Pembawa Hujan (1)

Kupandangi langit dari tadi. Rupanya awan mendung tak mau sekedar ‘numpang lewat’. Hujan lagi. Lagi-lagi hujan. Sungguh cuaca yang membuat tasku penuh. Penuh diisi payung dan jas hujan. Tak cukup, terkadang aku perlu membawa satu tas lagi untuk sepatu boots –ya, aku tahu boots artinya sepatu—selain tas jinjing lain berisi mukena dan sajadah. Hujan itu seperti duta bagi langit, dengan hujanlah langit itu membumi. Lantas, hujan yang datang lagi-lagi ini apakah sebuah pesan bahwa langit ingin menghanyutkan bumi?

PLUK! Sebuah tangan hinggap di atas kepalaku.

“Lalu ada malaikat yang tugasnya mencabut nyawa, dari kaki, perut, lalu ke kepala. Seperti ini.” Kata Mbak Marsitoh, seraya tangannya merayap ke hidungku dan menariknya sekuat tenaga.

“Hayo, hati-hati yang sering pikirannya melayang-layang, nanti kalau tiba-tiba ikut melayang bagaimana?” Lanjutnya lagi sambil senyum-senyum, sementara teman-temanku masih cekikikan.

“Iya Mbak, Siti dengar kok.” Sahutku ketus, sambil membenarkan hijabku yang sedikit lengser. “Lalu Mbak, bagaimana malaikat yang menurunkan hujan?”

“Nah, lalu ada yang namanya Mikail. Malaikat ini tugasnya menurunkan hujan, dan membagikan rahmat.”

“Ah, lalu haruskah aku protes pada Mikail karena hujan berhari-hari ini?” Sungutku dalam hati.

“Sedikit tambahan, pada jaman Rasulullah, turunnya surat Al-Baqoroh ayat 97 dan 98 itu karena kaum Yahudi yang menolak bermuslim, lantaran membenci Jibril dan fanatik terhadap Mikail.” Mbak Marsitoh melanjutkan, lalu membacakan ayat-ayat yang dibicarakan sebelumnya.

Seketika kusadari kebodohanku lantaran mendengar terjemahan ayat 98 itu. ”Astagfirullah, aku ini kaumnya siapa sih?”

Tapi aku masih bersikeras, pasti ada sesuatu dari malaikat yang bersangkutpaut dengan hujan-hujan ini. Bukankah malaikat itu pembantu Allah?

ALLAHU AKBAR! ALLAHU AKBAR….

“Wah, sudah ashar. Kita sudahi saja bahasan kita di mentoring minggu ini. Maaf ya, seperti yang mbak bilang sebelumnya, mbak ada urusan mendadak di luar kota.”

Suara adzan sudah menggaung, mengalahkan suara dedaunan yang bergesek dalam haluan angin, sekaligus mengakhiri lingkaran kecil kami. Ah, sayang. Masih ada rentetan pertanyaan tentang Mikail yang belum kutanyakan pada Mbak Marsitoh. Menyesal aku, materi malaikat ini sempat kutukar dengan lamunan tentang hujan di awal pertemuan. Kupikir hanya mengulang materi SD saja, tapi nyatanya tidak. Huh, ini karena hujan.

“Wassalamualaykum…” Salam penutup dari Evi sengaja dikeraskan, membuyarkan pikiranku yang lagi-lagi mulai membentuk lamunan. Sahabatku ini memang pintar ‘menganalisis’. Aku yakin, yang memberi isyarat Mbak Marsitoh di awal tadi pasti Evi. Aku harus berterimakasih untuk yang satu, sih.

Liqo selesai, kami semua bubar. Setelah cium pipi kiri pipi kanan, kami kembali ke orbitnya masing-masing. Kebanyakan memilih untuk langsung pulang, karena langit sudah terlihat seperti rok seragam kami. Selain itu minggu ini banyak yang kedatangan tamu, siapa lagi kalau bukan bulan yang rajin datang. Hanya aku dan Evi yang memilih untuk Ashar terlebih dulu di mushola. Ada jadwal wawancara OSIS yang harus dihadiri Evi, si calon bendahara umum –menurutku. Sedang aku, rumahku terlalu jauh. Bagaimana nanti kalau macet –apalagi hujan—belum lagi menunggu angkutan kota yang lamanya minta ampun.

