Yamadipati (1)

Matanya menyipit, tapi selalu enggan untuk berkedip, tak peduli berapa silau kilatan-kilatan pelaknat itu, pelupuknnya hanya sekedar dilebar-redupkan. Bola matanya yang besar dan merah tetap mengawasi api Naraka yang berkobar-kobar, yang menyambar mulut-mulut pongah yang suka bersumbar, melelehkan emas dan perak di atas kulit orang-orang pelit, atau menghangusratakan jiwa-jiwa yang dulu haus darah. Betara Yamadipati, sang Maut, duduk bersila di atas pintu gerbang Naraka, ditemani abdi-abdi yang menuang air panas ke dalam cawan tengkorak, tentu saja, abdi-abdi yang juga selalu setia membantu tugasnya merobek jiwa dari raga para keturunan Manu.

“Aku bosan, menatap nista-nista para pendosa ini. Wahai abdiku, seringkah antara satu dari kalian menggunakan tangan kanan kalian?” Abdi-abdinya diam, suara mereka tenggelam dalam takut, atau sebenarnya tenggelam dalam kenyataan pahit bahwa kebanyakan mereka sudah menjadi kidal karena jarang menggunakan tangan kanannya untuk bertugas.

“Baiklah, pergilah beberapa dari kalian menghibur diri. Ada beberapa Brahman yang lembar hidupnya mau habis. Pergilah, gunakan tangan kanan kalian.”

Abdi-abdi itu pun taat, berpencar ke segala penjuru. Yamadipati sendiri segera bangkit setelah menenggak habis air dari cawannya, mengenakan topong garudanya, kemudian memanggil wahananya, seekor kerbau. Menunggangi punggung kerbaunya, ia melesat ke kahyangan Hargodimulah, meniggalkan Yamaloka. Membayangkan bunga kahyangan, istrinya sang bidadari Dewi Mumpuni, bahagia perasaannya saat itu. Walau sekedar ditunjukkan air muka yang datar dan dingin, tapi itulah muka senang sang Betara Maut. Benar, hanya beberapa orang saja yang boleh dan bisa memandang raut mukanya yang berbeda, bahkan Batara Guru sekalipun asing dengan raut itu.

“Ampun, Tuan. Hamba minta restu berbicara.” Yamadipati disambut lesu abdinya, Sesampainya di teras kahyangan.

“Bicaralah, abdi!”

“Ini tentang Nyai tuan, Beliau pergi.”

“Pergi? Kemanakah perginya?”

“Saptapratala, Tuanku. Bersama Paduka Nagatalama.”

Sontak Yamadipati berubah muka, mata bulat besarnya semakin merah membara, seringainya semakin lebar, menunjukkan taringnya yang berjejer sepanjang deret gusi. Selendangnya dikibaskan. Batara Yamadipati melesat cepat, diikuti liukan beliung yang menghempaskan awan-awan kahyangan. Tujuannya pasti; Saptapratala, istana kepunyaan Nagatalama, anak kandung Sanghyang Antaboga sang penguasa dunia bawah tanah. Hatinya geram membayang-bayang Nagatamala. Pangeran durja tak tahu diri, batinnya. Baru saja bersua beberapa candra, sudah berani mengambil kasihnya.

Tak menunggu Surya bergeser jauh, Yamadipati sudah mendarat di teras Saptapratala, menghantam lantainya yang terbuat dari hingga hancur berkeping-keping. Benar saja, istrinya Mumpuni sedang bermesra manja dengan Nagatamala di atas singgasana hijau jamrud yang terhampar melintang. Begitu dimabuk mesra, hiruk pikuk yang terjadi hanya membuat pasangan ini menoleh ringan. Belum sadar dengan siapa yang sedang berdiri di hadapan mereka; sang maut. Sang maut dengan murka yang maha-maha. Sampai suaranya menggelegar, menggema dalam balairung istana, matanya dalam menatapa Nagatamala.

“Wahai pendosa, masih adakah ruang di tanganmu yang penuh tahta dan kuasa itu, sampai lancang kau merebut kekasih dari tangan orang lain?”

“Wahai Kakanda Yama, inilah urusan hati, lain aji dan pusaka, apalagi mahkota.” Dewi Mumpuni justru yang menyahut paling pertama.

“Benar kata Mumpuni Kanda, hati kami saling mencintai, sudah begitu sejak kali pertama kami bersua di Hargodimulah. Ini juga adalaha takdir Yang…” Belum selesai Nagatamala menimpali, sebuah rencong sudah berada di depan hidungnya.

