Pembawa Hujan (2)

Lagi-lagi hari ini langit berwarna kelabu. Kadang-kadang muncul selintas pikiran, mungkin ini rekayasa Amerika untuk menutupi langit kota ini dengan awan mendung. Kemudian setiap warganya tidak pernah mendapatkan cahaya matahari untuk pro-vitamin D dalam tubuh, maka ketika perang meletus kami semua tak bisa lari jauh-jauh. Ah, lamunanku lagi-lagi mengawang terlalu jauh. Inilah hujan, yang turun pada suatu kaum sebagai rahmat atau laknat. Hem, tapi tetap saja, bagiku hujan adalah rival.

“Wahai langit mendung, hari ini aku tidak akan kalah lagi.”

Tak lupa ku periksa perlengkapan perangku. Payung lipat, jas hujan, dan payung panjang atas nama Mikail Firdausi. Mikail, ya. Sedikit aneh rasanya mengingat kejadian kemarin. Kalau dibayangkan rasanya seperti kisah pangeran dan putri dalam dongeng. Tidak, jangan-jangan justru tampak seperti pembantu dan majikannya? Bagaimana aku bisa lupa, betapa aku bertekuk lutut di hadapan hujan dan tampak seperti sedang mengepel teras mushola. Kemudian sang majikan datang memberi iba pada sang pembantu. Huh, lamunan yang merusak suasana hati saja!

DING DONG! DING DONG!

Lonceng aneh sekolahku berdentang. Untung saja aku tepat waktu, apalagi kelasku ada di lantai tiga. Kelas XI IPS 1 itu baru ku tempati selama seminggu. Sedikit sepi, masih banyak wajah baru yang belum sempat ku pindai dan simpan dalam ingatanku. Apalagi sahabatku, Evi, tidak lagi di sini, ia masuk kelas IPA. Kelas XI IPA 1, walau cuma beda satu huruf, tapi itu menentukan segalanya. Yah, tak ada lagi pipi yang bisa ku coret, tak ada lagi permainan ninja-ninjaan, tak ada lagi berbagi, eh minta tugas. Yah, yang lebih membuat sepi, tak ada lagi rangkul merangkul saat hujan besar mengguyur.

Bicara hujan, sepertinya pikiranku dengan langit memang terhubung, baru saja aku memikirkan hujan, maka serta merta hujan turun. Deras sekali hujan kali ini, hawanya juga membuat kulit bergidik. Ah, dilengkapi dengan dongeng berjudul “Ekonomi” di jam pelajaran pertama, pagi ini bakal menjadi tidur yang sangat nyenyak. Memang guru pengajar kami –yang aku lupa namanya—orang yang kelewat sabar. Beliau tak pernah terlihat mengeluh, mengayuh sepeda antiknya pulang-pergi tiap hari. Tak pernah juga beliau marah saat sebagian kelas bersemayam dalam lelap masing-masing. Maafkan kami, Pak.

Lewat sudah 20 menit. Suasana kelas makin ramai saja. Tara, temanku sebangku sedang asik bergosip ria tentang anak laki-laki bersama gengnya, tepat di sampingku. Sementara aku masih diam meringkuk, menahan dingin dan kantuk yang semakin menjadi. Dalam pandanganku yang makin gelap, sesosok bayang muncul melalui pintu kelas dengan tergesa-gesa. Kelas diam. Setangkas ninja di televisi, Tara langsung memperbaiki posisi duduknya menghadap ke depan. Semua pandangan tertuju pada sosok itu, sosok berwarna kuning dengan sepatu boots di kaki. Ia berjalan menuju kursi paling belakang sembari membuka tudung kepalanya..

“Mikail?” Ucapku lirih, tenggelam dalam suasana kelas yang kembali berisik.

“Kehujanan Jeng?” Sebuah suara timbul, kemudian disambut suara mengejek dan tawa dari yang lain.

“Eh, itu, tuh. Si banci, kalian tahu kan hobinya yang…” Tak kusadari Tara sudah kemabali dalam mode gosipnya, mulutnya sudah kembali berceloteh, yang tentu saja kututupkan kupingku rapat-rapat darinya.

Orang asing itu, Mikail, ternyata kami satu kelas dan aku baru sadar. Ah, ini pasti karena lamunan yang sering menculikku ke awang-awang, aku jadi asing dengan dunia nyata sekitarku. Aku melongok ke luar jendela, mengintip hujan yang makin menjadi-jadi. Hem. Hujan-hujan inilah yang memulai kebiasaanku melamun, tapi ia juga yang mempertemukan kami. Hidup ini memang penuh kebetulan, ya. Aku mengambil payung Mikail yang ku simpan di kolong meja.

