Yamadipati (1)

Matanya menyipit, tapi selalu enggan untuk berkedip, tak peduli berapa silau kilatan-kilatan pelaknat itu, pelupuknnya hanya sekedar dilebar-redupkan. Bola matanya yang besar dan merah tetap mengawasi api Naraka yang berkobar-kobar, yang menyambar mulut-mulut pongah yang suka bersumbar, melelehkan emas dan perak di atas kulit orang-orang pelit, atau menghangusratakan jiwa-jiwa yang dulu haus darah. Betara Yamadipati, sang Maut, duduk bersila di atas pintu gerbang Naraka, ditemani abdi-abdi yang menuang air panas ke dalam cawan tengkorak, tentu saja, abdi-abdi yang juga selalu setia membantu tugasnya merobek jiwa dari raga para keturunan Manu.

“Aku bosan, menatap nista-nista para pendosa ini. Wahai abdiku, seringkah antara satu dari kalian menggunakan tangan kanan kalian?” Abdi-abdinya diam, suara mereka tenggelam dalam takut, atau sebenarnya tenggelam dalam kenyataan pahit bahwa kebanyakan mereka sudah menjadi kidal karena jarang menggunakan tangan kanannya untuk bertugas.

“Baiklah, pergilah beberapa dari kalian menghibur diri. Ada beberapa Brahman yang lembar hidupnya mau habis. Pergilah, gunakan tangan kanan kalian.”
Baca lebih lanjut

Jaman Mesin Kotak

Lagi-lagi, setiap berbincang dengan si Mbah di teras surau, matanya mengawas jauh. Jauh sekali, ke tempat bernama masa lalu. Si Mbah memang suka membandingkan masa lalu dengan kini, bukan mengeluh, tapi menyesal. Menyesal, kenapa mudanya tak bisa melawan jaman, tak bisa membuat jaman. Katanya, kawula sekarang ya anaknya jaman sekarang. Jaman sekarang itu dibuat orang tua, katanya. Terakhir bincangnya padaku, (lagi-lagi) bedanya dulu dan sekarang, tentang kata-kata, mata, dan telinga (serta hati).

Singkatkan saja tutur kata si Mbah yang panjangnya lebih dari 2 jam sekian belas menit. Biarkan aku cerita dengan kata-kataku sendiri dan dirimu dengan telinga dan matamu sendiri. Sebagai catatan, kata-kataku ini tak lepas dari pengaruh hipnosis nostalgia si mbah. Maka jangan heran, aku pun bercerita seperti si Mbah, mata yang mengawang jauh ke belakang dan hati yang tersumpal sesal.

Benar, melihat masa-masa dulu saat kata-kata disampaikan selugas dan sesederhana mungkin. Ada masanya dulu saat bibir sering bercakap-cakap tentang macam-macam, tanpa perlu jari-jari yang lebih asik memijit keyboard, mengelus layar sentuh, atau menggelitik tombol-tombol mesin bentuk persegi lainnya. Ada masanya dulu, ketika bibir ini bersenyum lengkung, tanpa perlu bantuan titik dua disusul tutup kurung. Ada masanya dulu mulut ini melantun lagu-lagu permainan, tanpa perlu musik cinta yang mendayu-dayu. Ada masanya dulu tangan ini menarik ketapel, tanpa perlu memijit-tahan tombol kiri si “tikus” yang melontar burung pada babi. Ada masanya dulu pinggang ini bergoyang riang, tanpa perlu gambar-gambar bergerak lewat pesan listrik. Ada masanya dulu telinga ini bising oleh celoteh orang kanan-kiri, tanpa ada bunyi tatitut, nitnutnitnut, tulililit, atau tuing-tuing dari mesin kotak yang disusul dengan sepi atau tawa sendiri.