Tiba-tiba saja iqomah ganti menggaung. Kulihat sisiku sudah kosong, lamunanku berhasil menculikku lagi ke awang-awang. Huh… Ternyata hujan mulai turun dalam rintik.

“Assalamualaykum…” Suara salam sang imam yang menipis lewat pengeras suara.

Serta merta saja langit ikut menjawab dengan suara hujan yang menggempur atap  mushola kami. Hujan deras. Benar sekali pilihanku untuk tidak langsung pulang. Andainya pulang, pasti akan macet di tengah perjalanan nanti. Hatiku berbunga-bunga, wajar saja sudah beberapa kali aku dijebak hujan dan harus sholat ashar tepat sebelum adzan maghrib. Kali ini aku berhasil mengatasi intrik hujan. Aku mengacak pinggang sambil memandang langit yang bergemuruh. Puas.

“Siti, wawancaranya diundur, mau pulang bersama? Aku ada jemputan.” Pesan singkat dari Evi masuk ke ponselku.

“Aku pulang sendiri, Vi. Pulanglah lebih dulu. Aku masih ada urusan.” Jempolku memijit tombol kirim. Bukannya sombong, tapi aku punya alasan untuk bohong. Rumah Evi dan aku berlawanan arah, apalagi rumah kami sama-sama di ujung kota. Bagaimana mungkin aku menerima tawaran itu? Lagipula aku belum puas mengejek hujan. Ha.

Puas memandangi langit, aku aku merogoh tasku, mencari-cari alat sakti Doraemon; Tongkat Lipat Penahan Hujan dan Jubah Penangkal Air. Dengan pongah kutarik alat sakti pertama keluar dari tas. Kaget. Benda yang kutarik bukan payung lipat kesayanganku, tapi kotak pensil ukuran jumbo –kesayanganku juga. Sepertinya aku lupa membawa payung. Tak masalah, masih ada alat kedua. Aku merogoh kantong lain yang lebih dalam dan lebar. Kosong. Kantong itu kosong layaknya pikiranku sekarang. Hah. Sementara hujan semakin mengguyur deras, ganti mengejekku.

“Ampun hujan, ampun.” Rengekku dalam hati. Bertekuklah lututku, lemas. Aku laksana raja yang ditundukkan.

Peace ya Allah. Peace Mikail!”

“Ya?”

Seseorang menyahut. Seorang siswa, usianya sepantaran denganku kukira. Laki-laki dengan payung hijau muda dan jas hujan warna kuning –persis seperti punyaku—kebetulan lewat. Kebetulan pula pandangan kami bertemu, lekat. Begitu lekat sampai-sampai kami terdiam di tempat beberapa saat. Mungkin ini yang dibilang Mbak Marsitoh bahwa pandangan pertama itu nikmat. Duh, ini nikmat yang sulit dilepas kalau begitu, lantaran pandangan kedua itu milik setan.

“Ini.” Katanya sambil tersenyum lebar mengakhiri pikiraku yang –lagi-lagi—mulai mengawang.

Ia melipat payungnya dan meletakkannya di sampingku. Ia pergi, tanpa berucap lagi. Langkahnya semakin cepat, berubah menjadi lari kecil yang sedikit aneh karena kakinya dibungkus sepatu boots. Anggun, seperti penari balet atau ice skater di televisi. Tetap saja tidak mengurangi pesonanya. Bagaimana tidak, seseorang yang tiba-tiba datang dan mempersembahkan payungya begitu saja, lalu pergi dengan senyuman dan lari yang aneh –dan anggun—layaknya sebuah adegan dalam pertunjukan opera.

“Ah, iya payung.” Aku mencekat lamunanku sendiri, teringat payung yang ditinggalkan sang pangeran, eh si orang asing.

MIKAIL FIRDAUSI

Sebuah kartu nama berbungkus plastik tebal bergantung di gagang payung. Sebelum pikiranku mengawang lagi, hujan rupanya mulai tenang. Di ujung langit barat, matahari kemerahan sudah bebas dari tawanan awan mendung.

“Mikail, pembawa hujan?”

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s