Pembawa Hujan (2)

Lagi-lagi hari ini langit berwarna kelabu. Kadang-kadang muncul selintas pikiran, mungkin ini rekayasa Amerika untuk menutupi langit kota ini dengan awan mendung. Kemudian setiap warganya tidak pernah mendapatkan cahaya matahari untuk pro-vitamin D dalam tubuh, maka ketika perang meletus kami semua tak bisa lari jauh-jauh. Ah, lamunanku lagi-lagi mengawang terlalu jauh. Inilah hujan, yang turun pada suatu kaum sebagai rahmat atau laknat. Hem, tapi tetap saja, bagiku hujan adalah rival.

“Wahai langit mendung, hari ini aku tidak akan kalah lagi.”

Tak lupa ku periksa perlengkapan perangku. Payung lipat, jas hujan, dan payung panjang atas nama Mikail Firdausi. Mikail, ya. Sedikit aneh rasanya mengingat kejadian kemarin. Kalau dibayangkan rasanya seperti kisah pangeran dan putri dalam dongeng. Tidak, jangan-jangan justru tampak seperti pembantu dan majikannya? Bagaimana aku bisa lupa, betapa aku bertekuk lutut di hadapan hujan dan tampak seperti sedang mengepel teras mushola. Kemudian sang majikan datang memberi iba pada sang pembantu. Huh, lamunan yang merusak suasana hati saja!

DING DONG! DING DONG!
Baca lebih lanjut

Pembawa Hujan (1)

Kupandangi langit dari tadi. Rupanya awan mendung tak mau sekedar ‘numpang lewat’. Hujan lagi. Lagi-lagi hujan. Sungguh cuaca yang membuat tasku penuh. Penuh diisi payung dan jas hujan. Tak cukup, terkadang aku perlu membawa satu tas lagi untuk sepatu boots –ya, aku tahu boots artinya sepatu—selain tas jinjing lain berisi mukena dan sajadah. Hujan itu seperti duta bagi langit, dengan hujanlah langit itu membumi. Lantas, hujan yang datang lagi-lagi ini apakah sebuah pesan bahwa langit ingin menghanyutkan bumi?

PLUK! Sebuah tangan hinggap di atas kepalaku.

“Lalu ada malaikat yang tugasnya mencabut nyawa, dari kaki, perut, lalu ke kepala. Seperti ini.” Kata Mbak Marsitoh, seraya tangannya merayap ke hidungku dan menariknya sekuat tenaga.

“Hayo, hati-hati yang sering pikirannya melayang-layang, nanti kalau tiba-tiba ikut melayang bagaimana?” Lanjutnya lagi sambil senyum-senyum, sementara teman-temanku masih cekikikan.

“Iya Mbak, Siti dengar kok.” Sahutku ketus, sambil membenarkan hijabku yang sedikit lengser. “Lalu Mbak, bagaimana malaikat yang menurunkan hujan?”

“Nah, lalu ada yang namanya Mikail. Malaikat ini tugasnya menurunkan hujan, dan membagikan rahmat.”

“Ah, lalu haruskah aku protes pada Mikail karena hujan berhari-hari ini?” Sungutku dalam hati.

“Sedikit tambahan, pada jaman Rasulullah, turunnya surat Al-Baqoroh ayat 97 dan 98 itu karena kaum Yahudi yang menolak bermuslim, lantaran membenci Jibril dan fanatik terhadap Mikail.” Mbak Marsitoh melanjutkan, lalu membacakan ayat-ayat yang dibicarakan sebelumnya.

Seketika kusadari kebodohanku lantaran mendengar terjemahan ayat 98 itu. ”Astagfirullah, aku ini kaumnya siapa sih?”

Tapi aku masih bersikeras, pasti ada sesuatu dari malaikat yang bersangkutpaut dengan hujan-hujan ini. Bukankah malaikat itu pembantu Allah?

ALLAHU AKBAR! ALLAHU AKBAR….
Baca lebih lanjut

Yamadipati (2)

Perempuan itu memanggul keranjang beranyam bambu, dengan rambutnya yang panjang lurus dibelit melingkar dan dikokohkan dengan sebuah tusuk konde. Maka wajahnya dapat terlihat jelas di tengah belantara itu. Paling menarik adalah apabila bagian matanya terpampang. Alisnya laksana bulan sabit sementara matanya laksana Tirta Gangga yang memantulkan cahayanya. Tak hanya cahaya bulan rupanya, budi pekerti serta baktinya pada suami juga berkilat pada dua bola mata yang indah-indah itu. Seorang tua mengikuti bola mata itu, biar masuk jauh ke dalam gelapnya hutan.

“Ambillah lagi wahai Petapa. Hanya beberapa batang jamur hutan belum bisa mengurangi beban di panggulan ananda.” Ujar perempuan itu pada seorang petapa tua yang lunglai di bawah rimbun pohon jati.

“Aku sudah cukup kenyang dengan kebaikanmu, anak muda. Pergilah, lanjutkan kembali perjalananmu. Suamimu menunggu, bukan?”

“Ya, benar Petapa sakti.” Perempuan itu agak terkejut. ”Kami bertenda di lereng bawah. Tak jauh dari sini.”

Kemudian perempuan itu melanjutkan sambil memasang senyumnya “Kalau tak sedang mencari moksa, alangkah baiknya anda mengambil satu atau dua teman dalam tapa anda.”

“Sayang, tutur takdir tak sebaik tutur dirimu, Nak.”

“Wahai, ampuni ananda berkata lancang. Lebih baik diri ini melanjutkan kembali perjalanan.” Ditutup sebuah salam, perempuan itu lalu pamit undur diri, melanjutkan bakti mulianya pada sang suami.
Baca lebih lanjut