Ada masanya dulu… Ah dulu… Banyak sekali yang dulu-dulu, padahal umurku baru seperempat umur si Mbah. Teringat kawan-kawan sepermainan dulu, kini hanya berbalas kata lewat tulisan. Tanpa mata yang bertatapan, tanpa telinga yang mendengarkan, jangan-jangan tanpa hati yang pengertian? Oh tidak, lihat juga orang-orang itu! Muda-muda yang duduk sendiri-sendiri di halte, yang berjalan tunduk-tunduk, yang sedang naik angkot senyum sendiri, dan sebagainya, dan sebagainya. Semuanya tunduk, sedang jemarinya asik menggelitik mesin kotak. Oh, mesin kotak!

BRRRR! BRRR! Mesin kotak punyaku bergetar.

“Metz ult4h y4h,  cm0Ga pjg umr & ceh4t 5l4lu. Luph U.”

BRRRR! BRRRR!

Puluhan pesan bernada sama dengan kode aneh yang tak jauh beda menyusul masuk.
Oh, tidak! Penyusup! Penyusup mengirim kode aneh lewat mesin kotakku!

Aku korban, korban jaman… Jaman ketika percakapan nyata harganya mahal. Ah! Maafkan kami peradaban, kami makan umpan jaman. Apakah sudah saatnya bilang “Selamat datang peradaban mesin”? Tidak, aku(kita dan kami)lah yang akan merebut jaman. Selamat datang kembali peradaban manusia.

(Untuk) Waktu, dan Yang Merajainya

Pada waktu,
yang putarnya melantakkan Mahameru.
Pada waktu,
yang ujungnya tiada tahu.
Pada waktu,
yang lalunya tak kan lagi bertemu.
Pada waktu,
yang hentinya mencabut ruhmu.

Duhai waktu,

Sungguh, betapa aku mendambamu,
yang sebab putarmu, kami bertemu.
Sungguh, harusnya aku melangkah maju,
menjemputmu di depan yang malu-malu.
Tapi sungguh, kakiku kelu,
meninggalkan waktu lalu penuh rindu.
Sungguh, betapa aku ingin mengurungmu waktu,
saat hentimu memisahnya denganku…

Wahai,

Demi Dzat yang menciptakan nama waktu,
ijinkan sahaya membunuh waktu,
yaitu waktu perindu yang dulu-dulu.

Demi Dzat yang bersumpah atas waktu,
ijinkan sahaya merangkul waktu,
yaitu waktu pecinta untuk saudaraku.

Demi Dzat yang mengancam dengan waktu,
ijinkan sahaya memeluk waktu,
yaitu waktu perobek ruh dari jasadku.

Syair untuk Maimunah (5)

Sisa hari itu dilewati tanpa kata-kata. Dari Ashar sampai Isya hanya ada salam pulang pergi mau ke surau, itu pun dijawab sekenanya oleh yang tinggal di rumah. Dua cahaya lampu templok menerangi dua kamar malam itu. Radio yang biasanya berbunyi pelan-pelan sekarang sama sekali diam. Daya baterainya habis, dengan segala kericuhan siang hari tadi, tak ada yang ingat untuk menjemurnya di atas genteng. Maimunah duduk sendiri di atas ranjang, memandang kosong.

Bosan menunggu orang-orang yang pergi ke surau, tangan Maimunah meraba-raba surat kabar di meja kerja suaminya. Membaca-baca, karena malam itu ia tak bisa mendengar siaran radio kesukaannya. Tangannya langsung membuka halaman yang di lipat suaminya, sebuah halaman khusus cerpen dan puisi. Dibacanya baris-baris dari puisi yang tertulis di halaman itu dibawah temaram lampu teplok.

Wahai muslimah,
dirimu bukanlah Khadijah,
atau Aisyah.
Tetap saja, kau tokoh sejarah.
 
Wahai muslimah,
Kayamu bukan karena emas melimpah,
tapi karena ringanmu bersedekah
Cantikmu bukan di wajah,
tapi kerudungmu yang terjun sampai bawah.
Cerdasmu bukan karena sekolah,
tapi akhlakmu yang pemurah.
 