“Maka rebutlah apa yang sudah jadi milikku!”

Yamadipati menjorokkan tangan kanannya yang memegang rencong. Namun tak bisa sampai dalam-dalam ia menghunus rencongnya. Rupanya Nagatamala sudah berubah wujud, kulitnya berganti sisik berwarna hijau yang berkilau. Mulut Nagatamala yang penuh taring menggigit ujung rencong Yamadipati, terlihat pula lidahnya yang bercabang berkelebat keluar masuk. Kemudian dengan sigap tangan kiri Yamadipati meluncur mencengkram leher Nagatamala. Sekeras apapun sisik itu, dengan cengkaraman yang mampu merobek jiwa dari raga, bukan hal sulit bagi Yamadipati meremukkan leher Nagatamala.

Namun Nagatamala tak kehabisan siasat, dengan cepat wujudnya berubah menjadi naga seukuran ular sanca. Dengan cepat tubuh naganya merayapi Yamadipati. Sang Batara terlilit kaki dan pinggangnya, serta tangan kiri dan lehernya, sementara tangan kanannya menahan rencong dalam mulut Nagatamala. Lilitan Nagatamala semakin kencang, kedua Dewa itu tak mau mengalah, saling mencekik. Sementara Mumpuni hanya bergeming, di lantai, gemetar di sisi singgasana hijau jamrud.

Beberapa saat beradu tatapan mata dan tenaga, Yamadipati melemas. Cengkramannya lepas. Semantara Nagatamala semakin mengganas, belitannya dikencang lebih-lebih lagi. Yamadipati ambruk, tubuhnya masih dibelit Nagatamala dalam rupa naga. Mumpuni yang tadi diam menjerit, satu jeritan sekencang-kencangnya. Jeritan yang begitu kencang sampai-sampai mampu melubangi gendang telinga.

Seketika jasad Yamadipati menghilang. Alangkah kagetnya Mumpuni, utamanya Nagatamala yang sedang membelit udara kosong. Batara Yama masih berdiri di tempatnya semula ia datang, bergeming dengan tangan mendekap di perutnya. Matanya merah menyala-menyala, seperti mulut gerbang Naraka. Inikah perasaan menghadapi maut, pikir Nagatamala. Seluruh bayang-bayang kematian menghampiri, bahkan hanya dengan tatapan matanya Batara Yama bisa mencabut nyawa. Sementara itu, Mumpuni hanya melongo, bingung dengan apa yang baru disaksikannya, pencabut nyawa yang baru saja kehilangan nyawa kini menatap di kejauhan dengan raut muka yang begitu mengerikan, benar-benar siap melahap nyawa.

Tak mau berlarut, Nagatamala mengalihkan pandangannya dari sang Maut, mendesis kemudian membenamkan dirinya ke dalam tanah, masih dalam rupa naga. Yamadipati masih bergeming, berdiri di tempatnya sambil matanya bergerak ke kanan ke kiri, menerka-nerka darimana akan munculnya sang Naga. Kiri, kanan, depan, lalu memutar tubuhnya ke belakang, ia hanya menemukan puing-puing lantai yang hancur dipijaknya. Tiba-tiba ia melompat tinggi, menghindari getaran halus di bawah kakinya. Dengan tubuh masih melayang di udara, tiba-tiba atap balairung runtuh. Dengan sigap Yamadipati memutar badannya dan mendarat berugilng-guling menghidari reruntuhan.

Belum sempat membenarkan posisi berdiri, tiba-tiba Yamadipati sudah dikelilingi taring-taring sebesar tubuhnya. Taring-taring itu muncul dari dalam tanah, kemudian mengatup dengan cepat, mengurungnya dari segala penjuru. Rupanya itu mulut Nagatamala dalam rupa naga yang amat besar. Kesempurnaan aji Nagarupa milik Nagatamala rupanya tidak diperhitungkan Yamadipati. Nagatamala berhasil mengurung Yamadipati dalam mulutnya, kemudian menggiringnya dengan segera ke dalam kerongkongannya yang masih berada dalam tanah.

Suasana hening, Nagatamala dalam rupa naga yang amat besar masih mengatupkan mulutnya ke arah langit. Sementara Mumpuni masih gemetar, lemah di perdudukannya di sisi singgasana hijau jamrud. Setelah beberapa saat, Nagatamala masih belum kembali ke wujud semula. Ada yang salah, matanya bergerak kesana kemari, berputar tak tentu arah. Disusul dengan muntah darah, Nagatamala menyemburkan sesuatu dari mulutnya. Yamadipati berlutut berlumur darah, sambil tangan kananya menggenggam rencongnya tersayang.

