Butir Nasi

Meja makan itu tampak lengang, hanya ditempati sebuah piring keramik putih yang kontras dengan motif mawar merah yang bertengger di tepiannya. Tak lupa di atas piring itu, bersilang sendok dan garpu stainless steel. Seluruhnya basah, ujung sendok dan garpu serta permukaan piring keramik itu. Basah oleh minyak dan kuah sayur, mungkin juga bekas-bekas air liur seorang pelanggan kelaparan.

Tak menunggu lama, kibasan sayap serangga mulai terdengar di sana sini. Lalat-lalat meliuk melingkar di udara di atas piring. Salah satunya kemudian mendarat di ujung sendok, mengusap-usap matanya yang besar dan bundar. Lalat itu bergerak ke ujung sendok, loncat hinggap degan perlahan. Sejumlah bayangan putih memantul di bola matanya, masing-masing tampak persis. Bayangan itu, sebutir nasi yang utuh, tersisa tak termakan.

Nasi itu menempel tepat di ujung garpu. Kejatuhannya ditahan oleh bola kuah sayur yang rupanya mampu juga mengikat bahan logam dengan karbohidrat. Tapi tak lama, nasi itu segera jatuh, menyentuh permukaan piring yang masih basah oleh kuah dan minyak, menciptakan riak yang hampir tak terlihat. Seketika pula, seekor lalat yang sudah mengawasinya mengubah pijakannya, lebih dekat kini. Sementara, riakan kuah masih saling menyusul, menjadi latar pertunjukkan lalat dengan nasi incarannya.

Gelombang riak benar-benar hilang, mata seekor lalat itu masih memincing kepada nasi. Waktu serasa melambat bagi keduanya, namun kembali semakin cepat dan cepat. Bukan ke depan, tapi ke belakang…

Terik matahari memantul dalam warna kuning keemasan. Warna cantik yang dipantulkan oleh puluhan heltar hamparan padi milik sekelompok tani di antah berantah. Digerakkan angin semilir, tiap tangkai padi menari-nari bersama bulir-bulir yang dikandungnya. Sambil merunduk malu-malu menyambut para petani bercaping yang menjinjing arit, ani-ani, nampan, dan berupa-rupa alat pemanen yang digotong. Tak lupa pelengkap senyum yang tersimpul pada bibir para petani. Tak terkira rasanya menanti arit-arit petani mengayun, menebas mereka seikat demi seikat. Sementara batang yang masih sedikit hijau harus menunggu sedikit lebih lama ketika batang yang lain dijemput dengan ani-ani. Ia disana, sebutir nasi itu, ikut berdendang hikmat dalam suka cita panen raya. Ah, betapa sejuknya angin sawah membelainya ketika ia masih berselimut sekam. Itu dulu, kenangan sebutir nasi itu sebelum dirinya berakhir di sebuah piring kosong kini.

Sebelumnya pula, sebutir nasi itu harus berjuang bersama temannya yang lain. Langit tak selalu ramah saat itu. Hujan badai menghembus angin ribut yang berusaha menundukkan mereka sebelum waktunya. Air hujan yang dimuntahkan semerta-merta seringkali menyapu perakaran. Pernah juga masanya, matahari yang menguji. Panasnya matahari mampu menguapkan air irigasi dan meretakkan bumi. Tak mau kalah pula burung-burung dan tikus-tikus kelaparan, atau babi-babi liar yang membuta kerap saja mengambil korban.

Ah, memang tak semuanya boleh merasakan kemegahan ini, gemerlapnya pesta panen raya. Sebutir nasi itu terus mengenangnya, detik-detik ketika setiap bulir berpisah dari batangnya, beradu fisik dengan gebotan yang dideret bersaf-saf. Kemudian semuanya berpadu dalam arak-arakan tarian alu. Dibumbungkan nampan, dan berimpitan dalam bakul yang menjadi persinggahan baru mereka. Itulah, laiknya upacara pendewasaan, bulir-bulir padi melepas kulitnya. Menjelma menjadi beras yang dengan penuh harap dapat tersaji di atas meja makan bersama lauk pauk dan sayur mayur. Disendok, dikunyah, ditelan.

