Selamat Datang dan Selamat Jalan!

Selamat datang kawan! Selamat datang di sebuah jalan bernama kehidupan!

Inilah jalan yang haraus kau -kita- tempuh ketika dirimu menginjak akil baligh. Yah, memang sebenarnya beberapa orang sudah menjalaninya lebih dulu -kau tahu- bahkan beberapa orang sudah menjalaninya sejak lahir.

Aku termasuk mereka yang duluan. Yah, tapi tidak seistimewa mereka, yang lebih dulu, maupun sepertimu, kawan, yang datang sesudahku. Baiklah, ijinkanlah aku memperkenalmu pada jalan ini. Sekali lagi, bukan apa-apa, ini hanya karena aku datang lebih dulu darimu. Kau tahu, kau pun harus melakukan ini -memeperkenalkan jalan- pada para pendatang sesudahmu, maka ingatlah saran dari teman barumu yang bersahaja ini.

Lihatlah jalan ini kawan! Jalan lebar yang penuh batu dan kabut debu. Di ujung jalan, ya lihatlah ke atas! Dapat kau lihat puncak sebuah gunung. Di gunung itu terdapat sebuah harta bernama impian. Itu, itulah tujuanmu, tujuan kita!

Teruslah berjalan maju, kawan! Tetapi berhati-hatilah, ada banyak kerikil tersebar di jalan. Kerikil yang seringkali membuatmu jatuh tersandung jika engkau lengah. Jangan khawatir, akan sakit memang rasanya, tapi kejatuhan itulah yang akan membuatmu belajar untuk bangkit dan lebih berhati-hati.

Selama perjalananmu nanti, akan kau temui pula banyak batu-batu yang amat besar. Batu itu bernama masalah. Batu itu akan menutup jalanmu, tapi jangan berbalik, teruslah maju. Hadapilah batu besar itu. Engkau dapat memilih, menghancurkannya atau melewatinya (engkau bisa mengambil jalan memutar, atau sederhana saja, memanjatnya). Tapi ketahuilah kawan, jika engkau mau bermurah hati menghancurkan batu itu, engkau mungkin telah memberi bantuan besar pada tiap orang yang akan melewati jalanmu.

Oh iya, tentang jalan ini, akan ada banyak liku dan persimpangan. Banyak di antara persimpangan itu yang akan menyesatkanmu atau bahkan menuntunmu kepada jalan penuh lubang bernama penyesalan. Namun seandainya engkau jatuh ke dalam lubang itu, janganlah menyerah. Karena sesungguhnya lubang itu bukanlah tempat berkubang, melainkan tempat yang butuh dipanjat.

Saranku, di jalan penuh simpangan dan kabut debu yang tebal ini, kawan, carilah satu atau dua teman. Tidak! carilah teman sebanyak yang kau bisa. Ditambah lagi lagi, terik dan hujan di sini yang seringkali tanpa ampun. Kuyakinkan dirimu, berlindunglah di bawah tempat teduh bernama persaudaraan, persahabatan –ukhuwah. Akan tetapi, kawan, kuingatkan engkau. Janganlah menyalahgunakan keteduhan itu. Engkau masih harus bergerak dan maju. Jangan terlena dengan hangatnya canda dan tawa. Lagipula, tidak semua temanmu akan memilih simpangan yang sama denganmu. Teruslah berjalan, di persimpangan berikutnya, mungkin akan engkau jumpai lagi orang-orang yang seperjalanan atau mungkin engkau akan ditinggalkan.

Jangan khawatir, tidak semua yang bersimpang jalan akan berhenti atau bahkan berbalik. Sebagian dari mereka masih memandang dan menuju puncak gunung yang sama –engkau tidak lupa tujuanmu bukan? Yah, termasuk aku…

Aku? Ya, aku akan mengambil jalan yang berbeda di persimpangan berikut. Aku takut hanya sebatas inilah bantuanku padamu, hanya sekedar nasihat yang mungkin sudah kau tahu. Aku tak bisa berada di sandingmu di teduhan itu –lagipula apa aku pantas. Tidak pula aku dapat menjadi orang yang selalu membantumu menyingkirkan kerikil ataupun menghancurkan batu-batu besar yang menghalang jalanmu. Mungkin tidak pula aku dapat berada di sisimu saat kau tersesat atau ketka kau terjerembab di dasar lubang. Namun ketahuilah, kata-kataku ini bukanlah yang terakhir. Kata-kata ini akan selalu terpanjat dalam tiap kidung doaku.

Ketahuilah, selama kita masih menatap puncak yang sama -entah harta apa yang ada sana- kita pasti akan bertemu lagi di persimpangan yang lain. Saat itu, setidaknya, aku yakin, aku sudah menjadi lebih kuat dan dapat membantumu lebih baik lagi.

Satu lagi, meskipun kita akan terus berusaha menggapai puncak itu, janganlah matamu terlalu terpaku padanya, ke atas. Tapi, seringlah menatap ke bawah, untuk sekedar menghindar dari kerikil yang berserak. jangan malu pula untuk melihat ke belakang, barang sebentar, untuk melihat jejak pengorbananmu. Jangan pula sekali-kali engkau lupa untuk menengok ke samping, kanan dan kiri, melihat teman-temanmu yang telah berbagi begitu banyak hal denganmu. Lalu, tataplah dengan tajam ke depan, menembus kabut yang menghalang pandang, melihat jutaan simpangan dan milyaran petualangan padanya.

Ah, satu lagi –baiklah, ini yang terakhir. Ingatlah, jika suatu saat engkau menemui jurang yang menganga lebar, sedang tujuanmu ada di seberangnya, amatilah! Amatilah jurang itu dengan secermat-cermatnya pengamatan! Mungkin saja itu tipuan, tipuan untuk memaksa mundur. Yah, kalaupun engkau mundur, kawan, tekadkanlah langkah mundur sebagai sebuah ancang-ancang untuk melangkah maju, melompat menyebrangi jurang. Memang, jurang-jurang itu memiliki tipu daya yang menciutkan nyali. Atau mungkin jurang itu menantangmu dengan mulutnya yang lebar dalam, agar engkau mengerahkan segala dayamu.

Yah, setelah semua pembicaraan ini, aku yakin kau merasa bosan -dan jengkel- tapi inilah caraku menunjukkan kasih… dan juga terima kasih.

Baiklah, kurasa aku tidak berhak memahanmu lebih lama lagi, pergilah ke perimpangan di depan, ambillah jalanmu. Aku akan mengambil jalanku, di belokan bernama kesepian.

Sampai jumpa, kawan!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s