Syair untuk Maimunah (1)

“Maaf, Mas! Lembar Cut Nyak Dien kita yang terakhir aku pakai seragam anakmu.” Setengah membanting Maimunah menaruh secangkir kopi hangat di meja kerja suaminya. Sementara suaminya sedang asik mecorat-coret kertas yang sudah penuh dengan huruf tegak sambung yang khas.

“Terima kasih Dinda. Sabarlah menunggu, lain kali kita akan minum sirop sari markisa kesukaanmu itu.” Joko menyahut tanpa sedikit menoleh. Matanya lebih asik berputar-putar pada ujung pena, hanya sesekali mengarah ke selembar kertas di putaran rol mesin ketik yang berumur.

“Tong kosong nyaring bunyinya! Tak lelahkah engkau bersuara di sana sini, menulis kata-kata yang tak ada orang bisa mengerti. Iyalah, sudah disusun saja jelek, tambah pula sok-sok kau bubuhi pelajaran hidup.”

“Tak kupungkiri, kepandaianku merangkai kata tak lebihnya anak sepuluh tahun yang belajar puisi baru. Namun kutepis pula kata-kataku sekedar bualan. Itu tetaplah sebuah pesan, meski asalnya dari mulut tong sampah. Tahukah kau, hanya seorang bijak yang mengambil hikmah dari setiap hal, tak terkecuali dari tong sampah seisinya. Maka biarkan aku dengan penaku, biarkan aku tau masih ada satu dua orang bijak yang memandang.”

“Seandainya pun ada seorang bijak, mana mau ia melihat tulisanmu! Sadarlah, kau hanya menertawakan dirimu sendiri.”

“Ah, maka cukuplah. Kuperhatikan kaulah yang paling menghargai tulisan sampah ini. Bagiku, kau yang melihatnya juga bukan hal yang buruk.”

“Ah, dasar! Seandainya kau sadar, tulislah beberapa bait sayang untukku! Bukan benda-benda bodoh yang kau jadikan puisi-puisi itu!” Gerutu Maimunah dalam hati, mengawali kesunyian yang panjang. Suami istri itu diam seribu bahasa, kecuali pena yang masih bergerak tak terlihat, mencorat-coret kertas:

“Sungguh! Tak ada telinga yang lebih pantas mendengar syairku, tak ada mata yang lebih baik membaca puisiku. Tapi tak kusangka, tidak ada lidah yang begitu pedas mengatai goresan penaku. Kuharap separuh hatimu masih separuh hatiku, duhai istriku.”

“Sudahlah!” Keheningan pecah. “Aku mau tidur. Kau juga tidurlah, Mas. Besok Tito harus ikut upacara bendera, besok hari pertama dia berseragam biru putih.”

            Joko menghela napas dalam dan panjang. Sementara matanya sudah perih dan mulai meredup. Diambilnya secangkir kopi yang sudah menjadi dingin ditiup angin malam –mungkin karena perasaanya juga. Matanya menyipit, ditambah batuk pula. Bukan tak biasa dengan kopi buatan istrinya, hanya saja kopi malam itu lebih-lebih dari biasa rasanya. Pahit!

            Ia bukan pecinta kopi pahit, meski demikian tak pernah mengeluh juga tiap malam Joko minum kopi  hambar. Tapi sekejap kemudian ia memakluminya. Matanya yang lelah itu menerawang ke sudut kamar ukuran empat meter persegi itu. Sebuah slip gaji tampak menggantung di sebuah gantungan paku berkarat. Kemudian diteguknya secangkir kopi pahit itu sampai habis. Tak ada uang, maka tak ada gula.

            Api lampu teplok yang temaram ditiupnya padam. Joko menyusul istrinya ke atas kasur, ikut meringkuk. Istrinya didekap ala kadarnya, menahan serangan gerilya nyamuk-nyamuk dan hawa dingin yang menusuk. Malam itu berlanjut tanpa cengkrama atau kisah-kisah keluh kesah suami istri. Yang satu hanya sebatas bibir, yang satu sebatas pena. Sungguh, sebenarnya hati keduanya terpaut rapat, hanya saja sepertinya sekedar bibir dan pena tak mampu menunjukkannya.

***

Iklan

One thought on “Syair untuk Maimunah (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s