Wahai muslimah,
memang dirimu bukanlah Khadijah,
atau Aisyah
tapi aku juga bukan Rasulullah,
hanya lelaki pongah!
 
Terima kasih wahai muslimah,
menerima pinanganku yang murah.
Terima kasih wahai muslimah
mengijinkanku menuntunmu ke Jannah.
 

Untuk istriku, Maimunah

 

Matanya merah, tapi bukan karena api lampu teplok yang bergoyang dalam gelap malam.  Matanya merah, karena air mata yang mengalir di kiri dan kanan matanya. Benar-benar dalam teguran yang ia dapat. Tak habis pikir Maimunah, benda-benda bodoh yang dijadikan objek syair suaminya ternyata dirinya sendiri. Selama ini ia hanya mengeluh, mendengki. Cemburu pada goresan pena suaminya, yang sebenarnya adalah dirinya sendiri dalam bentuk yang lain; syair.

“Assalamualaykum!”

“Assalamualaykum!”

Salam berulang sekian kali di depan pintu, tapi tidak dijawabnya. Maimunah masih menangis, suara salam suami dan anaknya justru tambah membuka keran air matanya makin lebar. Teringat syair itu, adalah persembahan suaminya di hari mereka berijab qobul. Itulah syair penyempurna syair-syair pinangan suaminya.

“Dinda! Ada apa? Kenapa menangis?” Joko masuk membawa sebuah pisau dan sekantong plastik hitam.

“Tak apa Mas.” Maimunah sesengukan, berusaha mengeringkan air matanya dengan kerudungnya.

“Maafkan aku Dinda. Maafkan aku yang tak mampu memenuhi kebutuhan duniawimu. Radio pun tak mampu aku beli baterainya. Aku tahu! Maafkan aku Dinda.”

“Tidak Mas, akulah yang salah. Akulah yang tak sabar. Aku sudah seperti yang kau banggakan dulu. Aku bukan lagi muslimah yang pemurah.”

“Oh, Dinda… Tahukah engkau, di mataku kaulah syair terindah… Hatiku, engkaulah separuhnya.”

“Terima kasih Mas, ijinkan aku mengikutimu ke Jannah.”

Joko meletakkan pisau di tangan kanannya, kemudian duduk di samping Maimunah. Rapat. Maimunah menyambut sandaran suaminya. Badannya condong ke arah suaminya, berusaha rebah di pundaknya. Tapi terhenti, tehalang bungkusan plastik hitam di tangan kiri Joko.

“Apa ini Mas?” Romantisme rupanya memudar.

“Oh, ini. Ini buah markisa. Tito yang mengambilkannya untukmu dari kebun sekolahnya. Kau tahu Dinda? Saat itulah dia terjatuh.”

“Astagfirullah! Jadi tak hanya padamu, Mas, aku berprasangka. Tapi pada anak kita juga…” Maimunah kembali terisak.

“Sudahlah, Tito tak pernah marah pada orang tuanya, lebih-lebih pada ibunya. Dia hanya titip maafnya untukmu sepulang dari surau tadi.” Maimunah berdiri, segera menyeka air matanya dengan kerudungnya yang sudah setengah basah.

“Mau kemana Dinda?”

“Berhenti berlemah diri Mas. Besok Tito harus berangkat paling pagi, seragamnya belum kering, biar ku angin-anginkan dulu, moga-moga cepat kering. Kau makanlah Mas, ada sayur singkong.”

“Baiklah Dinda, biarkan aku yang angin-anginkan bajunya Tito. Kau jahitlah celananya, rupanya sobek juga bagian betis kirinya, jangan lupa kau tengok luka-lukanya.”

“Mas…”

“Seperti katamu Dinda, bagaimana aku mau menyampaikan pesan kehidupan di syairku, kalau aku enggan menjalani kehidupan? Inilah hidupku, keluargaku.”

