Suara tawa tanpa sosok menggelegar, nadanya tinggi dan kasar. “Apakah pengindramu sudah begitu tumpul, wahai Batara Maut? Bahkan tak ada seruas jari pun jiwaku kau tarik dari ragaku!”

Yamadipati terbelalak. Rakshasa di depannya bangkit dengan kepala yang tak lagi utuh. Serpihan daging, tulang, dan kulit yang berserakan di tanah kemudian melebur kembali membentuk kepala sang Rakshasa. Wajah Rakshasa itu beringsut pulih, tapi sebelum kulit wajahnya kembali, sang Rakshasa menutupnya dengan topeng yang lagi-lagi memliki raut muka dan pendar cahaya yang berbeda.

“Berkah Pertiwi… Pancasona?” Kata Yamadipati setengah tak percaya.

“Benar paduka.” Sebuah suara menyahut, yang rupanya berasal dari mulut Citragupta yang muncul dari balik bayangan.

“Rakshasa itu adalah salah satu insan yang diberkahi Pertiwi.”

Yamadipati bergeming. Matanya masih memandang Rakshasa di depannya dengan takjub, sementara telinganya masih mendengarkan tutur menterinya dengan penuh.

“Nama Rakshasa itu, Paduka…” Lanjut Citragupta “…adalah Rahwana, sang Dasamuka. Kekasih Sepuluh Karma.”

Bersambung…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s