Belum sempat aku berdiri, ternyata Mikail sudah melepas zirahnya, eh jas hujannya, dan duduk meringkuk di kursi paling belakang di pojok kanan. Sendiri. Tangannya masih setengah gemetar, mengeluarkan sesuatu dari kantong tasnya. Sebuah MP3 Player dan  sepasang earphone. Dengan lengannya sebagai bantal, ia langsung membenamkan wajah nya ke meja. Sepertinya ia kedinginan, bagian atas bajunya lumayan basah kuyup. Duh, pasti karena ia berangkat tanpa payung. Apalagi tanpa jaket atau baju hangat. Aku jadi merasa bersalah…

Aku beranjak ke tempatnya duduk. Rasanya suara-suara berisik hilang. Padahal masih bisa kulihat bibir mereka bergerak-gerak dalam tempo lambat, terutama bibir Tara yang bergerak maju mundur seperti letusan balon-balon lumpur Lapindo. Ah, seharusnya pikiranku tak perlu melayang jauh ke bibir-bibir itu, cukup bibirnya saja-bibir Mikail. Aku ingin mendengar suaranya, mengenalnya secara formal, kemudian berterimakasih. Tidak, tidak, tidak. Tidak perlu menanyakan di mana ia tinggal atau tetek bengek lainnya. Cukup kembalikan saja payungnya. Ingat, hijab!

“Permisi. Mikail?”

“Ya?” Sahutannya sama seperti kemarin, terdengar polos. Hanya saja ekspresinya beda kali ini, bukan wajah melongo. Matanya sembab, hidungnya merah. Flu? Tidak, ia menangis. Aku tahu dan aku yakin. Insting perempuan.

“Ini payung yang kemarin. Terima kasih ya.”

“Sama-sama, Siti.” Tangannya meraih payung miliknya, sedang mukanya ia buang entah kemana.

Aku terkejut, Mikail tahu namaku. Sebenarnya aku masih ingin berbincang lebih banyak lagi, tapi tampaknya keadaan hati Mikail juga sedang hujan. Ah, aku harus bersyukur, mungkin ini cara Allah menjauhkanku dari tipu daya setan yang sering menggunakan interaksi lawan jenis. Lagipula Mikail langsung membenamkan kembali wajahnya, bahkan sebelum aku berbalik. Biarlah, aku kembali ke bangkuku di sebelah Tara yang masih dalam mode gosip.

“Iya, loh. Semua sudah tahu lah, bagaimana Mikail, kyahahaha.” Tawa Tara seperti Mak Lampir, hanya saja mulutnya lebih lebar, jauh lebih lebar. “Ada kabar dia itu homo.”

“Apa??” Dalam hatiku. Setan berhasil menerkam sisi lemahku saat ini; penasaran. Aku menegakkan tubuhku ke sandaran bangku, berusaha mencuri dengar.

“Aku pernah dengar dari temannya masa SMP, ada yang sudah jadi korbannya itu.” Teman Tara yang namanya belum ku tahu –dan tak aku peduli—menimpali sambil berbisik-bisik. Lebih tahu malu dari Tara.

“Ih, jijik. Jadi korban? Diperkosa begitu?” Sahut –entah siapa namanya—lebih rendah lagi suaranya.

“Jangan fitnah, deh kamu! Cuma di peluk-peluk begitu. Memang ada yang pernah dapat surat cinta juga sih, tapi bukan yang parah seperti itu.” Tara menimpali dengan sok bijak. Ingin sekali kusembur wajahnya saat itu, memangnya apa yang mereka lakukan selama ini kalau bukan menyebar fitnah yang lebih busuk dari prasangka buruk?

“Lalu kalian tahu, cintanya bertepuk sebelah tangan.”

“Kya ha ha ha ha.” Tawa mereka seperti Mak Lampir terjepit daun pintu. Aku belum pernah melihatnya sih, tapi aku yakin, pasti jelek sekali. Aku tak peduli  lagi siapa yang bicara, toh semuanya sama. Busuk.

“Ya jelaslah, homo begitu!”

“Tapi si homo ini pantang mundur loh, kalian tahu siapa incarannya sekarang? Bahkan sampai di kejar masuk kelas IPS loh.”

Aku tercekat dalam hati, semakin memasang kupingku lebar-lebar.

“Jangan bilang si Erik. Biar ku tampar tuh si homo kalau berani dekat-dekat Erik.”

“Siapa lagi? Erik kan bintang sekolah, tampan, atletis, apalagi bawaannya itu… Bayangkan deh, digandeng Erik naik mobilnya itu.”