Saling tersenyum. Keduanya pergi tanpa melanjutkan kata-kata, meninggalkan sekantong buah markisa dan sebilah pisau di atas meja. Pena itu telah menyampaikan pesannya. Gema dari mulut itu telah mencapai dasar-dasar relung hati suami istri. Lain kali tak hanya pena, tak hanya gerutu, tapi akan disertai pula dengan hati dan kesalingmengertian. Keduanya lebih baik kini, esok dan kemudian.

Syair untuk Maimunah (4)

“Dasar anak nakal! Tak tahukah uang yang Emak pakai untuk seragammu ini?” Maimunah mengomel sambil tangannya meliuk-liuk memegang jarum yang terselip benang putih.

“Iya, Mak. Tito tak berani lagi.”

“Jadi kau sudah berani tadi?  Pernahkah Emak atau Bapak mengajarimu hal konyol seperti itu?”

Tito diam, memang dia bukan anak yang suka melawan. Sikut dan telapak tangan kanannya lecet, warna merah mengisi daerah lecet itu. Sementara mulutnya terkunci rapat, tangannya sibuk membersihkan luka dengan obat merah yang dipinjam dari tetangga.

“Sadarlah, Nak! Membeli makan pun kita kesulitan, kini kau rusak lagi satu-satunya seragammu! Pergi saja kau besok ke sekolah bertelanjang dada seperti itu!”

“Apalah ini, Dinda? Kenapa Tito tak berbaju?” Joko tiba menuntun sepedan ontelnya.

“Lihatlah ulah anakmu itu, Mas. Bukannya bikin prestasi malah bikin sensasi! Sudah pulang sekolah lebih awal, tak langsung pulang. Dia malah main ke kebun orang.”

“Sudahlah, Dinda. Inilah anak lelaki, suka petualangan. Kau langsung mandi sana Tito.”

Masih diam, Tito langsung masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Emak dan Bapaknya duduk berdua di kursi bambu di teras rumah mereka. Pintu rumah dibukanya dengan susah payah. Tak berani mengaduh ia saat tangannya terantuk daun pintu. Takut Emaknya bersungut lagi. Rumah itu kembali sunyi.

“Kalian ini selalu saja bekerja sama menyudutkanku.” Seperti biasa, Maimunah yang selalu memecah keheningan rumah tangga itu.

“Bukan begitu Dinda, hanya saja kita ini lelaki. Aku pernah muda menduluinya, tahulah aku rasa-rasa gejolak anak muda.”

“Ah! Gejolak muda, kau sudah lama kehilangan itu Mas, tahu apa kau tentang anak muda? Lagipula akulah yang selalu membersihkan tahinya, Mas. Tahulah aku bau busuknya anak itu.”

Suasana kembali lengang. Joko hanya diam, setengah menerima kata-kata istrinya. Walau sebenarnya dialah yang paling tahu sepak terjang Tito di sekolahnya selama ia masih SD, karena ia juga wali kelas Tito. Joko sampai lupa pulang membawa sepucuk harian lokal, yang isinya bukan hanya berita-berita kriminal atau kampanye pejabat daerah, tapi juga berita bahagia.

“Dinda, lihatlah…” Joko memaksakan senyum sambil mengangkat surat kabar yang dari tadi menyempil di ketiaknya.

“Apa itu Mas? Apa kau mau menyalon jadi lurah atau pak RT? Besar sekali gayamu, membeli koran ujung-ujung bulan seperti ini. Uang kita tipis, Mas.”

“Tapi ini beda, Dinda…”

“Oh! Sudahlah Mas, aku mau mencuci seragam anakmu yang penuh lumpur, tak mungkin dia bersekolah pakai seragam warna coklat. Besok bukan hari Sabtu! Makanlah, sudah kubuatkan sayur daun singkong. Habiskan saja, aku puasa hari ini.”