Seketika kenangan sebutir nasi itu buyar, tangan seorang pramusaji menghalau lalat dan menyambar sendok garpu. Dengan beberapa sendokan, sebutir nasi itu dikumpulkan di tepi piring, bersama makanan lain yang rupanya juga disisakan pemakannya. Piring itu diangkat menuju gang sempit di belakang warung. Ah, tak rasa perjuanganya dulu, menghadapi mulut burung, mulut tikus. Tak karuan rasanya kini, bahkan tak cukup setelah melewati mulut wajan. Alih-alih masuk mulut manusia, sekarang di hadapannya ternganga mulut tong sampah.

Sebutir nasi itu merutuki nasib. Selain mulut tong sampah itu, akan disambut pula ia dengan mulut lalat -seandainya mereka pinya mulut- dan baiknya, mulut cacing. Sudahlah, ini lebih baik daripada harus memenuhi mulut manusia yang penuh dusta. Berdoa pun tidak, hanya dipenuhi bualan dan sumpah serapah. Cukuplah, biar sebutir nasi itu menyambut nasib, melebur kembali dengan pertiwi. Berharap tak lagi lahir sebagai padi.

Berselang waktu, entah berapa lama dirinya terkulai di dalam sana. Semuanya gelap, hanya sesekali cahaya menyeruak masuk. Bukan cahaya harapan, hanya keputusasaan. Ya, untuk kesekian kali tong sampah itu dibuka, mendekap makanan yang –lagi-lagi– disisakan dalam perutnya yang gelap. Sebutir nasi itu, bersama sisa makanan lainnya, masih meringkuk. Tunduk pada nasib sementara makanan sisa yang lain terus bertumpuk. Dalam, dalam dan semakin dalam sebutir nasi itu tenggelam.

Setiap butir nasi dan kacang-kacangan, tiap helai jamur dan sayur mayur, tiap potong buah dan lauk pauk, serta makanan lain yang dicampakkan. Seluruhnya mengutuk manusia yang tega membuang mereka tanpa alasan. Tidak, lebih parah lagi, adapun mereka dibuang, alasan manusia itu hanya karena ‘bosan’ atau ‘tidak suka’ atau alasan remeh temeh lainnya. Jika mereka punya lidah, pasti ramailah gang itu dengan hujatan dan sumpah serapah. Bagaimana lagi, sedangkan mereka yang benar-benar punya lidah enggan menghargai.

Lalu, di tengah sibuknya sebutir nasi itu merutuk dan mengutuk, dimensinya berguncang. Pijakannya jatuh, berputar balik dari atas ke bawah. Di susul seruak cahaya menyilaukan, sebuah sosok menantinya di depan mulut tong sampah yang rupanya telah dirubuhkan. Kini keduanya berhadapan, seorang bocah kurus berambut ikal degan penampilan lusuh, dan sebutir nasi itu. Terdiam, sementara bocah itu mengadahkan tangan. Masih tercengang sebutir nasi itu, sementara jari-jari tangan bocah itu mulai menyambar, mengapit tiap potong makanan yang dicampakkan di tong sampah.

Ya, bocah itu memakan mereka. Sejumput demi sejumput, sisa makanan itu berpindah perut. Tanpa bumbu tambahan, hanya beberapa tetes air mata untuk rasa asin dan sebuah simpul senyum penuh syukur untuk rasa manisnya. Bocah itu melahap habis seluruh sisa makanan hingga sebutir nasi terakhir yang hinggap di ujung telunjuknya. Sejenak, sebutir nasi itu dipandangi dulu oleh sepasang bola mata yang masih basah.

Hap! Lengkaplah sudah perjalanan hidup sebutir nasi. Tak berkesah lagi ia kalau-kalau jadi sampah atau tanah. Dirinya sekarang akan menjadi sebuah bagian kemuliaan dalam daging seorang anak manusia. Terpekur, si bocah tak lupa kembali bersyukur. Lagi, andai nasi itu punya lidah, maka bunyi dari lidah mereka berdua saat itu tentulah sama; kidung syukur yang terpanjat untuk sang Pencipta.

Iklan

One thought on “Butir Nasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s