Jatuh… Cinta?


Kenapa menyeru cinta,
yang menoleh jumawa?

Kenapa menemui cinta,
yang meninggalkan sunyi durja?

Kenapa memberi cinta,
yang menuntut semata?

Kenapa memaafkan cinta,
yang melukai rasa?

Kenapa mengharap cinta,
yang mungkin hanya selaksa?

Kenapa mencinta,
wahai pecinta?

(Karena cinta adalah cinta),
bisiknya bersahaja.

Lalu cermin itu diam saja,
tersenyum tanpa suara.

Budak Kebimbangan


Duh, ada bandul yang mengayun tak tentu arah,
sedang pangkalnya tersimpul erat di pusat hati yang goyah.

Belum lagi pikiran yang nyaris karam,
sebab lambungnya remuk redam.

Budak ini dibeli,
lalu dilepas sendiri.

Selayaknya anak itik didera kantuk,
lalu entah kemana ditinggal induk.

Duhai, tiadalah di sela-sela awan gelap,
tanpa kilat mengerjap-kerjap.

Ketahuilah para penyusun adab,
bimbang hamba pun punya sebab.

Tapi apalah peduli setan!
Duli, tuan dan puan.

Biar belian sembab sendiri, mati sendiri.

Prasasti Keabadian


Pada batu hijau itu bukan sekedar nama yang dipatri,
apalagi sekedar angka ia hidup dan mati,
nisan itu prasasti sebuah hikayat abadi.

Raganya mati, tapi tekadnya lekat terpatri;
suaranya tercekat, tapi kisahnya dalam tersurat;
senyumnya pudar, tapi tulusnya masih berpendar.

Dalam sebuah raga yang dulu tanpa rasa,
dalam selintas akal yang dulu tanpa makna,
dalam segenggam jiwa yang dulu tanpa cinta.

Aku

Mengenang Senja Lalu


Masih lekat semburat merah di ufuk barat,
seakan surya masih erat tertambat,
seakan cakrawala belum siap menyambut pekat.
Cerahnya pun merambat pulang lambat-lambat.
Sementara ia masih duduk diam tanpa syarat,
menunggu kumandang senja yang lamat-lamat,
menunggu kenangan dari masa yang lewat.
Bukan ia sedang menyalahkan kodrat,
hanya sedang menjadi manusia yang penuh galat.