“Tapi Dinda…”

Kalimat Joko tercekal di tenggorokan. Pandangannya tersangkut pada keranjang bambu di sudut teras. Di dalam keranjang itu tampak beberapa sisir pisang yang sudah remuk tak berbentuk, seperti dihantam benda berat dan besar, atau mungkin hancur dikoyak kera atau bocah-bocah jahil. Mungkin inilah alasan kenapa istrinya marah-marah, ekonomi yang sulit, diperparah lagi dengan hancurnya penghasilan tambahan yang waktu tunggunya saja hampir 6 bulan.

“Wajar, memang sifat wanita.” Joko melihat punggung istrinya yang enggan berbalik.

“Itu lagi yang dipikirkan, tidakkah ia tahu capeknya aku di rumah yang ke sana kemari mengangkut ini itu? Pikirannya hanya syair-syair bodoh itu, tak lagi ia pernah merayuku, atau sekedar menanya kesehatanku. Dasar lelaki!”

Jari-jari kaki Maimunah mencengkram tali sandal, betisnya dilangkahkan ke sungai 100 meter dari rumah. Sementara dalam hatinya, Maimunah masih saja bersungut-sungut.

***

Syair untuk Maimunah (3)

“Assalamualaykum Warahmatullahi wa barakatuuh!”

Suara panjang murid-murid SD mengakhiri jam sekolah mereka. Hiruk pikuk dan canda tawa kembali memenuhi seluruh lorong teras berlapis tanah di SD baru itu. Joko yang mengajar Bahasa Indonesia dan Matematika sebagai guru honorer tak kalah senang. Seperti hari-hari sebelumnya, ia selalu menumpang baca beragam surat kabar di kantor Kepala Sekolah, kantor kelurahan dan terkadang rumah Pak RT. Surat pengembalian yang diterimanya minggu lalu berkurang satu, artinya ada kemugkinan karyanya boleh berpose di salah satu surat kabar itu. Belasan karyanya sudah ia kirimkan ke berbagai surat kabar, seperti halnya seluruh seniman di muka bumi –pikir Joko setidaknya— pemuatan karyanya tersebut merupakan apresiasi besar atas karyanya.

“Waalaykumsalam, jangan lupa kumpulkan tugas kalian membuat dua bait puisi besok lusa. Terima kasih.” Joko menutup akhir kelas.

Melihat murid-muridnya di kelas 3 SD mengingatkan Joko kepada Tito anaknya. Setelah beberapa hari mengikuti masa pengenalan, ini hari pertama anaknya berseragam biru putih. Rasanya baru kemarin ia menerima surat kelulusan Tito dari pihak sekolah tempatnya kini mengajar. Tak sekedar lulus, Tito berhasil menjadi yang terbaik di sekolahnya. Walau hanya bersekolah di pinggiran desa, ia dengar nilai Tito bisa dijajarkan dengan peringkat 40 besar di tingkat kabupaten. Entah dari mana rekan-rekannya tahu hal itu.

Joko mengayuh pulang sepedanya yang kini ringan tanpa Tito yang duduk di boncengannya. Sepi rasanya, hari ini dan seterusnya Tito akan pulang sendiri, karena jalan mereka arahnya berlawanan. Setiap melewati toko-toko sembako, sempat terbesit keinginannya untuk membeli gula barang setengah kilo, sudah lama rasanya ia tidak minum kopi hitam manis. Tapi pedalnya ia kayuh lebih kencang, langsung menuju rumah Pak RT setelah bermacam surat kabar di kantor kepala sekolah dan kelurahan tidak memuat karyanya.

Syair untuk Maimunah (2)

“Dinda, kami berangkat dulu. Assalmu’alaykum.”

“Mak, Tito berangkat, Mak. Assalamu’alaykum.”

“Wa’alaykumsalam. Iya nak, pegang erat-erat pinggang bapakmu, jangan sampai kau jatuh. Tak ada seragam lagi yang kita punya!”

