Syair untuk Maimunah (5)

Sisa hari itu dilewati tanpa kata-kata. Dari Ashar sampai Isya hanya ada salam pulang pergi mau ke surau, itu pun dijawab sekenanya oleh yang tinggal di rumah. Dua cahaya lampu templok menerangi dua kamar malam itu. Radio yang biasanya berbunyi pelan-pelan sekarang sama sekali diam. Daya baterainya habis, dengan segala kericuhan siang hari tadi, tak ada yang ingat untuk menjemurnya di atas genteng. Maimunah duduk sendiri di atas ranjang, memandang kosong.

Bosan menunggu orang-orang yang pergi ke surau, tangan Maimunah meraba-raba surat kabar di meja kerja suaminya. Membaca-baca, karena malam itu ia tak bisa mendengar siaran radio kesukaannya. Tangannya langsung membuka halaman yang di lipat suaminya, sebuah halaman khusus cerpen dan puisi. Dibacanya baris-baris dari puisi yang tertulis di halaman itu dibawah temaram lampu teplok.

Wahai muslimah,
dirimu bukanlah Khadijah,
atau Aisyah.
Tetap saja, kau tokoh sejarah.
 
Wahai muslimah,
Kayamu bukan karena emas melimpah,
tapi karena ringanmu bersedekah
Cantikmu bukan di wajah,
tapi kerudungmu yang terjun sampai bawah.
Cerdasmu bukan karena sekolah,
tapi akhlakmu yang pemurah.
 
Wahai muslimah,
memang dirimu bukanlah Khadijah,
atau Aisyah
tapi aku juga bukan Rasulullah,
hanya lelaki pongah!
 
Terima kasih wahai muslimah,
menerima pinanganku yang murah.
Terima kasih wahai muslimah
mengijinkanku menuntunmu ke Jannah.
 

Untuk istriku, Maimunah

 

Matanya merah, tapi bukan karena api lampu teplok yang bergoyang dalam gelap malam.  Matanya merah, karena air mata yang mengalir di kiri dan kanan matanya. Benar-benar dalam teguran yang ia dapat. Tak habis pikir Maimunah, benda-benda bodoh yang dijadikan objek syair suaminya ternyata dirinya sendiri. Selama ini ia hanya mengeluh, mendengki. Cemburu pada goresan pena suaminya, yang sebenarnya adalah dirinya sendiri dalam bentuk yang lain; syair.

“Assalamualaykum!”

“Assalamualaykum!”

Salam berulang sekian kali di depan pintu, tapi tidak dijawabnya. Maimunah masih menangis, suara salam suami dan anaknya justru tambah membuka keran air matanya makin lebar. Teringat syair itu, adalah persembahan suaminya di hari mereka berijab qobul. Itulah syair penyempurna syair-syair pinangan suaminya.

“Dinda! Ada apa? Kenapa menangis?” Joko masuk membawa sebuah pisau dan sekantong plastik hitam.

“Tak apa Mas.” Maimunah sesengukan, berusaha mengeringkan air matanya dengan kerudungnya.

“Maafkan aku Dinda. Maafkan aku yang tak mampu memenuhi kebutuhan duniawimu. Radio pun tak mampu aku beli baterainya. Aku tahu! Maafkan aku Dinda.”

“Tidak Mas, akulah yang salah. Akulah yang tak sabar. Aku sudah seperti yang kau banggakan dulu. Aku bukan lagi muslimah yang pemurah.”

“Oh, Dinda… Tahukah engkau, di mataku kaulah syair terindah… Hatiku, engkaulah separuhnya.”

“Terima kasih Mas, ijinkan aku mengikutimu ke Jannah.”

Joko meletakkan pisau di tangan kanannya, kemudian duduk di samping Maimunah. Rapat. Maimunah menyambut sandaran suaminya. Badannya condong ke arah suaminya, berusaha rebah di pundaknya. Tapi terhenti, tehalang bungkusan plastik hitam di tangan kiri Joko.

“Apa ini Mas?” Romantisme rupanya memudar.

“Oh, ini. Ini buah markisa. Tito yang mengambilkannya untukmu dari kebun sekolahnya. Kau tahu Dinda? Saat itulah dia terjatuh.”

“Astagfirullah! Jadi tak hanya padamu, Mas, aku berprasangka. Tapi pada anak kita juga…” Maimunah kembali terisak.

“Sudahlah, Tito tak pernah marah pada orang tuanya, lebih-lebih pada ibunya. Dia hanya titip maafnya untukmu sepulang dari surau tadi.” Maimunah berdiri, segera menyeka air matanya dengan kerudungnya yang sudah setengah basah.

“Mau kemana Dinda?”

“Berhenti berlemah diri Mas. Besok Tito harus berangkat paling pagi, seragamnya belum kering, biar ku angin-anginkan dulu, moga-moga cepat kering. Kau makanlah Mas, ada sayur singkong.”

“Baiklah Dinda, biarkan aku yang angin-anginkan bajunya Tito. Kau jahitlah celananya, rupanya sobek juga bagian betis kirinya, jangan lupa kau tengok luka-lukanya.”

“Mas…”

“Seperti katamu Dinda, bagaimana aku mau menyampaikan pesan kehidupan di syairku, kalau aku enggan menjalani kehidupan? Inilah hidupku, keluargaku.”

Saling tersenyum. Keduanya pergi tanpa melanjutkan kata-kata, meninggalkan sekantong buah markisa dan sebilah pisau di atas meja. Pena itu telah menyampaikan pesannya. Gema dari mulut itu telah mencapai dasar-dasar relung hati suami istri. Lain kali tak hanya pena, tak hanya gerutu, tapi akan disertai pula dengan hati dan kesalingmengertian. Keduanya lebih baik kini, esok dan kemudian.

Iklan

4 thoughts on “Syair untuk Maimunah (5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s