Yamadipati (3)

Air dalam cawannya membuat riak. Dentuman keras barusan rupanya begitu keras, bahkan getarannya menembus tembok Yamaloka, mencapai gerbang Naraka yang tak pernah sepi dengan teriakan para pendosa. Ia menaruh cawan tengkoraknya, meluruskan punggungnya dan memasang topong garuda di atas rambutnya yang seputih abu. Matanya yang selalu menyala-nyala kini membara. Yamadipati, sang Batara Maut, bangkit dari dipannya dan meraung dengan murka.

“Demi jiwa-jiwa yang ku robek dari raganya! Siapa gerangan yang berani menyentuh tanah Yamaloka sedemikian caranya?”

Abdi-abdinya merunduk ketakutan, beberapa mengejar cawan tuannya yang menggelinding ke lantai. Para penabuh gamelan berhenti menyusun bunyi-bunyian, mereka ganti memerhatikan langkah tuannya yang menghentak lebih keras dari bunyian gong perang Yamaloka. Abdi-abdi itu sadar, tuannya sedang murka. Kalau sudah begitu, lidah-lidah mereka—yang sebenarnya sudah sangat urung berbunyi—petah sepetah-petahnya.

“Ke mana saja para Yamakingkara? Bagaimana mungkin pasukan musuh dibiarkan mengetuk gerbang kota sedang mereka masih berjaga?”

“Ampun tuanku.” Kata seorang abdinya yang tiba-tiba muncul dari bayangan Yamadipati di lantai. “Pasukan yang tuan maksud hanya seorang Rakshasa. Rakshasa itu berhasil menyusup tanpa sepengetahuan penjaga dan bahkan menembus Asipatrawana.”
Baca lebih lanjut