Mereka sudah cukup jauh, pesan Maimunah sepertinya sampai beberapa kata saja di telinga mereka. Tito melambaikan tangannya, sedangkan Joko kesusahan mengayuh sepeda ontelnya di atas tanah basah dan berlumpur. Subuh tadi hujan mengguyur cukup deras. Kumandang adzan yang sudah sayup itu tertelan berisik hujan yang menabrak genting. Hampir saja mereka kesiangan sekeluarga, kalau saja Maimunah tak terjaga karena mimpinya; periuk nasi sudah kosong.

Untunglah, karung beras masih tersisa dua takar, cukup untuk makan suami dan anak untuk sehari ini. Tempe dan tahu kemarin juga masih ada beberapa potong, dua butir telur masih sempat ia tukar dengan selembar Batu Nias tadi pagi. Sore ini ia tinggal mengambil beberapa helai daun singkong dari kebun untuk makan malam. Seharusnya pisangnya juga sudah berbuah, walau cuma tiga pohon, setandan pisangnya bisa ditukar dengan selembar Sasando dan Batu Nias, sementara satu sisirnya saja bisa untuk mengganjal perut dua hari. Begitulah pekerjaan Maimunah setiap harinya. Selain kerja serabutan di rumah para tetangga, Maimunah dengan cermat menghitung kebutuhan perut keluarganya.

“Hari ini, setidaknya harus dapat selembar Cut Nyak Dien. Di dompet masih ada tujuh lembar Batu Nias dan dua lembar Orang Utan, cukup untuk beli telur tiga hari lagi. Beras, tahu, tempe, bayam, gula…”

Maimunah sibuk menghitung masuk dan keluarnya lembar-lembar uang. Ia memang tak pernah menyebut nominal uangnya, selain untuk menyingkirkan prasangka yang tidak-tidak mengapa tak bertambah juga uang di tangannya, hal itu ia lakukan sebagai hiburan pula. Di saat suaminya sibuk mengajar sebagai guru honorer di kampung sebelah dan anaknya menuntut ilmu seharian, teman Maimunah hanya sebuah radio usang dan lembar-lembar bergambar yang harus dia jaga.

Untuk urusan perut anaknya, Maimunah tidak pernah mau kompromi. Gizinya harus dicukupi, maka dicukup-cukupkan lembar-lembar bergambar itu agar selalu siap sedia ditukarkan dengan lauk pauk sumber protein –yang katanya penting untuk pertumbuhan. Di hari-hari tertentu, Maimunah menggunakan kelebihan tabungannya untuk sekedar membeli beberapa ratus gram daging ayam. Hanya untuk Tito, anaknya semata wayang. Ia tak mau anaknya dipandang sebelah mata seperti emaknya yang cuma tamatan SD, ia mau anaknya menduduki kursi kuliah, melebihi bapaknya yang lulusan SMA.

Usai menghitung-hitung dan mecocokkan lembar-lembar bergambar dengan deret angka-angka yang tergantung di paku berkarat, Maimunah bersiap berangkat ke kebun warisan bapaknya. Bukan kebun sebenarnya, hanya sepetak tanah bekas rumah bapakanya yang sudah lama diratakan. Panjangnya hanya 10 meter dan lebarnya tak lebih 5 meter. Setidaknya dia bisa menanam macam-macam buah dan singkong, untuk sekedar pangan pribadi atau sumber uang tambahan.

“Astagfirullah!” Jerit Maimunah seketika menginjakkan kakinya tak jauh dari pagar kebun.

***

Syair untuk Maimunah (1)

“Maaf, Mas! Lembar Cut Nyak Dien kita yang terakhir aku pakai seragam anakmu.” Setengah membanting Maimunah menaruh secangkir kopi hangat di meja kerja suaminya. Sementara suaminya sedang asik mecorat-coret kertas yang sudah penuh dengan huruf tegak sambung yang khas.

