Syair untuk Maimunah (4)

“Dasar anak nakal! Tak tahukah uang yang Emak pakai untuk seragammu ini?” Maimunah mengomel sambil tangannya meliuk-liuk memegang jarum yang terselip benang putih.

“Iya, Mak. Tito tak berani lagi.”

“Jadi kau sudah berani tadi?  Pernahkah Emak atau Bapak mengajarimu hal konyol seperti itu?”

Tito diam, memang dia bukan anak yang suka melawan. Sikut dan telapak tangan kanannya lecet, warna merah mengisi daerah lecet itu. Sementara mulutnya terkunci rapat, tangannya sibuk membersihkan luka dengan obat merah yang dipinjam dari tetangga.

“Sadarlah, Nak! Membeli makan pun kita kesulitan, kini kau rusak lagi satu-satunya seragammu! Pergi saja kau besok ke sekolah bertelanjang dada seperti itu!”

“Apalah ini, Dinda? Kenapa Tito tak berbaju?” Joko tiba menuntun sepedan ontelnya.

“Lihatlah ulah anakmu itu, Mas. Bukannya bikin prestasi malah bikin sensasi! Sudah pulang sekolah lebih awal, tak langsung pulang. Dia malah main ke kebun orang.”

“Sudahlah, Dinda. Inilah anak lelaki, suka petualangan. Kau langsung mandi sana Tito.”

Masih diam, Tito langsung masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Emak dan Bapaknya duduk berdua di kursi bambu di teras rumah mereka. Pintu rumah dibukanya dengan susah payah. Tak berani mengaduh ia saat tangannya terantuk daun pintu. Takut Emaknya bersungut lagi. Rumah itu kembali sunyi.

“Kalian ini selalu saja bekerja sama menyudutkanku.” Seperti biasa, Maimunah yang selalu memecah keheningan rumah tangga itu.

“Bukan begitu Dinda, hanya saja kita ini lelaki. Aku pernah muda menduluinya, tahulah aku rasa-rasa gejolak anak muda.”

“Ah! Gejolak muda, kau sudah lama kehilangan itu Mas, tahu apa kau tentang anak muda? Lagipula akulah yang selalu membersihkan tahinya, Mas. Tahulah aku bau busuknya anak itu.”

Suasana kembali lengang. Joko hanya diam, setengah menerima kata-kata istrinya. Walau sebenarnya dialah yang paling tahu sepak terjang Tito di sekolahnya selama ia masih SD, karena ia juga wali kelas Tito. Joko sampai lupa pulang membawa sepucuk harian lokal, yang isinya bukan hanya berita-berita kriminal atau kampanye pejabat daerah, tapi juga berita bahagia.

“Dinda, lihatlah…” Joko memaksakan senyum sambil mengangkat surat kabar yang dari tadi menyempil di ketiaknya.

“Apa itu Mas? Apa kau mau menyalon jadi lurah atau pak RT? Besar sekali gayamu, membeli koran ujung-ujung bulan seperti ini. Uang kita tipis, Mas.”

“Tapi ini beda, Dinda…”

“Oh! Sudahlah Mas, aku mau mencuci seragam anakmu yang penuh lumpur, tak mungkin dia bersekolah pakai seragam warna coklat. Besok bukan hari Sabtu! Makanlah, sudah kubuatkan sayur daun singkong. Habiskan saja, aku puasa hari ini.”

“Tapi Dinda…”

Kalimat Joko tercekal di tenggorokan. Pandangannya tersangkut pada keranjang bambu di sudut teras. Di dalam keranjang itu tampak beberapa sisir pisang yang sudah remuk tak berbentuk, seperti dihantam benda berat dan besar, atau mungkin hancur dikoyak kera atau bocah-bocah jahil. Mungkin inilah alasan kenapa istrinya marah-marah, ekonomi yang sulit, diperparah lagi dengan hancurnya penghasilan tambahan yang waktu tunggunya saja hampir 6 bulan.

“Wajar, memang sifat wanita.” Joko melihat punggung istrinya yang enggan berbalik.

“Itu lagi yang dipikirkan, tidakkah ia tahu capeknya aku di rumah yang ke sana kemari mengangkut ini itu? Pikirannya hanya syair-syair bodoh itu, tak lagi ia pernah merayuku, atau sekedar menanya kesehatanku. Dasar lelaki!”

Jari-jari kaki Maimunah mencengkram tali sandal, betisnya dilangkahkan ke sungai 100 meter dari rumah. Sementara dalam hatinya, Maimunah masih saja bersungut-sungut.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s