Calonarang (1)

“Bedebah! Sebenarnya apa yang mereka inginkan? Apa mereka punya dendam atau kebodohan mereka sudah meracun begitu dalam.” Suara perempuan paruh baya menyentak saung gelap yang tak tersapa cahaya mentari.

“Ampun Ibu, memang itulah kata mereka. Katanya adinda Mangali itu peneluh, punya ilmu pangleakan.” Suara perempuan lain mengiba.

“Nir-Aksara dungu!”

Perempuan paruh baya itu melepeh susurnya, dan meludah merah pekat beraroma sirih campur kapur. Tangannya yang penuh kuku panjang bercat hitam menyingkap tirai, membiarkan semburat mentari memasuki saung, menegaskan alur-liuk asap dupa sesaji. Sedikit cahaya itu menampakkan riasannya yang angker tapi anggun, celak hitam melingkar sabit di bawah mata, menyiratkan bahwa ia perempuan pemuja Durga. rambutnya hitam legam terurai panjang hingga punggung. Ornamen bajunya warna kuning keemasan, dengan selendang merah darah. Orang-orang memanggilnya Rangda[1], Rangda Calonarang.

“Anakku malang…” Gerutunya, sembari kepalanya melongok keluar.

“Sabarlah Ibu, adinda elok rupa, pasti nanti ada peminang yang terpikat hatinya.” Lawan bicaranya menyahut, ikut melongok ke arah jendela seakan-akan bola matanya bisa melihat Mangali yang sedang asik bermain di pelataran.

“Tidak Larung, tidak. Padaku silakan saja, aku terima. Tapi pada anakku.” Suaranya tertahan “Beraninya mereka! Para Nir­-Aksara tak tahu adab itu harus membayarnya.”

“Sabar Ibu, sabar. Ananda juga bisa bersabar meski hampir tiap hari ananda diludahi. Bukannya Ibu yang menyabarkan ananda, menyabarkan kami?” Perempuan bernama Larung itu berusaha menenangkan Calonarang, tangannya meraba-raba berusaha menemukan pipi sang guru.

“Kau beda Larung, kau buta. Kau kurang lebih seperti aku, terbuang. Walau aku masih muak dengan itu. Seandainya bisa kau tengok Mangali, Larung. Sungguh suatu yang tak pantas apa yang mereka lontarkan. Ia begitu jelita, juga polos. Dosa apa yang ia perbuat?”
Baca lebih lanjut

Iklan

Katanya, Waktu Begitu

Katanya, biar waktu yang menyembuhkan.
Ah, maka luka sayat ku tak akan tutup.
Karena katanya, waktu adalah pedang.

Katanya, biar waktu yang menjawab.
Ah, maka jawab tanyaku tak akan terbeli penuh.
Karena katanya, waktu adalah uang.

Katanya, waktu kan berlalu.
Ah, maka ragu rasa ku ‘kan dilekang waktu.
Karena nyatanya, aku masih menunggu.