“Terima kasih Dinda. Sabarlah menunggu, lain kali kita akan minum sirop sari markisa kesukaanmu itu.” Joko menyahut tanpa sedikit menoleh. Matanya lebih asik berputar-putar pada ujung pena, hanya sesekali mengarah ke selembar kertas di putaran rol mesin ketik yang berumur.

“Tong kosong nyaring bunyinya! Tak lelahkah engkau bersuara di sana sini, menulis kata-kata yang tak ada orang bisa mengerti. Iyalah, sudah disusun saja jelek, tambah pula sok-sok kau bubuhi pelajaran hidup.”

“Tak kupungkiri, kepandaianku merangkai kata tak lebihnya anak sepuluh tahun yang belajar puisi baru. Namun kutepis pula kata-kataku sekedar bualan. Itu tetaplah sebuah pesan, meski asalnya dari mulut tong sampah. Tahukah kau, hanya seorang bijak yang mengambil hikmah dari setiap hal, tak terkecuali dari tong sampah seisinya. Maka biarkan aku dengan penaku, biarkan aku tau masih ada satu dua orang bijak yang memandang.”

“Seandainya pun ada seorang bijak, mana mau ia melihat tulisanmu! Sadarlah, kau hanya menertawakan dirimu sendiri.”

“Ah, maka cukuplah. Kuperhatikan kaulah yang paling menghargai tulisan sampah ini. Bagiku, kau yang melihatnya juga bukan hal yang buruk.”

“Ah, dasar! Seandainya kau sadar, tulislah beberapa bait sayang untukku! Bukan benda-benda bodoh yang kau jadikan puisi-puisi itu!” Gerutu Maimunah dalam hati, mengawali kesunyian yang panjang. Suami istri itu diam seribu bahasa, kecuali pena yang masih bergerak tak terlihat, mencorat-coret kertas:

“Sungguh! Tak ada telinga yang lebih pantas mendengar syairku, tak ada mata yang lebih baik membaca puisiku. Tapi tak kusangka, tidak ada lidah yang begitu pedas mengatai goresan penaku. Kuharap separuh hatimu masih separuh hatiku, duhai istriku.”

“Sudahlah!” Keheningan pecah. “Aku mau tidur. Kau juga tidurlah, Mas. Besok Tito harus ikut upacara bendera, besok hari pertama dia berseragam biru putih.”

            Joko menghela napas dalam dan panjang. Sementara matanya sudah perih dan mulai meredup. Diambilnya secangkir kopi yang sudah menjadi dingin ditiup angin malam –mungkin karena perasaanya juga. Matanya menyipit, ditambah batuk pula. Bukan tak biasa dengan kopi buatan istrinya, hanya saja kopi malam itu lebih-lebih dari biasa rasanya. Pahit!

            Ia bukan pecinta kopi pahit, meski demikian tak pernah mengeluh juga tiap malam Joko minum kopi  hambar. Tapi sekejap kemudian ia memakluminya. Matanya yang lelah itu menerawang ke sudut kamar ukuran empat meter persegi itu. Sebuah slip gaji tampak menggantung di sebuah gantungan paku berkarat. Kemudian diteguknya secangkir kopi pahit itu sampai habis. Tak ada uang, maka tak ada gula.

            Api lampu teplok yang temaram ditiupnya padam. Joko menyusul istrinya ke atas kasur, ikut meringkuk. Istrinya didekap ala kadarnya, menahan serangan gerilya nyamuk-nyamuk dan hawa dingin yang menusuk. Malam itu berlanjut tanpa cengkrama atau kisah-kisah keluh kesah suami istri. Yang satu hanya sebatas bibir, yang satu sebatas pena. Sungguh, sebenarnya hati keduanya terpaut rapat, hanya saja sepertinya sekedar bibir dan pena tak mampu menunjukkannya.

***