Darah terus menyembur dari mulut Nagatamala, sembari ia berubah wujud kembali ke wujud dewanya, tapi masih memasang sisik hijaunya untuk bertahan dari serangan Yamadipati berikutnya. Keduanya terluka, saling menatap dalam posisi berlutut. Yamadipati kesulitan bergerak, lantaran racun dari sang Naga menjalari tiap jalur darahnya. Sebagai pemeran perang, keduanya tahu pertarungan akan selesai pada serangan berikutnya. Nagatamala berdiri dengan sisa kekuatannya, mengerahkan semua darah naga pada wujudnya yang sekarang. Yamadipati yang tak bisa menembus sisik Nagatamala, bulat memutuskan untuk mengeluarkan pusaka kematian; Kaladhandha.

“Jangan Kanda! Jangan Kanda gunakan pusaka itu!”

Mumpuni dengan berani berdiri dan berlari menuju Nagatamala. Tapi terlambat, Kaladhandha sudah terlontar ke arah Nagatamala yang terpaku menatap kematian. Jarak Mumpuni dan Nagatamala hanya tinggal beberapa jengkal sedangkan Kaladhandha sudah melesat entah sampai mana. Tiba-tiba cahaya keemasan yang menyilaukan menyeruak, menerangi balairung Saptapratala yang temaram. Bahkan Yamadipati terpaksa menutup matanya yang hampir-hampir tak pernah berkedip.

“Cukupkan sudah seteru kalian!” Suara yang lembut dan kebapakan menyusul saat cahaya keemasan mulai redup. Batara Narada, pemberi segala ajian dan penyampai pesan, turun di hadapan ketiganya. Dengan keanggunan dalam ketegasan dan kebijaksanaan, Batara Narada melerai dua dewa yang berseteru.

“Aku tahu masalah ini berpangkal, ini juga, adalah sebuah takdir. Batara Yama, relakanlah istrimu, Mumpuni. Lihatlah seberapa teguhnya ia di sisi Nagatamala bahkan saat dirimu, sang Maut, siap melahap jiwa-jiwa yang dipandangnya.”

Hati Yamadipati remuk redam, mendengar hal itu dari Nagatamala dan Mumpuni saja sudah membuat matanya nanar sekaligus membara, menguapkan air pada mata nanarnya. Kini Batara Narada sendiri yang memintanya, kebijakan Narada yang tiada dua menyatakan perpisahannya yang pahit dengan Mumpuni. Tanpa berkata lanjut, Batara Yama melesat ke langit-langit, menembus lorong-lorong goa bawah tanah secepat kilat, meninggalkan Mumpuni yang sendu medekap Nagatamala yang merintih perih.

“Bahkan melarangmu pun aku tak sempat.” Batara Narada sudah ada di samping Yamadipati dalam sekejap mata. “Kenapa kau lencengkan Kaladhandha itu , wahai Batara Yama?”

“Apakah ini pertanyaan yang harus kujawab untuk seorang bijak sepertimu, wahai Batara Narada?” Batara Narada membalas dengan senyum, kemudian bayangnya menipis, setipis angin, dan lenyap.

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

Yamadipati meraung sekencang-kencangnya di langit pertama. Berusaha melupakan sosok Mumpuni yang sempat mengisi hatinya. Hatinya sudah kering itu terus bertanya-tanya, kenapa. Anggukan Dewi Mumpuni dulu rupanya hanya sekedar gerakan dagu, hanya sebatas segan pada bapaknya, Batara Guru. Yamadipati tak pernah memiliki hati Mumpuni, tidak bahkan selama ribuan kali Surya beredar selama ini.

Batara Yama tak lagi kembali ke Hargodimulah. Kahyangan itu kini hanya taman tanpa bunga. Kalaupun kembali, hanya sebatas membasuh kaki, dirinya kini lebih memilih berkelana. Menjalankan tugas di Arcapada dan selalu bersinggah di Yamaloka, kembali mengawas Naraka yang dulu hanya sesekali ia datangi. Matanya makin kian enggan berkedip, karena setiap bola matanya perih, nanar matanya selalu bisa menjadi obat mata. Tapi tidak dengan hatinya. Mata nanar itu, asalnya dari duka hati.

***

Iklan

5 thoughts on “Yamadipati (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s