Jaman Mesin Kotak

Lagi-lagi, setiap berbincang dengan si Mbah di teras surau, matanya mengawas jauh. Jauh sekali, ke tempat bernama masa lalu. Si Mbah memang suka membandingkan masa lalu dengan kini, bukan mengeluh, tapi menyesal. Menyesal, kenapa mudanya tak bisa melawan jaman, tak bisa membuat jaman. Katanya, kawula sekarang ya anaknya jaman sekarang. Jaman sekarang itu dibuat orang tua, katanya. Terakhir bincangnya padaku, (lagi-lagi) bedanya dulu dan sekarang, tentang kata-kata, mata, dan telinga (serta hati).

Singkatkan saja tutur kata si Mbah yang panjangnya lebih dari 2 jam sekian belas menit. Biarkan aku cerita dengan kata-kataku sendiri dan dirimu dengan telinga dan matamu sendiri. Sebagai catatan, kata-kataku ini tak lepas dari pengaruh hipnosis nostalgia si mbah. Maka jangan heran, aku pun bercerita seperti si Mbah, mata yang mengawang jauh ke belakang dan hati yang tersumpal sesal.

Benar, melihat masa-masa dulu saat kata-kata disampaikan selugas dan sesederhana mungkin. Ada masanya dulu saat bibir sering bercakap-cakap tentang macam-macam, tanpa perlu jari-jari yang lebih asik memijit keyboard, mengelus layar sentuh, atau menggelitik tombol-tombol mesin bentuk persegi lainnya. Ada masanya dulu, ketika bibir ini bersenyum lengkung, tanpa perlu bantuan titik dua disusul tutup kurung. Ada masanya dulu mulut ini melantun lagu-lagu permainan, tanpa perlu musik cinta yang mendayu-dayu. Ada masanya dulu tangan ini menarik ketapel, tanpa perlu memijit-tahan tombol kiri si “tikus” yang melontar burung pada babi. Ada masanya dulu pinggang ini bergoyang riang, tanpa perlu gambar-gambar bergerak lewat pesan listrik. Ada masanya dulu telinga ini bising oleh celoteh orang kanan-kiri, tanpa ada bunyi tatitut, nitnutnitnut, tulililit, atau tuing-tuing dari mesin kotak yang disusul dengan sepi atau tawa sendiri.

Ada masanya dulu… Ah dulu… Banyak sekali yang dulu-dulu, padahal umurku baru seperempat umur si Mbah. Teringat kawan-kawan sepermainan dulu, kini hanya berbalas kata lewat tulisan. Tanpa mata yang bertatapan, tanpa telinga yang mendengarkan, jangan-jangan tanpa hati yang pengertian? Oh tidak, lihat juga orang-orang itu! Muda-muda yang duduk sendiri-sendiri di halte, yang berjalan tunduk-tunduk, yang sedang naik angkot senyum sendiri, dan sebagainya, dan sebagainya. Semuanya tunduk, sedang jemarinya asik menggelitik mesin kotak. Oh, mesin kotak!

BRRRR! BRRR! Mesin kotak punyaku bergetar.

“Metz ult4h y4h,  cm0Ga pjg umr & ceh4t 5l4lu. Luph U.”

BRRRR! BRRRR!

Puluhan pesan bernada sama dengan kode aneh yang tak jauh beda menyusul masuk.
Oh, tidak! Penyusup! Penyusup mengirim kode aneh lewat mesin kotakku!

Aku korban, korban jaman… Jaman ketika percakapan nyata harganya mahal. Ah! Maafkan kami peradaban, kami makan umpan jaman. Apakah sudah saatnya bilang “Selamat datang peradaban mesin”? Tidak, aku(kita dan kami)lah yang akan merebut jaman. Selamat datang kembali peradaban manusia.

Iklan

One thought on “Jaman Mesin Kotak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s