Yamadipati (2)

Perempuan itu memanggul keranjang beranyam bambu, dengan rambutnya yang panjang lurus dibelit melingkar dan dikokohkan dengan sebuah tusuk konde. Maka wajahnya dapat terlihat jelas di tengah belantara itu. Paling menarik adalah apabila bagian matanya terpampang. Alisnya laksana bulan sabit sementara matanya laksana Tirta Gangga yang memantulkan cahayanya. Tak hanya cahaya bulan rupanya, budi pekerti serta baktinya pada suami juga berkilat pada dua bola mata yang indah-indah itu. Seorang tua mengikuti bola mata itu, biar masuk jauh ke dalam gelapnya hutan.

“Ambillah lagi wahai Petapa. Hanya beberapa batang jamur hutan belum bisa mengurangi beban di panggulan ananda.” Ujar perempuan itu pada seorang petapa tua yang lunglai di bawah rimbun pohon jati.

“Aku sudah cukup kenyang dengan kebaikanmu, anak muda. Pergilah, lanjutkan kembali perjalananmu. Suamimu menunggu, bukan?”

“Ya, benar Petapa sakti.” Perempuan itu agak terkejut. ”Kami bertenda di lereng bawah. Tak jauh dari sini.”

Kemudian perempuan itu melanjutkan sambil memasang senyumnya “Kalau tak sedang mencari moksa, alangkah baiknya anda mengambil satu atau dua teman dalam tapa anda.”

“Sayang, tutur takdir tak sebaik tutur dirimu, Nak.”

“Wahai, ampuni ananda berkata lancang. Lebih baik diri ini melanjutkan kembali perjalanan.” Ditutup sebuah salam, perempuan itu lalu pamit undur diri, melanjutkan bakti mulianya pada sang suami.

Bayang perempuan itu sudah hilang dalam semak rimba. Lalu dengan ajaib sang petapa tua mengambil sebuah topong dari udara kosong, menyibak jubah putihnya yang seketika menjelma ke sebuah wujud busana kebesaran. Dibalut selendang merah darah, dan selop bermotif bunga api, Yamadipati menampakkan wujud sebenarnya. Hari-hari lalu menjelma angin dingin, lalu kijang luka, lalu gadis muda belia, lalu hari ini ia pura-pura jadi petapa yang sedang nestapa. Sudah empat hari mengawas –yang sebenarnya sama sekali tak perlu—hari ini adalah puncak masa penasarannya.

Tugasnya kali ini berbeda dengan yang sudah sudah. Terlalu sering tatapannya yang dingin dan tajam menusuk dalam bola-bola mata para pendosa, menyayat kenistaan-kenistaan yang ditutup di balik hati yang sudah hitam dan mati. “Akulah laknat yang dulu kau lupa, sekarang cumbulah aku, akan kupinang engkau ke Naraka!!” Sambil tangan kirinya menjambak ubun-ubun si mayat dan tangan kanannya menarik paksa si jiwa dengan rantai berduri yang merah menyala-menyala. Tangan kiri itu belum puas, setelahnya jiwa-jiwa pendosa itu akan diseret dengan muka di bawah. Laki-laki atau perempuan, perlakuannya sama untuk mereka yang senang mencumbu dunia, melupakannya yang selalu mengawas.

Hanya saja, kali ini ia harus berdua muka. Tidak seperti tugas biasanya, tatapan berapi-api dan muka murka harus disisihkannya kali ini. Dipasanglah muka arif Yamadipati, incarannya ini adalah pasangan muda-mudi, Sawitri dan Setiawan namanya. Sawitri seorang putri negara Madra yang jelita tetapi bertahun-tahun tanpa pelamar, ia kemudian berkelana mencari bakal pasangan hidup dan akhirnya menemukan Setiawan di belantara ini. Sang suami Setiawan, seorang pangeran yang lengser tahta karena negaranya dijajah, kemudian ikut masuk ke pertapaan di belantara bersama ayahnya Jumat Sena, mantan Brahmanaraja Salwa. Hal yang sangat dikagumi Yamadipati adalah setia dan bakti Sawitri ini pada Setiawan, dari istana ke kedalaman belantara.

“Lucu, tangan takdir yang dipermainkan takdir, dipisahkan oleh takdir. Kini dengan nama takdir, aku harus melakukan hal yang sama.” Yamadipati berujar pada dirinya sendiri, mengorek kenangan berwarsa-warsa yang lalu. “Ribuan sayang, pemuda itu harus merelakan perpisahannya dengan cinta kasihnya. Inilah takdir, dan akulah salah satu tangan takdir.”

Rintik hujan mulai turun, sementara itu Sawitri hampir sampai di tendanya. Dari kejauhan tampak Setiawan suaminya masih hikmat membelah kayu, tanpa peduli bahwa butir-butir air mulai turun. Dengan cekatan kaki mungil Sawitri melewati jalan setapak, sembari kedua tangannya masih memegangi keranjang bambunya. Setelah beberapa langkah dan lompatan kecil, kaki kirinya tergelincir tanah yang rupanya mulai basah. Seketika itu, jatuh pula keranjang bawaannya. Dengan sigap Sawitri menutupkan mulut keranjang itu ke perutnya, inilah harga dirinya sebagai istri yang menyuapi suaminya. Tanpa peduli badannya tetap meluncur jauh kebawah, tanpa tahu Batara Yama mengikutinya.

