Syair untuk Maimunah (2)

“Dinda, kami berangkat dulu. Assalmu’alaykum.”

“Mak, Tito berangkat, Mak. Assalamu’alaykum.”

“Wa’alaykumsalam. Iya nak, pegang erat-erat pinggang bapakmu, jangan sampai kau jatuh. Tak ada seragam lagi yang kita punya!”

Mereka sudah cukup jauh, pesan Maimunah sepertinya sampai beberapa kata saja di telinga mereka. Tito melambaikan tangannya, sedangkan Joko kesusahan mengayuh sepeda ontelnya di atas tanah basah dan berlumpur. Subuh tadi hujan mengguyur cukup deras. Kumandang adzan yang sudah sayup itu tertelan berisik hujan yang menabrak genting. Hampir saja mereka kesiangan sekeluarga, kalau saja Maimunah tak terjaga karena mimpinya; periuk nasi sudah kosong.

Untunglah, karung beras masih tersisa dua takar, cukup untuk makan suami dan anak untuk sehari ini. Tempe dan tahu kemarin juga masih ada beberapa potong, dua butir telur masih sempat ia tukar dengan selembar Batu Nias tadi pagi. Sore ini ia tinggal mengambil beberapa helai daun singkong dari kebun untuk makan malam. Seharusnya pisangnya juga sudah berbuah, walau cuma tiga pohon, setandan pisangnya bisa ditukar dengan selembar Sasando dan Batu Nias, sementara satu sisirnya saja bisa untuk mengganjal perut dua hari. Begitulah pekerjaan Maimunah setiap harinya. Selain kerja serabutan di rumah para tetangga, Maimunah dengan cermat menghitung kebutuhan perut keluarganya.

“Hari ini, setidaknya harus dapat selembar Cut Nyak Dien. Di dompet masih ada tujuh lembar Batu Nias dan dua lembar Orang Utan, cukup untuk beli telur tiga hari lagi. Beras, tahu, tempe, bayam, gula…”

Maimunah sibuk menghitung masuk dan keluarnya lembar-lembar uang. Ia memang tak pernah menyebut nominal uangnya, selain untuk menyingkirkan prasangka yang tidak-tidak mengapa tak bertambah juga uang di tangannya, hal itu ia lakukan sebagai hiburan pula. Di saat suaminya sibuk mengajar sebagai guru honorer di kampung sebelah dan anaknya menuntut ilmu seharian, teman Maimunah hanya sebuah radio usang dan lembar-lembar bergambar yang harus dia jaga.

Untuk urusan perut anaknya, Maimunah tidak pernah mau kompromi. Gizinya harus dicukupi, maka dicukup-cukupkan lembar-lembar bergambar itu agar selalu siap sedia ditukarkan dengan lauk pauk sumber protein –yang katanya penting untuk pertumbuhan. Di hari-hari tertentu, Maimunah menggunakan kelebihan tabungannya untuk sekedar membeli beberapa ratus gram daging ayam. Hanya untuk Tito, anaknya semata wayang. Ia tak mau anaknya dipandang sebelah mata seperti emaknya yang cuma tamatan SD, ia mau anaknya menduduki kursi kuliah, melebihi bapaknya yang lulusan SMA.

Usai menghitung-hitung dan mecocokkan lembar-lembar bergambar dengan deret angka-angka yang tergantung di paku berkarat, Maimunah bersiap berangkat ke kebun warisan bapaknya. Bukan kebun sebenarnya, hanya sepetak tanah bekas rumah bapakanya yang sudah lama diratakan. Panjangnya hanya 10 meter dan lebarnya tak lebih 5 meter. Setidaknya dia bisa menanam macam-macam buah dan singkong, untuk sekedar pangan pribadi atau sumber uang tambahan.

“Astagfirullah!” Jerit Maimunah seketika menginjakkan kakinya tak jauh dari pagar kebun.

***

Iklan

2 thoughts on “Syair untuk Maimunah (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s