“Iiih… So sweet…” Chorus baru. Chorus Mak Lampir berdendang, sedikit merdu. Tapi tetap saja maknanya busuk. Menilai seseorang dari luarnya saja, tampilan fisik dan harta.

“Ah, setahuku nilai Erik bahkan tak bisa mencukupi prasyarat naik kelas. Keahliannya kan hanya tebar pesona dan rupiah.” Sungutku dalam hati.

“KYAAAA”

Tiba-tiba kilatan cahaya menerangi kelas yang temaram, dibarengi suara yang memekakkan telinga. Tak lama keadaan di luar kelas menjadi ricuh. Anak-anak di kelasku serta merta berhamburan keluar kelas. Mereka berebut mencuri pemandangan yang mengerikan. Rupanya atap gymnasium hangus tersambar petir. Ya, petir. Begitu dekat, begitu nyata.

“Atagfirullah…” Pintaku ampun dalam hati, betapa dekat kematian itu. Bagaimana jika petir barusan menyambar kelasku yang ada di lantai teratas? Sedangkan saat itu aku sedang sibuk hanyut dalam prasangka buruk. Mati dalam keadaan bergosip tentunya bukan kematian yang terhormat, begitu hina tentunya. Ah, terima kasih hujan, kau memang rival yang baik. Kau tahu aku tidak boleh kalah secara tak hormat. Terima kasih telah mengingatkanku. Lagi-lagi aku merajut lamunan panjang tentang hujan.

Setelah sadar, aku memandang Mikail yang masih diam di tempatnya, sama sepertiku. Sepertinya ia tidak peduli, wajahnya masih terbenam di kedua tangannya. Aku melihat keluar, tampak Erik yang belum-belum sudah memulai kelakarnya, padahal situasi sedang genting. Yah, kalau diingat-ingat, dialah yang pertama kali mengejek Mikail yang datang terlambat dan kebasahan. Bagaimana bisa geng Mak Lampir mengidolakan orang seperti itu? Ah, tentu saja. Karena mereka sama-sama buruknya.

“Astagfirullah…” Ucapku sampil menampar pipiku sendiri –biasanya Evi yang melakukannya untukku jika aku khilaf.

“Maafkan aku teman-teman, karena menganggap buruk kalian. Padahal bisa saja Allah membalikkan hati, hidayah untuk kalian dan kesesatan untukku. Maafkan aku Erik, aku tak bedanya dengan mereka yang melihat dari fisik. Maafkan aku Mikail, yang ingin mengetahui dirimu dengan cara yang salah.” Aku menasihati diriku sendiri, menggantikan Evi yang biasa melakukannya. “Betapa kerugian yang diberikan ghibah begitu besar…”

Tanpa kusadari, Mikail sudah beranjak dari tempatnya. Hanya ada aku di ruang kelas saat itu. Suasana berisik pindah ke balkon, masih didominasi suara perempuan yang melengking-lemgking, sebuah choir Mak Lampir lain bergema –sangat berantakan. Aku menuju balkon, untuk sekedar mengetahui apa yang membuat siswi-siswi kelasku berkicau serempak. Ah, anak laki-laki sedang bermain bola rupanya, di bawah hujan yang tinggal rintik gerimis.

Kulihat teman-temanku yang perempuan berjajar rapi, mulai dari Tara hingga muka-muka yang aku masih asing padanya. Pandangan mereka tertuju pada satu titik. Yap, Erik. Aku terus berjalan menyusuri barisan para fanatik. Langkahku berhenti di ujung balkon. Bukan karena temboknya, tapi karena sosok yang ku kenal, Mikail. Ia tampak lebih hidup kini.

“Mikail.” Sapaku. Tanpa jawaban, bahkan sekedar tolehan ringan.

“Hai, Mikail.” Ulangku. Mikail tetap bergeming.

Huh. Sayang sekali, istilah ‘hidup’ Mikail sekarang tak beda jauh dengan istilah ‘nyala’ untuk sebuah robot mainan. Ia diam membeku, pandangannya tajam menuju lapangan di bawah. Kucoba menyusuri pandangannya ke bawah, mencocokkan gerak-gerik bola mata dan rotasi leher dengan objek-objek yang bergerak di lapangan.

Aku tercekat. Setelah menghitung dengan metode pengukuran berulang dan persepsi paling tinggi yang ku miliki, sebuah hipotesis menjegalku. Pandangan Mikail tertuju pada Erik… yang melepas seragam atasnya, bertelanjang dada.

Teriakan para pemain bola, lengkingan para fanatik, gemercik hujan dengan genting, atau ribuan prasangka yang berkecamuk dalam hati, mana yang harus aku dengarkan?

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s