Sementara itu, Setiawan telah menyelesaikan bongkah kayu terakhirnya. Kayu-kayu itu harus siap, untuk api dan menambah luasan atap, apalagi hujan mulai deras padahal Surya mulai pudar warnanya. Langsung saja ia susun potongan-potongan yang paling besar sebagai tambahan atap, sementara yang lebih kecil segera ia sisihkan di tempat teduh dan kering. Namun, baru beberapa potong ia susun kayu-kayu itu, kepalanya seperti dibentur benda keras. Yakin tak ada sosok manusia ataupun raksasa yang menyerangnya, Setiawan lanjut menyusun lagi. Tak terlalu tapi, tiba-tiba pandangannya gelap, sakit di kepalanya merambah ke seluruh tubuh. Setiawan ambruk.

“Kangmas!” Sawitri terpekik dari kejauhan. Ia lari menuju suaminya yang tergeletak tak berdaya.

“Kangmas! Bangun Kangmas! Bangun!” Sawitri mengguncang-guncangkan tubuh suaminya yang dingin dan semakin kaku.

Tak mendapat balasan yang diingankan dari sang suami, Sawitri mendekap Setiawan. Mendekapnya seerat mungkin. Tiba-tiba di depannya berdiri sesosok tinggi besar, sedang mendekap Setiawan lain dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menggenggam rantai yang membelenggu Setiawan lain. Dua Setiawan, dan keduanya lemah tak berdaya. Pandangan Sawitri tak mungkin salah, kedua-duanya adalah suaminya, Setiawan.

“Apakah engkau adalah Maut?” Tanya Sawitri, suaranya tanpa rasa takut.

Yamadipati terkejut, seorang manusia mampu melihatnya. Ia tetap diam, sembari tangan kirinya menarik rantai jiwa dengan lembut.

“Apakah engkau Maut?” Sawitri bertanya embali, dengan lebih lantang.

Melihat bola mata Sawitri, Yamadipati berhenti bergeming, berikut pula pilinannya. “Ya, akulah Batara Yama, akulah Maut.”

“Kenapa wahai Maut, kenapa sekarang?”

“Pulanglah! Tak ada yang bisa kau tanyakan, apalagi kau ubah! Walau sampai puncak Suryaloka atau istana Antaboga, akan kau dapati jawabanku adalah sama. Ini sudah ketentuan takdir! ” Yamadipati menjawab parau, ada sedikit perih dalam jawabnya.

“Maka bawalah hamba serta!”

“Tidak, lembar hidupmu masih jauh dan panjang. Kembalilah, kudapati ragamu telah payah!”

“Tidak, wahai Maut. Pulangnya hamba adalah tempat Setiawan berada. Hanya di sisinya tempat hamba, bahkan walau hamba harus berbagi sisi dengan Maut.”

Yamadipati terdiam. Kenangannya terputar kembali, membuatnya berandai-andai. Andai Dewi Mumpuni seperti Sawitri. Andai Sawitri mau merelakan Setiawan yang memang lembar hidupnya habis, apakah ia dapat menggantikkanya? Kemudian memiliki Sawitri dengan kesetiaannya yang maha-maha itu?

“Tidak. Melepaskan jiwa suamimu sama saja melepas murka langit. Pergilah! Pergilah dengan hadiah di tanganmu, satu permintaanmu untukku aku kabulkan. Apapun, tetapi bukan jiwa suamimu.”

“Wahai, Maut. Kudapati pendirianmu tetap pada pijaknya, maka ijinkan hamba menerima kebaikanmu.”

“Ucapkanlah, Sawitri.”

“Hamba mohon seratus orang putra yang tangguh perkasa, sehingga kami dapat hidup bahagia.”

“Seratus? Baiklah, kuberikan seratus orang putra terbaik di jamanmu! Sekarang pulanglah! Setiawan sudah dalam tawanku.”

“Wahai. Belum, Maut, belum. Dari seratus orang itu, satu pun tak akan mampu hamba kandung. Bagaimana mungkin hamba mampu mengandung putra, tanpa seorang suami yang menyayang dan mengasihi?”

Yamadipati tercekat. Perempuan di depannya tak hanya menawan dan berbudi luhur. Tiba-tiba saja badai dalam hatinya kembali bergemuruh. Beliung cemburu menghempas dinding hatinya. Kenapa Dewi Mumpuni tak bisa setia seperti ini? Petir kecewa menyengat lekit, Sawitri tak mungkin bersanding dengan pria lain. Hujan kesedihan membanjiri hatinya, airnya meluap-luap hingga tertumpah lewat mata. Hanya saja air mata itu akan segera menguap di matanya. Selalu begitu, Yamadipati memang dilahirkan untuk tidak –menunjukkan—belas kasih.

“Baiklah. Cukup sudah, ambillah kembali apa yang dulu dan esok masih kau cinta. Kesetiaanmu tiada tara, wahai istri Setiawan. Pergilah kalian berdua, lahirkan putra kalian yang sekian banyak jumlahnya. Lain kali aku akan datang lagi menjenguk, entah salah satu atau dua dari kalian. Seratus tahun!”

Yamadipati melepaskan cengkraman, mengibaskan selendang merah darahnya, dan menghilang di antara deru hujan. Badai di hatinya sudah tenang, sekarang pelangi menghiasi langit-langit hatinya. Meninggalkan Sawitri yang dicintainya bersama Setiawan yang diihormatimya untuk waktu yang lebih lama.

Mencintai seseorang adalah membuat mereka mencintai, walaupun itu bukan diri sendiri. Yamadipati kembali ke atas dipannya, memandangi Naraka bersama abdi-abdi setianya. Ceritanya telah ia tutup, kini ia menunggu di Yamaloka. Menunggu sahabat lamanya, Batara Kala sang Waktu, yang tak pernah pasti, hingga saatnya pecinta lain membutuhkan perannya lagi dalam cerita mereka. Dasamuka Rahwana sang Raksasaraja atau Dewi Kunti sang penggenggam ajian Gendam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s